Jaga Pilar

Azyumardi Azra: Aku Menulis maka Aku Ada

5 Mins read

Saya pertama kali mengenal sosok Azyumardi Azra sekitar tahun 1995 lewat harian Republika. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas dua SMU (Sekolah Menengah Umum), yang sebelumnya bernama SMA (Sekolah Menengah Atas) lalu berubah lagi menjadi SMA hingga sekarang. Sebagai seseorang yang bersekolah di kampung, bisa dibilang saya adalah salah satu, atau mungkin juga satu-satunya, siswa yang membaca harian Republika secara rutin kala itu di sekolah. Itu pun bukan karena tersedia di pustaka sekolah tapi saya beli di loper koran di terminal bus menuju pulang. Saat itu teman-teman saya di sekolah lebih memilih membaca harian lokal. Yang kebanyakan dicari pun adalah halaman olah raga.

Lewat harian yang saat didirikan sahamnya dimiliki oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesian (ICMI) dan umat Islam, saya mulai membaca pikiran Azra. Ia menulis banyak topik dan tajuk. Memang tidak semua tulisannya mampu saya cerna, tapi saya tidak bodoh-bodoh amat untuk memahami banyak artikel-artikel beliau berkat dua hal; pertama, konsistensi saya membaca tajuk harian Republika yang waktu itu dikenal dengan gaya penulisan sastrawi dan kedua, ketekunan saya menambah perbendaharaan kata lewat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang sudah saya miliki sejak duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Alhamdulliaah, saya bisa menyumbang satu tulisan untuk buku Karsa Untuk Bangsa, sebuah buku yang berisi testimoni dari rekan-rekan Pak Azra atau siapapun yang beroleh pengaruh intelektual beliau yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2022) menyambut 66 tahun Pak Azra. Azyumardi Azra adalah seorang inspiring trailblazer (perintis yang menginspirasi) dunia intelektualitas bagi banyak orang di Tanah Air, termasuk saya. Dalam konteks ini, saya mendapati 2 hal menarik mengenai sosok Azra usai menikmati karya-karyanya.

Pertama, Azra memiliki kemampuan menulis cepat dan dalam. Kemampuannya menulis cepat pelbagai artikel, kolom atau esai yang terbit mingguan dan bulanan di banyak koran dan majalah sangat informatif dan kaya perspektif. Selama puluhan tahun Azra punya kolom Resonansi yang terbit saban minggu di harian Republika (telah banyak dibukukan), mengisi analisis politik bulanan di harian Kompas di samping artikel-artikel lepasnya di harian terbesar di Indonesia tersebut sejak akhir 1970-an, pernah punya kolom khusus di Koran Tempo di awal tahun 2000-an (telah dibukukan berjudul Konflik Baru Antar Peradaban: Globalisasi, Radikalisme & Pluralitas), mengisi kolom khusus Ramadhan di Media Indonesia (telah dibukukan berjudul Malam Seribu Bulan: Renungan-Renungan 30 Hari Ramadan) dan berbagai tulisannya di banyak koran dan majalah di Tanah Air.

Mengapa Azra bisa menulis banyak dan cepat? Saya menduga ini berakar dari pengetahuan dan kepakaran kesejarahannya yang mendalam. Ini bukan saja menjadikan tulisannya sarat informasi tapi juga menawarkan perspektif. Wawasannya kesejarahannya yang mendalam juga ditopang oleh kemampuannya untuk mencari benang merah, tali temali dan asosiasi dari deretan fakta yang ada sehingga menghasilkan analisis yang basah.

Tak banyak orang bahkan penulis yang dianugerahi dengan kemampuan ini—wawasan sejarah yang dalam dan kecakapan asosiatif. Bagi Azra dua kemampuan ini tidak hanya berdampak bagi tulisannya yang ditulis di keheningan. Tak kalah menariknya bahwa kecakapan ini juga terlihat ketika ia diwawancarai. Di tengah-tengah wawancara yang dipenuhi kebisingan dan timing yang tak pasti (karena wartawan bisa saja datang bila-bila masa) wawasan dan kemampuan asosiatif ini juga tampil dengan memukau. Bagi yang pernah membaca salah satu karyanya, Islam Substantif, kita akan terpukau dengan gagasan-gagasannya. Padahal buku ini adalah kumpulan wawancara beliau dalam rentang waktu yang padat, tempat yang berbeda-beda dan isu yang beragam.

Saya juga mendapati bahwa kemampuannya menulis cepat juga terbuhul dengan wawasan teoritis yang dikusainya. Hal ini pernah diakui Azra sendiri bahwa manakala menulis ia akan mengingat satu teori yang relevan untuk kemudian dieksplorasi dalam tulisannya. Dengan bekal teori ini, tulisan-tulisan Azra bukan hanya menyajikan pembaca dengan seabrek informasi tapi juga mengajak mereka berpikir.

Namun demikian, Azra tidak hanya dikenal menulis cepat tapi juga dalam. Kedalaman tulisan-tulisannya ditopang oleh riset-riset serius yang telah dilakukannya, terutama di ranah yang menjadi minat intelektualnya—sejarah dan pemikiran Islam, sekalipun berbagai tulisannya merambah kemana-mana; sosial politik, pendidikan bahkan bahasa. Buku-buku seriusnya berisi riset-riset yang beliau lakukan, semisal Jaringan Ulama (buku ini sudah menjadi klasik dan legendaris), Indonesia, Islam, and Democracy: Dynamics in a Global ContextIslam Nusantara, Jaringan Global dan LokalRenaisans Islam Asia TenggaraIslam in the Indonesian World: An Account of Institutional Formation, dan masih banyak lainnya. Berbicara tradisi riset in, saya tidak bisa tidak memasukkan Jurnal Studia Islamika, sebuah sebuah jurnal internasional yang diterbitkan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Azra mendirikan sekaligus menjadi pemimpin redaksi Studia Islamika sejak awal berdirinya hingga sekarang.

Riset-riset serius dan monumental ini mustahil terjadi tanpa adanya bacaan yang luas dan konsistensi untuk memutakhirkan (update) diri dengan membaca buku, jurnal atau hasil riset terbaru. Tak semua orang bisa menikmati fasilitas buku-buku terbaru tanpa ada jaringan dan pergaulan yang luas. Dalam banyak tulisannya Azra menulis dan mengomentari buku-buku baru, terutama karya pemikir asing yang kebetulan adalah teman, kolega atau lingkungan pergaulannya. Dalam aspek pergaulan dan jaringan ini, Azra memiliki kesamaan dengan Taufik Abdullah (yang baru saja merayakan usia beliau yang ke-85 tahun). Taufik pernah melontarkan bahwa eksistensi dan kiprah intelektualnya tetap terjaga bukan karena kehebatannya melainkan karena pertemanan dan pergaulannya yang luas.

Bagi banyak dosen membeli buku-buku baru terutama yang berasal di luar negeri, sebagai misal, bukan perkara yang gampang mengingat terbatasnya pundi-pundi para dosen di Indonesia. Azra adalah sedikit dari dosen, pemikir, penulis dan cendekiawan yang beroleh blessing berupa kemudahan mendapatkan karya-karya terbaru kelas dunia lewat jaringan dan pertemanan yang memang telah dibangunnya jauh-jauh hari.

Kedua, keseimbangan yang indah antara intelektualitas dan birokrasi. Kesibukannya sebagai rektor IAIN yang kemudian berubah menjadi UIN Syarif Hidayatullah maupun Direktur Sekolah Pascasarjana di kampus yang sama tidak kuasa mengendurkan semangat dan merampas waktunya untuk menulis— koran, majalah, jurnal dan seminar di dalam dan luar negeri. Azra membuktikan bahwa pengalamannya sebagai birokrat-intelektual selalu dalam keseimbangan dan tak ada yang dikorbankan—satu dianakemaskan dan lainnya dianaktirikan.

Sudah bukan rahasia bahwa menjadi birokrat berkelindan dengan hilangnya waktu dan kebiasaan menulis dan meneliti, sebaliknya pilihan untuk menjadi seorang pure scholar tidak jarang membuat seorang ilmuwan atau dosen miskin dengan pengalaman dan kreativitas kepemimpinan. Apalagi perangkap kekuasaan semisal uang membuat banyak dosen atau peneliti menjauhi pucuk-pucuk kepemimpinan birokrasi. Suasana yang berbeda mulai tampak belakangan ini. Kaum intelektual dan para ilmuwan di kampus tak selalu menjaga jarak dengan ranah birokrasi. Dalam pantauan saya, setidaknya sudah ada dua orang rektor perguruan tinggi terkenal di Tanah Air yang rajin menumpahkan pikiran-pikirannya, semisal Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro dan Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko. Mereka berdua rajin menuangkan analisis ekonominya di harian Kompas, meskipin keduanya telah mentradisikan menulis dan meneliti jauh sebelum mengemban mandat sebagai rektor. Komaruddin Hidayat juga dikenal rajin menulis sebelum, sewaktu bahkan setelah menjabat rektor UIN Syarif Hidayatullah pasca Azyumardi Azra.

Menjadi birokrat penulis atau penulis yang birokrat, Azra hendak menegaskan bahwa adagium ‘ketika engkau mendapatkan satu hal, engkau kehilangan hal lain’ atau ‘Anda harus memilih karena Anda tidak bisa memiliki segalanya’ tidak berlaku bagi dirinya. Di saat buku-bukunya terus saja dihasilkan, pada saat yang sama Azra dengan gemilang merealisasikan talenta kepemimpinannya lewat transformasi kampus IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah, salah satu universitas Islam yang paling prestisius di Asia Tenggara. Posisinya sebagai birokrat penulis atau penulis yang birokrat kian mengukuhkannya sebagai pengamat sosial politik terdepan bahkan kelas wahid yang pendapatnya sering diminta oleh para wartawan dan tulisannya paling banyak diterbitkan oleh koran dan majalah.

Tak kalah pentingnya, pengalamannya sebagai birokrat-intelektual membuat Azra memiliki independensi yang tinggi, baik dalam berpikir, menyampaikan pikiran dan menulis. Ia tak pernah ragu menyampaikan kritikan kepada terhadap pemerintah, DPR bahkan tokoh-tokoh intelektual lain yang dianggapnya keliru dan problematis, seperti kritikannya terhadap Marwah Daud Ibrahim sebagai Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng (PDK) menyangkut kasus penggadaan uang dan penipuan oleh Dimas Kanjeng atau sikap plintat plintut Mahfud MD yang pernah sepakat dengan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu) KPK, namun berbeda ketika sudah menjadi Menko Polhukam.  Sikap kritis Azra bukan saja disebabkan oleh kematangannya sebagai intelektual tapi juga ditopang oleh pengalamannya sebagai birokrat ulung, berwibawa dan sukses.

Keheningan Azra dalam berkarya akan disemarakkan oleh riuh rendah pembaca yang menikmati buku-bukunya. Frank Ocean pernah mengungkapkan, “Work hard in silence, let your success be your noise” (Bekerja keras dalam keheningan, biarkan kesuksesanmu menjadi kebisinganmu). Menjelang usia beliau yang ke-66 tanggal 4 Maret 2021 ini, semoga beliau—Pak Azyumardi, Pak Azra, Buya Azra, Pak Edi, apapun sebutan beliau—diberi umur yang panjang sehingga tetap produktif berkarya di masa depan. Agaknya Azra hendak mengajarkan, “Menulislah, maka kamu ada.”

1390 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Supeni, Pemeluk Teguh Soekarnoisme

7 Mins read
Tak lama setelah pembunuhan para jenderal pada dinihari 1 Oktober 1965, Supeni ditugasi Ketua Umum Partai Nasional Indonesia (PNI), Mr Sartono, untuk…
Jaga Pilar

Biografi Adenan Kapau Gani, Pahlawan Nasional dari Palembang-Sumatera Selatan

2 Mins read
Adnan Kapau Gani atau biasa disingkat A.K. Gani adalah seorang dokter dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada…
Jaga Pilar

Biografi Moehammad Jasin, Polisi Pertama Yang Diangkat Sebagai Pahlawan Nasional

1 Mins read
Komjen Pol (purn) Moehammad Jasin merupakan tokoh dari kalangan polisi, yang membentuk satuan Brigadir Mobil (Brimob) sebagai satuan elite dan tertua di…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *