Featured

Belangiran, Tradisi Orang Lampung Menjemput Ramadan

3 Mins read

Dalam menjemput bulan suci Ramadan masyarakat Lampung punya tradisi Belangiran, Belangigkhan atau disebut juga Pelangegkhan yang punya makna penyucian diri. Terminologi dan tradisi dalam menyongsong Ramadan ini berlangsung juga di berbagai daerah lainnya. Dalam masyarakat Jawa dikenal dengan Padusan. Di Sumatera Utara dikenal mandi Pangir alias Marpangir. Di Riau dan di ranah Minang dikenal dengan Balimau. Tetapi karena wabah pandemi Virus Corona (COVID-19), bisa jadi tradisi Belangiran dan sejenisnya tahun ini tak bisa digelar.

Tradisi Belangigkhan ini biasanya digelar di Kampung Olok Gading, Teluk Betung, Bandar Lampung . Tradisi ini  sudah berlangsung  turun temurun dan digelar rutin tiap tahun. Masyarakat salah satu kampung wisata di Bandar Lampung ini  menggelar acara Belangigkhan di sungai Way Belau tetapi lebih dikenal dengan sebutan  Kali Akar,  Sumur Puteri, Telukbetung, Bandar Lampung.

Tradisi ini sebenarnya tidak hanya berupa mandi bersama untuk menyucikan diri, melainkan juga sebagai ajang silaturahmi antarwarga. Biasanya setelah mandi, ada doa dan cuak mengan alias makan bersama,

Setelah dilakukan ritual dan upacara masyarakat berebutan mencebur ke  sungai yang telah ditaburi untuk mandi bersama dengan diiringi lantunan bubandung—syair yang berisi doa minta untuk keselamatan kepada Allah SWT.

Sedangkan warga yang hadir membasuh wajahnya dengan air yang telah dicampur dengan merang padi yang telah dibakar, jeruk nipis dan kembang setaman alias beraneka macam bunga. Ini merupakan simbol membersihkan pikiran dan hati untuk menghadapi bulan Ramadan agar puasanya lancar terlepas dari godaan.

Mantan Gubernur Lampung meminta agar instansi terkait khususnya Dinas Pariwisata dan Budaya ke depan bisa mengemas tradisi Belangighan ini jadi agenda pariwisata. “Tradisi ini bisa dijadikan salah satu atraksi budaya yang bisa untuk menarik wisatawan untuk berkunjung ke Lampung,” ujar Sjachroedin.

Ke depan diharapkan kegiatan seperti ini akan dilaksanakan terus menerus dan diharapkan lebih baik lagi. Agenda ini akan kita laksanakan tidak hanya menonjolkan adat budaya Lampung akan tetapi bisa dilaksanakan suku yang ada dilampung yang bernafaskan Islam.

Odien sapaan akrab Sjachroedin menambahkan, jika prosesi ini dilaksanakan maka dapat meminimalisir pengaruh dari barat. Jika dilaksanakan dengan baik maka akan membentengi iman jangan sampai pada siang hari berpuasa akan tetapi ketika malam hari tiba mabuk-mabukan.

Menurut tokoh adat Lampung Mawardi R Harirama tradisi unik belangighan ini kalau dikemas dalam format pawai budaya yang lebih tertata diharapkan ke depan dapat dijadikan  salah satu atraksi wisata budaya yang menarik. Setiap suku yang ada telah melaksanakan prosesi adat seperti ini maka suku yang lain dapat melihat persamaan dan perbedaan dari budaya masing-masing suku.“Belangighan merupakan kegiatan tradisi asli budaya Lampung yang rutin dilakukan setiap menghadapi Ramadan Kita bisa saling belajar dan menghargai tradisi.” katanya.

Lebih lanjut, Mawardi membeberkan tentang filosofi belangighan, tetua-tetua adat Lampung dahulu mengkhususkan kegiatan ini untuk membersihkan diri lahir dan batin setiap memasuki bulan puasa. “Dan kegiatan budaya spiritual tersebut harus terus dilestarikan. Generasi muda saat ini harus mengetahui adat budaya Lampung. Tradisi budaya spiritual ini diharapkan jangan sampai punah tetapi tetap lestari,” ujarnya.

Mawardi menambahkan, dalam pawai budaya masing-masing suku berpartisipasi, masyarakat dapat melihat budaya masing-masing suku seperti dari Padang, Bugis, Jawa dan suku lainnya yang ada di Lampung nantinya pula jika dikemas lebih baik lagi  jarak tempuh pawai budaya bisa dilaksanakan lebih jauh lagi dan bisa dijadikan daya tarik wisata.

Filosofi Penyucian Diri

Menurut tokoh adat Lampung yang juga anggota Komite Seni Tradisi Dewan Kesenian Lampung (DKL) Sutan Purnama pelangekhan atau belangighan secara harafiah berarti penyucian diri. “Asal katanya adalah Belangekh yang maknanya mandi untuk menyucikan diri.

Biasanya, tradisi ini berlangsung menjelang bulan Ramadan. Intinya agar umat muslim siap lahir batin dalam menjalankan ibadah di bulan puasa,’ ujar Sutan yang juga jadi pembawa Manjau Dibingi  di RRI Bandar Lampung.

Acara aktivitas mandi bersama ini di Lampung biasanya dilaksanakan secara bersama-sama beberapa pekon (kampung) seperti di Olok Gading,  Sukadanaham, Pengajaran, dan Kedamaian yang tujuannya  ke lokasi-lokasi pemandian. Misalnya di sungai, laut, sumur yang terjaga kesucian airnya, dan untuk acara ini merambah kolam renang.

Selain secara massal, warga Lampung kerap melakukan Pelangekhan sendiri-sendiri tanpa menunggu bulan puasa. Ini karena banyak juga masyarakat menjalankan kebiasaan turun-menurun tersebut dengan tujuan membuang sial.

“Ada juga yang melakukan pelangegkhan supaya segera mendapat jodoh. Tapi inti filosofinya, tetap penyucian diri. Bahkan secara adat, setiap orang yang akan melakukan ritual ini bersama-sama menuju sumber air dengan  memakai pakaian adat Lampung,” ujar Sutan Purnama.

Nama lengkapnya Christian Heru Cahyo Saputro. Mantan Kontributor indochinatown.com,

1395 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Featured

Serat Wedhatama, Arab-Oriented, dan Rosing Rasa

2 Mins read
Khilafah, seperti halnya tetek-bengek kebudayaan Islam yang tak mutlak dapat dilepaskan dari wadah ke-“Arab”-annya, merupakan hal yang tak dapat begitu saja terimplementasikan…
Featured

Kelompok Islam Radikal di Minangkabau, Bagaimana Menanganinya?

3 Mins read
Minangkabau tidak ubahnya menjadi arena pertempuran besar. Minangkabau tidak pernah bisa dilepaskan dari pergesekan-pergesekan tajam. Pergesekan-pergesekan itu terkait dengan wacana, ide, kultur….
FeaturedTelaah

Laporan The New Muslim Consumer: Bagaimana Meningkatnya Ketaatan Membentuk Ulang Pola Konsumsi Muslim di Asia Tenggara?

2 Mins read
Wunderman Thompson Intelligence, bekerja sama dengan Muslim Intel Lab VMLY&R Malaysia, meluncurkan laporan yang bertajuk “The New Muslim Consumer: How Rising Observance…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *