Jaga Pilar

Biografi Abdul Muis (1886), Tokoh Pahlawan Nasional Pertama Indonesia

3 Mins read

Berbicara tokoh pahlawan nasional, tentu tidak lepas dari nama yang satu ini, yaitu Abdul Muis. Meski begitu, nama Abdul Muis menjadi tokoh pertama yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Pria asal Bukittinggi, Sumatera Barat ini dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada 30 Agustus 1959. Keputusan itu diambil Presiden Sukarno dan mengangkat Abdul Moais sebagai pahlawan nasional pertama di Indonesia.

Biografi Abdul Muis

Abdul Muis lahir pada 3 Juli 1886 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia adalah sosok dengan julukan Sutan Penghulu, dimana gelartersebut diproleh dari orang tuanya, yang juga masih menjadi keluarga Minanga yang berpengaruh.

Ayahnya, dari Minangkabau, adalah Datuk Tumang Quang Sultan Suleiman. Sutan Suleiman adalah tokoh masyarakat, seperti Demang Sungai Por, yang menentang keras Belanda. Meskipun ibunya berasal dari Jawa, dia adalah seorang wanita dengan keterampilan seni bela diri.

Seperti pemuda Minangkabau, Abdul Masih memiliki jiwa petualang dan backpacking. Abdel Moais memulai studinya di European Low School atau European Stock School (ELS). Kemudian Abdul Moais berhasil lulus sekolah kedokteran di Stofia di Batavia, namun tidak lulus karena sakit.

Kemudian Abdel Mowais bekerja sebagai jurnalis. Pada tahun 1905, ia diangkat menjadi pemimpin redaksi majalah India. Di pers ia juga bertemu dengan Haji Agus Selim dan bergabung dengan majalah Neraca yang dikelola oleh Agus Selim.

Karir Abdul Muis

Abdul Muis memulai karirnya sebagai penulis di departemen Onderwijs di Eredienst dengan bantuan Mr. Abendanon, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pendidikan. Namun pengangkatannya itu tidak disukai oleh pegawai Belanda lainnya yang pada waktu menjadi karyawan di perusahaan medai tersebut.

Setelah dua setengah tahun di departemen tersebut, ia keluar untuk menjadi jurnalis di Bandung. Pada tahun 1905, ia diterima di dewan redaksi majalah Bintang Hindia. Dia kemudian menjadi mantri konstan dan sekali lagi menjadi reporter untuk surat kabar Belanda Preanger Bode dan majalah Neraca yang dipimpin oleh Haji Agus Salem.

Pada tahun 1913 ia bergabung dengan Serkat Islam dan menjadi Pimred di Harian Kaoem Moeda. Setahun kemudian, melalui Dewan Aborigin yang ia dirikan bersama dengan Ki Hadjar Deewantara, Abdul Moais menentang rencana pemerintah Belanda untuk merayakan seratus tahun kemerdekaan Belanda Vis di Prancis.

Pada tahun 1917, ia ditugaskan untuk melakukan perjalanan ke Belanda sebagai utusan dari Sarekat Islam untuk menerbitkan Komisi Lisan Independen. Dalam kunjungannya, ia juga mendesak Belanda untuk mendirikan Hoog Technical School – Institut Teknologi Bandung (ITB) di Priyanan.

Pada tahun 1918, Abdul Muis ditunjuk agar menjadi anggota Volksrad, perwakilan dari pusat lingkaran Islam. Pada bulan Juni 1919, seorang pemimpin Belanda dibunuh di Tuli Tuli, Sulawesi Utara, setelah menyampaikan pidato di sana.

Abdul Muis dituduh menghasut orang untuk menolak kerja paksa yang berujung pada pembunuhan itu. Untuk ini, dia dituduh dan dipenjara. Selain berpidato, ia juga telah menaklukkan berbagai media cetak. Abdul Muis, yang menulis untuk surat kabar Belanda De Express, menuduh seorang Belanda menghina penduduk setempat.

Pada tahun 1920 ia terpilih sebagai ketua Dewan Direksi Serikat Pekerja Hipotek. Setahun kemudian, ia memimpin pemogokan buruh di Yogyakarta.

Pada tahun 1923, ia mengunjungi Padang, Sumatera Barat, di sana, ia mengajak tokoh adat untuk merenungkan pajak yang mempengaruhi masyarakat Minangkabau. Sebagai hasil dari pekerjaan ini, ia dikeluarkan dari politik.

Selain itu, ia dituduh memiliki paspor, yang menghalanginya untuk keluar-masuk Jawa di Sumatera Barat. Ia kemudian diasingkan ke Garut di Jawa Barat. Di kota inilah ia menyelesaikan novelnya yang terkenal dengan judul Salah Asuhan.

Pada tahun 1926 ia terpilih menjadi anggota pemerintah Garut. Enam tahun kemudian, ia diangkat menjadi bupati. Jabatan ini dipegangnya hingga Jepang masuk ke Indonesia (1942).

Setelah kemerdekaan, ia mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan yang fokus pada pembangunan di Jawa Barat dan masyarakat Sunda.

Kematian

Penulis, tentara, dan jurnalis itu meninggal di Bandung pada 17 Juni 1959 dalam usia 76 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pahlawan Chikutra di Bandung. Ia meninggalkan dua istri dan 13 anak, dan dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung.

Abdul Muis adalah lulusan Sekolah Rendah Eropa (European Laguerre School atau disingkat ELS). Ia belajar di Stovia selama tiga setengah tahun (1900-1902). Namun, karena sakit, ia putus sekolah kedokteran. Pada tahun 1917 ia berangkat ke Belanda untuk belajar.

Meski hanya memiliki ijazah Junior (ujian Kleine Ampetinaris) dan ELS, Abdelmois memiliki kemampuan bahasa Belanda yang baik. Bahkan, menurut orang Belanda, kemampuan Abdul Moais berbahasa Belanda dianggap di atas rata-rata orang Belanda.

Oleh karena itu, pada keberangkatan pertamanya dari Stovia, ia diangkat oleh Mr. Abendanon sebagai Onderwzjs (Direktur Pendidikan) untuk mengawasi departemen Van Onderwijs dan Eredienst dari Stovia untuk menjadi Gereja. Padahal, saat itu, tidak ada sepupu yang bernama kirk. Abdul Muis adalah orang Indonesia pertama yang pindah agama ke Kirk.

Sebagai penulis, Abdul Muis kurang produktif. Dia adalah penulis empat novel dan banyak terjemahan. Namun, di antara beberapa karyanya, Abdul Muis sangat tertarik dengan sejarah sastra Indonesia. Karyanya, Salah Asuhan, dianggap sebagai gaya penulisan prosa baru pada saat itu. Sementara sebagian besar penulis saat itu masih berurusan dengan masalah kuno: konflik antara muda dan tua, pernikahan paksa, dan adat istiadat, Salah Asuhan mengangkat masalah konflik pribadi: balas dendam, cinta, dan cita-cita..

KARYA Abdul Muis:

1. Tom Sawyer Anak Amerika (terjemahan karya Mark Twain, Amerika), Jakarta:Balai Pustaka, 1928

2. Sebatang Kara (terjemahan karya Hector Malot, Prancis), Cetakan 2, Jakarta:Balai Pustaka, 1949

3.  Hikavat Bachtiar (saduran cerita lama), Bandung:Kolff, 1950

4. Hendak Berbalai, Bandung:KoIff, 1951

5. Kita dan Demokrasi, Bandung:Kolff, 1951

6. Robert Anak Surapati, Jakarta:Balai Pustaka, 1953

7. Hikayat Mordechai: Pemimpin Yahudi, Bandung:Kolff. 1956

8. Kurnia, Bandung:Masa Baru, 1958

9. Pertemuan Djodoh (Cetakan 4), Jakarta:Nusantana, 1961

10. Surapati. Jakarta:Balai Pustaka, 1965

11. Salah Asuhan, Jakarta:Balai Pustaka, 1967

12. Cut Nyak Din: Riwayat Hithip Seorang Putri Aceh (terjemahan karya Lulofs, M.H. Szekely), Jakarta:Chailan Sjamsoe, t.t.

13. Don Kisot (terjemahan karya Cervantes, Spanyol)

14. Pangeran Kornel (terjemahan karya Memed Sastrahadiprawira, Sunda)

15. Daman Brandal Sekolah Gudang, Jakarta:Noordhoff, t.t.

Itu dia biografi singkat Abdul Muis sebagai pahlawan nasional pertama Indonesia. Semoga kita bisa terinpirasi dari perjuangannya.

Selengkapnya baca di sini

951 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan.
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Kemanan Cyber sebagai Upaya Melindungi NKRI

2 Mins read
Keamanan cyber, juga dikenal sebagai keamanan siber, adalah upaya untuk melindungi sistem komputer dan jaringan dari berbagai ancaman atau akses ilegal. Keamanan…
Jaga Pilar

Menilik Matinya Kritisisme: Tantangan Kebangsaan Terkini

3 Mins read
Kesadaran manusia sebagai makhluk berkesadaran rupanya tidak banyak disadari oleh manusia, dengan kata lain hanya sedikit dari mereka yang sadar sebagai makhluk…
Jaga Pilar

Ironi Kebangsaan: Saudi Menuju Moderasi, NKRI Menuju Wahabisasi

3 Mins read
Kelompok Wahabi tak henti-hentinya menjadi perbincangan publik dan menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat Indonesia. Wahabi merupakan aliran pemikiran Islam yang berpegang teguh…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *