Pancasila

Dari Mana Inspirasi Lambang Garuda Pancasila Diambil?

2 Mins read

“GARUDA Pancasila, Akulah Pendukungmu,” itulah secuplik bait lagu Garuda Pancasila yang akrab di telinga anak-anak Indonesia karena menjadi lagu ‘wajib’ saat orde baru berkuasa. Banyak orang bertanya darimana inspirasi hingga burung Garuda dijadikan lambang Pancasila?

Asal muasal penggunaan lambang Garuda Pancasila bermula saat Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie II (Sultan Hamid II) memenangi sayembara lambang negara. Sayembara ini diadakan oleh Presiden Soekarno yang merasa perlu bagi Indonesia memiliki lambang negara setelah merdeka.

Sebelumnya ada usulan lambang negara yang diajukan oleh M. Yamin namun ditolak oleh panitia karena masih ada pengaruh Jepang melalui penempatan sinar matahari.

Inspirasi lambang Garuda diperoleh Sultan Hamid II dari lambang kerajaan Sintang, sebuah kerajaan Hindu yang didirikan seorang Tokoh Hindu dari Semenanjung Melaka bernama Aji Melayu.

Garuda Pancasila sendiri adalah burung Garuda yang sudah dikenal melalui mitologi Hindu kuno dalam sejarah nusantara, yaitu kendaraan Wishnu yang menyerupai burung elang rajawali. Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.

Dikisahkan, dalam rangka mencari ide untuk membuat lambang Negara, Sultan Hamid II mencari inspirasi mulai dari satu tempat ke berbagai wilayah Kalimantan Barat. Mulanya, Sultan Hamid II mengunjungi Sintang hingga kemudian bertolak ke Putus Sibau.

Di Putus Sibau, pihak swa praja mengusulkan kepada sultan yang lahir tahun 1913 itu untuk menggunakan lambang burung Enggang. Namun usul itu urung diterima, karena Sultan Hamid II lebih tertarik pada lambang burung Garuda yang menjadi lambang kerajaan Sintang. Hingga Sultan Hamid II pun berinisiatif meminjam lambang kerajaan Sintang untuk menjadi lambang Negara Indonesia.

Sultan Hamid II sendiri adalah seorang pengikut Freemason (tarekat mason bebas) dan Theosofi. Ia mewarisi ‘darah’ masonik dari garis Abdul Rachman, Sultan Pontianak yang terdaftar dalam Freemason di Surabaya pada 1944. Jenjang pendidikan sultan yang kemudian menjadi Menteri Negara Repulik Indonesia Serikat (RIS) itu adalah sekolah dasar Belanda, bahkan termasuk salah seorang Indonesia yang disekolahkan di sekolah militer Belanda di Breda.

Tanggal 8 Februari 1950, rancangan lambang negara yang dibuat Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Mereka bertiga sepakat mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Rancangan lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan kembali, karena adanya keberatan terhadap gambar burung Garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap terlalu bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS pada tanggal 11 Februari 1950.Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan tidak berjambul seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. []

Yudi

Selengkapnya baca di sini I

2121 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Pancasila

Menelaah Sikap Ideal Kiai dalam Gelanggang Politik

4 Mins read
Kyai sebagai pengasuh Pesantren menjadi tokoh sentral, tidak saja sebagai pengelola Pesantren, tetapi Kyai juga sebagai tokoh dan panutan masyarakat Pesantren. Bahkan…
Pancasila

Memasuki Era Perguruan Tinggi Kapitalistik yang Menjijikkan

3 Mins read
Tak bisa dimungkiri, pendidikan hingga kini masih dipandang sebagai kunci utama untuk mencapai mobilitas sosial dan memperbaiki taraf hidup manusia. Banyak orang…
Pancasila

Keutuhan Bangsa Indonesia Tak Boleh Direduksi Kelompok Keagamaan

1 Mins read
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menilai, secara sosiologis, hasil ijtima ulama tentang pelarangan ucapan salam lintas agama dan selamat hari raya keagamaan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *