Jaga Pilar

Diponegoro dan Mimpinya Bertemu Ratu Adil

2 Mins read

Di tahun-tahun menjelang Perang Jawa 1825-1830, Diponegoro beberapa kali mendapatkan vision dan mimpi-mimpi sarat ramalan dan pesan simbolik terkait perannya di masa depan.

Salah satu mimpi-penglihatan yang paling penting, ia dapatkan di malam 21 Ramadan tahun 1824 (19 Mei 1824); penglihatan yang mengindikasikan penunjukan dirinya sebagai Ratu Adil telah dilakukan.

Dalam mimpinya, Diponegoro bertemu Ratu Adil yang berpakaian seperti pakaian haji dari Mekkah, wajahnya bercahaya. Diponegoro mengaku tidak sanggup melihatnya, tapi dia mengenali warna busana yang dikenakan sang Ratu Adil;

15] Kanjeng pangeran tan kuwasa uning, aningali marang kang wedana, sang ratu adil cahyane, kasor ing ngarga tuhu, nging busana awas ningali, kanjeng pangran sedaya, ijem srebanipun, ara sukan jubah seta, lan selana seta ngagem sebeabrit, ngaler ngilen ajengnya. [Babad Dipanegara, jilid II]

(15] Kanjeng Pengeran [Diponegoro] tak kuasa melihat, atau mengenali wajah, sang Ratu Adil yang cahayanya, mengalahkan matahari. Hanya busana yang mampu dikenali, oleh Pangeran secara menyeluruh; surbannya hijau, mengenakan jubah dan celana putih serta selendang merah. Wajahnya menghadap ke barat laut.)

Penglihatan, mimpi dan wangit yang didapatkan Diponegoro ini memberikan pengaruh tersendiri yang secara spiritual memupuk keinginannya untuk menggalang pemberontakan terhadap Keraton.

Dengan back up dari pemerintahan kolonial, Keraton terus-menerus membuat putusan dan kebijakan yang menghadirkan ketakutan, kemiskinan dan disintegrasi tatanan sosial bagi masyarakat Jawa.

Di Tegalrejo, pada tahun ketika Diponegoro pertama kali mendapat penglihatan penunjukan dirinya sebagai Ratu Adil, pacul dan arit mulai diasah, bambu-bambu dipotong dan diruncingkan, seluruh petani dan santri Tegalrejo meningkatkan kesiagaan guna menghadapi perang.

Simbolisasi warna yang disebutkan oleh Diponegoro tentu tidak muncul begitu saja. putih, merah dan hijau adalah warna yang mewadahi perpaduan dari visi, misi dan semangat yang akan diusung oleh perang Jawa bentukan Diponegoro.

Warna-warna tersebut adalah hakikat dan pesan-pasemon dari sosok Ratu Adil yang ditemui Diponegoro. Dari warna itulah Diponegoro mengaktifkan kedalaman batin dan kekuatan interpretasinya, yang kemudian melahirkan beberapa penglihatan lanjutan yang didapatnya di Gua Secang Selarong hingga beberapa bulan sebelum meletusnya pemberontakan pada Juli tahun 1825; penglihatan-penglihatan yang menyiratkan penunjukkannya sebagai Ratu Adil, legitimasi al-Qur’an dan wahyu atas perang yang dipimpinnya, yang merupakan mandat langsung dari Allah dan Rasulnya dan penegasan bahwa perang tersebut adalah perang untuk mengusir penjajah dan mengembalikan stabilitas tatanan sosial di Jawa.

Warna memang sesuatu yang simbolik dan sekunder, tapi jika itu menyangkut konstruksi visi dan misi lokus budaya yang diwakilinya, maka memaknai warna tak kalah pentingnya dengan memaknai kebudayaan itu sendiri.

Warna adalah pengentalan dari berbagai macam dinamika dan gesekan yang muncul, yang menjadi perlambang dan kekhasan bagi sesuatu yang diwakilinya. Begitu juga dengan fungsi simbolisasi warna dalam uraian Diponegoro mengenai penglihatan yang didapatnya.

Hilmy Firdausy

Dosen Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Aktif di Komunitas Saung Jakarta dan al-Jabiri Institute Jakarta.
Selengkapnya baca di sini I
1384 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Biografi Moehammad Jasin, Polisi Pertama Yang Diangkat Sebagai Pahlawan Nasional

1 Mins read
Komjen Pol (purn) Moehammad Jasin merupakan tokoh dari kalangan polisi, yang membentuk satuan Brigadir Mobil (Brimob) sebagai satuan elite dan tertua di…
Jaga Pilar

Biografi KH Abdul Halim, Pahlawan Nasional dari Majalengka

4 Mins read
Kiai Haji Abdul Halim adalah Ulama besar dan tokoh pembaharuan di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan dan kemasyarakatan. Beliau lahir di Desa…
Jaga Pilar

Kisah Perjuangan Raden Aria Wangsakara: Ulama, Pejuang, dan Pendiri Tangerang

3 Mins read
Raden Aria Wangsakara adalah seorang ulama, pejuang, dan pendiri Tangerang. Dalam sejumlah literatur yang bercerita tentang Babad Tangerang dan Babad Banten, Wangsakara…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *