NKRI

Diskusi Terbuka Tokoh Lintas Agama dalam Kontra-Intoleransi dan Radikalisme

2 Mins read

Tokoh lintas agama memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan antar golongan masyarakat. Bukan tugas mudah bagi tiap-tiap ikon panutan publik dalam menyampaikan risalah berkonotasi perdamaian, kerukunan, demi terciptanya keamanan bersama penduduk penghuni bumi NKRI.

Atas dasar itulah, Gerakan Pemuda Ansor NU Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat mengumpulkan unsur Forkopimda, Organisasi Keagamaan dan Organisasi Kepemudaan Lintas Agama beserta pimpinan lembaga Pendidikan Tinggi di wilayah ujung timur borneo barat, rabu, 26 Juni 2024 di Aula Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Putussibau.

Belakangan, mengikuti perkembangan isu aliran menyimpang maupun kelompok terlarang, HTI-menjelma dengan nama Inhadul Fikri, selain melaksanakan salat Idul Adha secara terbuka hari minggu, (16/6/24), diluar ketetapan Pemerintah, Mualim Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah, lapangan Keboen Sajoek (Kebun Sayur) Pontianak digunakan dengan cara memaksa, tanpa izin pihak berwajib, tentu mengusik kenyamanan dan ketertiban, serta membuat bingung masyarakat.

Tak cukup sampai disitu, HTI Ketapang, Kalbar-menyaru ‘Majelis Taklim Darus Tsaqofah’ (nama samaran), juga melakukan hal yang sama, bahkan sempat nekat menyebarkan ideologi khilafah tahririyahnya di halaman Rumah Adat Melayu dan atau Gedung Golkar Ketapang. Beruntung aksi tersbut berhasil digagalkan berkat kerjasama seluruh pihak.

Penyimpangan paham pada suatu sekte agama yang berpotensi memicu gangguan kamtibmas, propaganda ideologi berbungkus dakwah, termasuk di bumi uncak Kapuas, kerap disertai seruan menuju tindak kekerasan bahkan terror. Maraknya sentimen SARA  di Media Sosial, menjadi kekhawatiran bersama karena efeknya dapat merusak keharmonisan umat yang multikultural.

Ali Habibi Patra, Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kab. Kapuas Hulu, dalam diskusi memperkenankan setiap hadirin berbagai latarbelakang, menyampaikan pendapat berikut amatan masing-masing kalangan terkait ancaman intoleransi dan radikalisme ditengah heterogenitas masyarakat. Diharapkan selanjutnya dapat melahirkan keselarasan paradigma akan pentingnya menjaga kerukunan dan merawat keberagaman.

“Kami berharap dialog ini mampu membuka wawasan bagi kita semua dalam menjaga serta merawat toleransi dan keberagaman di Kapuas Hulu yang kita cintai ini.” tukas alumnus Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak.

Seperti diketahui, Berdasarkan UU. No. 1/PNPS/1965 Jo UU No.5/1969 tentang pencegahan penyalahgunaan dan atau penodaan agama bahwa yang dimaksud aliran atau ajaran menyimpang, merupakan organisasi kebathinan atau kepercayaan masyarakat yang bertentangan dengan ajaran-ajaran atau hukum agama. Mengutip data Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (BAKORPAKEM) 2008, mulai tahun 2001 hingga 2007 terdapat sekitar 250 lebih aliran menyimpang yang diindikasikan aliran kepercayaan atas agama yang menyimpang atau sesat.

Pertama, Children Of Ghod, dibawa oleh David Berg pada 1968 M asal California, Amerika Serikat. Dia membolehkan seks bebas tanpa ikatan perkawinan yang sah. Kedua, ajaran agama Baha’I,  didirikan oleh Mirza Ali Muhammad Asy-Syairazi asal Shiraz, Iran pada 1820 M, disebut menyimpang karena menyatukan semua ajaran agama, baik itu Islam, Nasrani, Yahudi, Kristen dan lain sebagainya.

Ketiga, al-Qiyadah Islamiyah, didirikan oleh Ahmad Moshaddeq pada 23 Juli 2006, dinyatakan sesat berdasarkan fatwa MUI No.4 tanggal 3 Oktober 2007, sebab menodai dan mencemari agama islam, seperti menolak hadits Nabi, syahadatnya tidak menyebutkan nama Muhammad sebagai rasul namun menggantinya dengan al-Masih, tidak mewajibkan shalat, puasa dan haji.

Kemudian, keempat ada aliran Salamullah, didirikan oleh Lia Aminuddin asal Surabaya, divonis sesat lantaran menghalalkan babi, mengaku bertemu jibril, membakar lidah anak, mengaku Imam Mahdi dan Bunda Maria. Kelima, aliran Ahmadiyyah, didirikan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad asal Qadian, Punjab India pada 1835, dianggap bertentangan dengan al-qur’an yang meresahkan masyarakat, dikarenakan Mirza Ghulam Ahmad diyakini sebagai Nabi, Isa al-Masih plus Imam Mahdi.

Keenam, aliran kepercayaan Madi “ Karangan Dante Sepuluh”, didirikan oleh Madi di Dusun Salena, Kelurahan Baluri Kecmatan Palu Barat, dianggap sesat karena meresahkan masyarakat dan menodai agama Islam dan Kristen, seperti dilarang keras beribadah ke masjid dan gereja, tidak boleh berpuasa, semua harta harus dijual semua sebelum masuk aliran madi.

Sementara terkait kelompok terlarang di Bumi Pertiwi, diantaranya adalah Partai Komunis Indonesia (PKI), Jamaah Islamiyah (JI), Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Front Pembela Islam (FPI).

951 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan.
Articles
Related posts
NKRI

4 ASN Terpapar Terorisme, Pemerintah Jambi Gelar Ikrar Setia NKRI Serentak

1 Mins read
Empat orang  aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten Tebo Jambi, diduga terafiliasi jaringan terorisme Negara Islam Indonesia (NII). Dugaan itu juga sudah…
NKRI

Memberantas Labelisasi Kafir di NKRI yang Jadi Pemicu Perpecahan

5 Mins read
Dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tak ada orang kafir. Pemeluk agama disebut berdasar agama masing-masing: orang Islam, orang Kristen, orang…
NKRI

Grand Syekh Al-Azhar Puji Peran Indonesia dalam Mendukung Gaza Palestina

1 Mins read
Grand Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmad al Thayyeb, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap peran positif dan efektif dari Pemerintah Indonesia dalam mendukung…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *