Telaah

Efektifkah Kepemimpinan Perempuan dalam Pencegahan Ekstremisme?

3 Mins read

Berapa banyak forum ibu-ibu pengajian yang terselenggara? Forum pengajian menjadi ruang silaturrahim, kolaborasi, bahkan penanaman ideologi bagi perempuan. Salah satu praktik sederhana yang dilakukan di rumah, oleh ibu saya adalah membawa 1 genggam beras ketika mau berangkat ke pengajian. Beras tersebut dikumpulkan dari semua anggota yang hadir pada pengajian tersebut. Biasanya pengajian diselenggarakan setiap minggu 1 kali dalam sebuah komunitas. Bisa komunitas lintas RW/RT ataupun organisasi keagamaan lain. Lalu, bagaimana kalau ternyata ibu mengikuti pengajian di komunitas, RW/RT bahkan pengajian yang lain. Kegiatan pengajian yang diikuti oleh ibu begitu padat, bisa setiap hari berkunjung ke masjid atau ke rumah, tempat di mana kegiatan pengajian dilaksanakan karena mengikuti setiap komunitas yang ada di daerah.

Ini bukan cerita soal beras yang dikumpulkan atau dikeluarkan oleh ibu. Akan tetapi, pendekatan spiritual yang biasa dilakukan oleh para perempuan untuk berkumpul dan menjadi salah satu basis penanaman keilmuan yang kuat melalui forum pengajian. Masih dalam konteks perempuan, Hatta pernah berkata bahwa,Ā ā€œjika kamu mendidik satu laki-laki, maka kamu mendidik satu orang. Namun jika kamu mendidik satu perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.ā€

Pernyataan Hatta kiranya sangatĀ relateĀ dengan cerita di atas bahwa, kolektifivitasĀ perempuanĀ dalam menyebarkan keilmuan, menanamkan kepada keluargnya, sangat tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Pertukaran informasi hingga proses komunikasi yang sering dilakukan, potensi perempuan dalam menyebarkan keilmuan kepada seluruh keluarganya sangat besar. Ini juga menjadi alasan mengapa militansi perempuan begitu besar dalam kelompok-kelompokĀ ekstremis. Karena apabila perempuan sudah masuk dalam kelompok ekstremis, maka bisa dipastikan seluruh keluarganya, masuk dalam kelompok yang sama).

Mampukah Perempuan Berperan dalam Pencegahan Ekstremisme?

Berdasarkan potensi demikian, maka pendekatan spiritual menjadi basis yang kuat untuk menanamkan nilai-nilai perdamaian, toleransi dan menjadi forum yang kuat dalam pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan. Selain itu, dalam peran keluarga, istilah bahwa ibu adalah madrasah (sekolah), adalah istilah sentral yang dimiliki perempuan dalam ranah keluarga. Kalimat ini bukan kemudian menjerumuskan pada ibuisme yang melanggengkan budaya patriarki.

Perempuan menjadi tokoh utama dan pertama dalam mengajarkan nilai-nilai agama yang moderat kepada anak. Figur perempuan merupakan kunci kebaikan bagi anak-anaknya dengan memberikan pendidikan, edukasi, serta pemahaman kepada mereka mengenai pentingnya persatuan, nasionalisme, dan pemahaman religi yang benar melalui kasih sayang. Pemahaman semacam ini diberikan secara bersama-sama oleh figur laki-laki sebagai sosok ayah dalam melakukan kerja sama pengasuhan sebagai orang tua.

Dalam konteks sosial dan masyarakat, perempuan berperan terhadap pembentukan maupun pembangunan masyarakat. Hari ini, banyak perempuan yang memiliki posisi penting, baik dalam lingkaran masyarakat maupun pemerintah. Kepemimpinan yang dijalankan menjadi pilar penting penting dalam rangka pemberdayaan bangsa sehingga mampu melahirkan generasi yang mulia untuk membangun bangsa.

Berdasarkan argumen tersebut, penting pemahaman tentang nilai-nilai ajaranĀ IslamĀ yang ramah, serta bahaya ekstremisme berbasis kekerasan kepada perempuan untuk disebarkan kepada keluarga danĀ masyarakat.

Kolaborasi Membangun Masyarakat

Peran perempuan dalam ranah masyarakat, melalui komunitas/organisasi keagamaan menjadi salah satu ruang yang cukup sentral. Hal ini perlu didukung dengan kolaborasi antar pihak untuk meningkatkan pemahaman soal ekstremisme berbasis kekerasan sehingga bisa disebarkan kepada perempuan lainnya. Salah satu praktik baik yang dilakukan oleh para aktivis perempuan di Jawa Barat adalah mendirikan Forum Mukti Stakeholder untuk Penanggulangan kekerasan Ekstremisme (PCVE) yang melibatkan OPD, OMS, media dan akademisi.

Para AktivisĀ perempuanĀ di Jawa Barat melakukan advokasi kebijakan tentang RAD PE (Rencana Aksi Daerah Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme) tahun 2022-2024, dserta mengawal implementasi pengarusutamaan gender dan anak di dalamnya. Forum ini dikawal oleh PW Fatayat NU Jawa Barat yang kemudian diperbincangkan melalui WGWC Talk Seri-27.

Dalam kegiatan ini, hadir beberapa tokoh yang terlibat dalam RAD PE Jawa Barat, di antaranya: Neng Hannah (Wakil Ketua PW Fatayat NU Jawa Barat), A. Diana Handayani (Presidium Wilayah Perempuan Indonesia Jawa Barat), dan Dr. R. lip Hidajat, M.Pd, (Kepala Bakesbangpol Jawa Barat). Melalui forum ini, kolaborasi yang dilakukan oleh para perempuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman dalam bahaya ekstremisme, dilakukan dari berbagai komunitas, salah satunya gerakan yang dilakukan oleh Fatayat mulai dari tingkat paling bawah hingga atas. Gerakan kolektif kolegial yang dilakukan oleh para perempuan, menjadi basis ideologi bagi perempuan untuk mencegah bahaya ekstremisme berbasis kekerasan.

Berdasarkan penjelasan di atas, kiranya bisa menguti kalimat Hatta bahwa,Ā ā€œjika kamu mendidik satu laki-laki, maka kamu mendidik satu orang. Namun jika kamu mendidik satu perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.ā€Ā Perempuan akan menyebarkan suatu paham kepada masyarakat, orang lain termasuk kepada keluarganya sendiri.Ā Wallahu Aā€™lam.

867 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan.
Articles
Related posts
Telaah

Transformasi Penduduk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

1 Mins read
Transformasi penduduk, yang mencakup perubahan dalam struktur usia, distribusi geografis, dan dinamika demografis lainnya, memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang…
Telaah

Merawat dan Melestarikan Amaliah Kebangsaan Pesantren

3 Mins read
Tidak diragukan lagi bahwa pesantrenā€”maksudnya pergerakan kiai dan santriā€”memiliki kans dalam kekuatan politik. Dalam sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa kita, kaum pesantren tidak…
Telaah

Jurnalisme Berkualitas: Rongrongan bagi Kebebasan Publik Digital

3 Mins read
Topik ā€œJurnalisme Berkualitasā€ sedang menjadi isu hangat di berbagai kanal media digital beberapa waktu belakangan. Draf Perpres (Peraturan Presiden) Jurnalisme Berkualitas sendiri…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *