Religius

Fenomena Mualaf Jadi Ustadz yang Sok Tahu

2 Mins read

Berpindah agama bukan fenomena yang baru terjadi. Katolik bermigrasi ke Islam, dari Muslim menjadi Buddhis, dan begitu seterusnya. Perpindahan dari satu agama ke agama lain atau satu kepercayaan kepada kepercayaan lain adalah peristiwa yang setua umur agama itu sendiri.

Sebelum Nabi Muhammad SAW. mendapatkan wahyu, tak ada orang yang memeluk agama Islam, karena memang agama Islam belum lahir. Sebagaimana agama-agama Allah terdahulu, Islam pun lahir dengan tujuan yang mulia; ajakan untuk bertauhid, memperbaiki akhlak baik kepada Allah, sesama manusia maupun kepada semesta. Tujuan Islam yang demikian mulia itu disiarkan oleh Nabi Muhammad S.A.W secara santun, elegan, berakhlak.

Dampaknya cukup terasa. Orang-orang dekat Nabi tertarik dengan ajaran yang dibawa Nabi dan akhirnya memeluk agama Islam. Bermula dari Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah, sampai kemudian Islam menjadi magnet sehingga secara berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Ada dua hal penting yang bisa dicatat dari peristiwa ini. Pertama, kemampuan Nabi Muhammad untuk menampilkan ajaran Islam dengan baik. Apa yang dikatakan dan diajarkan Nabi, itu pula yang menjadi tindakan Nabi. Ketika Nabi melarang berdusta dan mencelakai orang lain, Nabi pun  tidak melakukan . Dalam bahasa sekarang “satunya sikap dengan perbuatan”

Kedua, sebagian besar sahabat Nabi adalah mualaf, karena sebelum menjadi muslim, mereka memiliki agama dan keyakinan tertentu. Ini artinya, bahwa orang yang berpindah agama, yang dalam Islam disebut mualaf, bukan peristiwa baru.

Mualaf Masa Kini

Di Indonesia sendiri, orang yang berpindah agama juga bukan peristiwa baru. Islam adalah agama yang baru masuk ke Nusantara beberapa abad setelah Nabi Muhammad wafat. Sebagian pakar menyebut Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13 Masehi melalui pintu Gujarat-India. Sebagian yang lain menyebut Islam masuk ke daratan Nusantara ini pada abad ke 7 Masehi yang dibawa melalui pedagang-pedagang Arab. Sebagian lainnya menyebut Islam di Indonesia dibawa oleh orang Persia pada abad ke 13. Artinya, nenek moyang kita yang beragama Islam masuk dalam kategori mualaf.

Belakangan ini, sejumlah orang, termasuk dari kalangan selebritis, juga melakukan migrasi agama, dari agama sebelumnya menjadi Muslim. Sayangnya, kepindahan ke agama Islam ini seringkali disertai dengan dua fenomena penting.

Pertama, kecenderungan untuk menjelek-jelekkan agama yang diyakini sebelumnya yang disampaikan dengan nada provokatif dan penuh kebencian. Padahal, sebagaimana kita tahu, arti kata mualaf sendiri adalah orang yang dijinakkan hatinya atau dilembutkan hatinya.

Sebagaimana yang kita tahu, menjelekkan Tuhan agama dan keyakinan orang lain jelas dilarang oleh Allah. Larangan ini secara jelas dan pasti termaktub dalam al-Qur’an surat al-An’am ayat 108:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Kedua, kecenderungan untuk seketika menjadi ustadz atau da’i. Sejumlah mualaf —tentu tidak semuanya—seketika langsung mendapatkan mimbar atau panggung untuk berceramah, menjadi khatib Jum’at, dan mengisi sejumlah kajian, dan bahkan imam sholat. Tentunya, sebagai muslim pasti dan wajar senang ketika ada penambahan saudara seiman.

Namun, memberikan panggung untuk berceramah, menyampaikan ajaran-ajaran Islam , bahkan mengeluarkan fatwa tentu saja tindakan yang bukan saja ceroboh tetapi juga tidak sesuai dengan yang diteladankan Nabi Muhammad SAW. Alih-alih memberikan mimbar untuk berkhutbah Jum’at, orang-orang yang baru masuk Islam dibimbing oleh Nabi, dibekali sejumlah ilmu pengetahuan. Bentuk bimbingan yang paling nyata adalah dijadikannya mualaf sebagai orang yang berhak (mustahiq) menerima zakat.

Kenapa disebut ceroboh? Karena tidak semua orang dapat menyandang gelar ustadz, murabbi apalagi mufti. Tentu saja, siapa saja dapat menyandang gelar ustadz, mufti dan ulama sekalipun, termasuk mualaf, jika orang tersebut memenuhi kriteria-kriteria yang sangat ketat. Jika tidak, apa yang diceramahkan bukan saja berpotensi salah, tetapi juga berpeluang sesat dan tidak sesuai ketentuan Allah.

843 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan.
Articles
Related posts
Religius

Santri Lebih Kebal Paparan Radikalisme Daripada Anak SMA, Benarkah?

2 Mins read
Murid-murid dari Sekolah Menengah Atas (SMA) lebih rentan terpapar paham rdaikal terorisme dibandingkan para santri dari pesantren. Hal itu terjadi karena murid-murid…
Religius

Memaafkan Bukan Berarti Kalah, tapi Memaafkan adalah Ibadah

2 Mins read
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali dihadapkan pada situasi yang tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang di sekitar kita. Manusia tidak luput…
Religius

Munculnya Gerakan Hijrah yang Menyimpang dari Tuntunan Rasulullah

3 Mins read
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Prof Husniyatus Salamah Zainiyati, mengatakan, muncul tafsir tentang makna hijrah yang justru menyimpang dari tuntunan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *