Editorial

Ini Pandangan Prof Quraish Shihab Tentang Salam Lintas Agama

3 Mins read

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Ijtima Ulama pekan lalu mengeluarkan fatwa terkait salam lintas agama. Dalam fatwa itu disebutkan bahwa menggabungkan salam dalam berbagai agama dengan asan toleransi tidak dibenarkan atau menyalahi syariat. Alasannya penggabungan salam merupakan doa yang bersifat ubudiah karena harus mengikuti ketentuan syariat islam dan tidak boleh dicampuradukkan dengan salam agama lain.

Fatwa itu juga membahas tentang pelarangan penggunaan atribut hari raya agama lain, pemaksaan mengucapkan atau melakukan perayaan agama lain atau tindakan yang tidak bisa diterima oleh umat beragama secara umum.

Cendekiawan Muslim dan ahli tafsir Alquran Prof. Dr. Quraish Shihab memiliki penilaiannya sendiri soal hal tersebut.

“Bahkan kita bisa berkata, kita tidak akan berkata bolehkah atau tidak (mengucapkan Selamat Natal). Tapi sebenarnya bagus,” kata Quraish Shihab di YouTube Najwa Shihab pada 2018 lalu dikutip dari laman insertlive.com, Kamis (6/6/2024).

“Ketika bergembira, mari kita ikut bergembira. Ketika dia bersedih, mari kita berbelasungkawa,” lanjutnya.

Mantan Menteri Agama  itu memberikan ucapan selamat kepada agama lain tidak menjadikan seorang Muslim mengakui atau mempercayai agama tersebut.

Quraish Shihab menyebut akan lebih indah jika masyarakat dengan keberagaman agama bisa hidup rukun dan harmonis.

“Hidup ini baru menjadi indah kalau kita hidup harmoni. Gembira saat teman gembira dan sedih saat teman susah,” ucapnya.

***

Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman agama dan budaya. Di tengah keanekaragaman ini, praktik salam lintas agama telah menjadi bagian integral dari interaksi sosial kita sehari-hari. Namun, seperti banyak aspek kehidupan yang kompleks, praktik ini tidak lepas dari kontroversi.

Beberapa pihak memandangnya sebagai penyimpangan dari ajaran agama, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk penghormatan dan toleransi. Prof. Quraish Shihab, seorang ulama dan cendekiawan terkemuka, memberikan perspektif yang menyejukkan mengenai praktik ini. Pandangannya mencerminkan pemahaman yang mendalam dan bijaksana tentang pentingnya salam lintas agama dalam mempromosikan harmoni dan kerukunan di tengah masyarakat yang beragam.

Salam sebagai Bentuk Muamalah, Bukan Ubudiyah

Dalam pandangan Prof. Quraish Shihab, salam lintas agama seharusnya dipahami dalam konteks muamalah, bukan ubudiyah. Ubudiyah merujuk pada praktik-praktik ibadah yang merupakan inti dari pengabdian seorang individu kepada Tuhan, seperti sholat, puasa, dan doa. Ini adalah tindakan yang memiliki aturan khusus dalam setiap agama dan bersifat eksklusif bagi penganutnya. Dalam konteks ini, salam lintas agama tidak termasuk dalam kategori ibadah ritual yang eksklusif.

Sebaliknya, salam lintas agama lebih cocok dipahami sebagai bagian dari muamalah, yaitu interaksi sosial dan etika dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, salam digunakan sebagai bentuk penghormatan, sapaan, dan cara untuk memulai interaksi dengan orang lain. Ini adalah manifestasi dari kesopanan dan penghormatan dalam konteks sosial, yang sangat penting dalam membangun hubungan yang harmonis di masyarakat yang beragam.

Penghormatan dan Toleransi di Tengah Keragaman

Prof. Quraish Shihab menekankan bahwa salam lintas agama adalah simbol penting dari penghormatan dan toleransi. Dalam masyarakat yang plural seperti Indonesia, di mana berbagai agama dan keyakinan hidup berdampingan, penggunaan salam yang dikenal dalam tradisi agama lain adalah cara untuk menunjukkan penghargaan terhadap keberadaan dan keyakinan mereka. Ini adalah langkah kecil namun signifikan dalam mempromosikan kerukunan dan saling pengertian di antara berbagai komunitas agama.

Dengan menggunakan salam lintas agama, kita mengakui dan menghormati keberagaman yang ada di sekitar kita. Ini adalah bentuk nyata dari semangat Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Salam lintas agama membantu kita untuk menjembatani perbedaan dan memperkuat ikatan sosial, memperlihatkan bahwa kita bisa bersatu meskipun memiliki keyakinan yang berbeda.

Menolak Polarisasi dalam Interpretasi Agama

Kontroversi seputar salam lintas agama sering kali muncul dari interpretasi yang sempit dan kaku terhadap ajaran agama. Beberapa kelompok konservatif mungkin berpendapat bahwa penggunaan salam dari agama lain adalah bentuk pengkhianatan terhadap keyakinan mereka sendiri atau bentuk sinkretisme yang tidak bisa diterima. Namun, pandangan ini mengabaikan esensi dari salam sebagai bentuk interaksi sosial yang universal.

Prof. Quraish Shihab mengajak kita untuk melihat lebih dalam dan menghindari polarisasi yang berlebihan dalam interpretasi agama. Beliau menekankan pentingnya pemahaman yang inklusif dan dialog yang konstruktif dalam menghadapi perbedaan pandangan. Daripada memfokuskan pada perbedaan, kita harus mencari kesamaan dan memperkuat nilai-nilai bersama yang mendukung kerukunan dan perdamaian.

Membangun Kerukunan melalui Pendidikan dan Dialog

Salah satu cara untuk mengatasi kontroversi seputar salam lintas agama adalah melalui pendidikan dan dialog. Prof. Quraish Shihab mendorong masyarakat untuk memperdalam pemahaman mereka tentang pentingnya muamalah dan etika sosial. Pendidikan yang mempromosikan toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan dapat membantu masyarakat untuk lebih menerima dan menghargai praktik-praktik yang mencerminkan keragaman kita.

Dialog antaragama juga memainkan peran penting dalam memperkuat kerukunan. Dengan berdialog, kita dapat saling belajar dan memahami perspektif satu sama lain, serta membangun jembatan di antara komunitas yang berbeda. Dialog ini membantu untuk mengklarifikasi kesalahpahaman dan membangun dasar yang kuat untuk hubungan yang harmonis dan damai.

Kesimpulan: Merayakan Keberagaman dengan Menghormati Perbedaan

Pandangan Prof. Quraish Shihab tentang salam lintas agama memberikan kita pelajaran yang berharga tentang pentingnya menghormati perbedaan dan mempromosikan kerukunan di tengah masyarakat yang beragam. Salam lintas agama bukanlah persoalan ibadah eksklusif, tetapi bentuk interaksi sosial yang memperlihatkan penghormatan dan penghargaan terhadap orang lain.

Dalam konteks Indonesia yang plural, salam lintas agama adalah salah satu cara untuk merayakan keberagaman dan memperkuat semangat persatuan. Dengan memahami dan mengamalkan salam lintas agama sebagai bagian dari muamalah, kita dapat memperkuat ikatan sosial dan mempromosikan kerukunan di antara komunitas-komunitas yang berbeda.

Mari kita terus menghormati dan menghargai satu sama lain, menjadikan salam lintas agama sebagai simbol dari semangat toleransi dan kebersamaan. Dengan demikian, kita dapat menjaga Indonesia tetap damai dan harmonis, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

 

867 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan.
Articles
Related posts
Editorial

Intoleransi, Kekerasan, dan Bullying Tantangan Berat Dunia Pendidikan

2 Mins read
Dunia pendidikan masih menghadapi tantangan besar dalam menghadapi tiga dosa besar dunia pendidikan, intoleransi, kekerasan, dan bullying. Untuk itu butuh kerja bersama…
Editorial

Israel; Negara Kafir yang Wajib Dimusnahkan Bersama

1 Mins read
Perang Israel – Palestina yang terjadi sejak 1917 hingga kini belum reda. Perang yang tidak imbang itu mengakibatkan muslim Palestina mengalami kekalahan…
Editorial

Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera): Penting atau Tidak?

1 Mins read
Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) adalah program tabungan yang diperuntukkan bagi pekerja formal di Indonesia untuk memfasilitasi pembelian atau pembangunan rumah. Program ini…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *