Jaga Pilar

KH Abdullah bin Nuh: Al-Ghazali dari Cianjur

3 Mins read

Adalah KH Abdullah bin Nuh, ulama asal Cianjur, yang produktif menulis kitab. Karyanya cukup banyak. Sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab. Keilmuan yang luhur di bidang sastra Arab, fikih, ushul fikih, tasawuf, dan ilmu keislaman lainnya, menyebabkan beliau dijuluki al-Ghazali dari Cianjur. Kitab Ana Muslim Sunni Syafi’i Ghazali dan Minhaj al-‘Abidin menjadi dua kitab ikon karyanya di bidang tasawuf.  Sosok ulama ini menjadikan Cianjur memiliki ulama yang produktif dalam menyusun kitab, terlebih dalam bahasa pengantarnya yang berbahasa Arab.

Selain kitab tersebut, tercatat beberapa kitab lain yang mashyur. Sebut saja Kamus Arab-Inggris-Indonesia juga kumpulan syair dalam kitab Abyat wa Usthur. Dalam kajian ushul fikih, beliau tercatat menulis kitab La Thaifiyyah fi al-Islam. Kitab ini berasal dari naskah seminar yang disajikan di Universitas Islam Bandung (UNISBA) tahun 80an. Isinya menyajikan secara jelas posisi ushul fikih dalam pemikiran Islam, yang awalnya dihubungkan dengan fenomena ikhtilaf yang ada di pemikiran keislaman hingga sajian mengenai teori ijtihad.

Ushul Fikih: Cara Berfikir Ijtihadi

Penggalian hukum memerlukan metodologi khusus. Para ulama menyebutnya dengan istilah ushul fikih. Ilmu ini membahas berbagai kaidah yang digunakan untuk proses istinbath hukum dari dalil-dalil syariat.  Ragam kajian tentang teori, kaidah, kebahasaan, juga istilah khusus yang masuk pada wilayah keilmuan hukum Islam tak luput dikaji dalam beberapa sumber rujukan ushul fikih. Pemerhati kajian ilmu ini pasti sudah akrab ketika mendengar beragam kitab ushul fikih, misalnya al-Luma’ karya al-Syairazi, al-Mustashfa karya al-Ghazali, dan Jam’ al-Jawami karya al-Taj al-Subki.

Kitab La Thaifiyyah fi al-Islam menyajikan pokok kajian sebagaimana contoh kitab di atas. Namun, ditulis secara ringkas, jelas, dan dijadikan teks dalam seminar di UNISBA.  Salah satu pernyataan menarik yang diungkapkan oleh KH Abdullah bin Nuh adalah tidak ada sekte dalam Islam meskipun muncul beragam mazhab (لاطاءفية فى الاسلام بالرغم من وجود المذاهب). Pernyataan ini seolah menegaskan bahwa mazhab terbentuk dari ijtihad yang berbeda dengan sekte yang mengarah pada perpecahan. Mazhab mendorong pada tasamuhm bukan pada pertikaian dan perpecahan.  Pernyataan ini pun sekaligus menjadi awal narasi dalam menulis kitab ushul fikih ini.

Ijtihad menjadi entitas keilmuan yang metodologis. Ia berdasarkan pada epistemologi keilmuan yang dianggap ilmiah. Pada pembuka kitabnya, KH Abdullah bin Nuh menegaskan bahwa proses ijtihad menjadi wahana dalam tafaqquh fi al-din yang metolodologinya tidak terlepas dari proses istinbath.

Ushul fikih berhubungan dengan ijtihad, ijtihad melahirkan mazhad, dan mazhab menjadi kristalisasi dari semua proses ijtihad ulama. Proses berfikirnya menerapkan beragam pendekatan, baik sumber syariah, kebahasaan, maupun kaidah ushuliyyah lain. Karena keragaman cara berfikir, ijtihad melahirkan sikap tasamuh di antara berbagai mazhab, terutama pada empat mazhab yang dikenal hingga saat ini. Untuk melahirkan itu, KH Abdullah bin Nuh, mengaitkannya dengan sikap ta’alluf (saling mengasihi), tafahum (saling memahami), sampai ta’awun (saling menolong). Dalam konteks tafaqquh fi al-din, ketiga hal ini menjadi landasan dalam menyikapi perbedaan mazhab yang dikaitkan dengan dimensi sosial yang saling memahami.  Yang menyatukan semuanya adalah penerapan kaidah ushul fikih dengan ragam pendekatan di dalamnya.

Hal ini, menurutnya berbeda dengan sekte. Sekte mengarah pada al-hawa, bukan pada al-ra’yu. Hawa tidak dilandasi oleh cara berfikir yang benar, sesuai kehendak sendiri, dan dorongan untuk menguatkan pendapat kelompok, sehingga mendorong pada pertikaian dan perpecahan. Kukuh pada pendapat sendiri dan menyalahkan pendapat orang lain.

Sisi Menarik Kitab La Thaifiyyah fi al-Islam.

Karya KH Abdullah bin Nuh ini, disajikan dalam bentuk bab perbab, seperti halnya kitab lain. Namun, ada keunikan. Beliau menuliskannya bukan dengan redaksi bab melainkan prinsip dengan kata muqaddimah. Terdapat kira-kira 38 prinsip yang disajikan.

Pada beberapa lembaran awal, kitab ini menyajikan sisi historisitas ijtihad dan mazhab dalam bentang pemikiran Islam. Hadis dari Muadz bin Jabal, terkait dengan menghukumi dengan Al-Qur’an, Sunah, dan al-Ra’yu menjadi landasan awal dalam menguraikan ijtihad dan mazhab.

Pernyataan menarik di mulai dari kajian mengenai kaidah dalam memahami teks pada Al-Qur’an. Kitab ini menyajikan penjelasan lengkap mengenai muhkam, mutasyabih, mujmah, dan mubayyan. Oleh KH Abdullah bin Nuh, keempat analisis teks ini dijadikan titik awal dalam memahami dalil dan dalalah Dari konsep muhkam dan mubayyan menghasilkan dua analisis, yaitu nash dan zhahir.  Dari kedua lagi, diturunkan menjadi qath’i dan zhanni. Dari beberapa kaidah ini, teori dalil dibagi menjadi beberapa hal, yaitu qat’i al-dalil wa qath’i al-dalalah, qath’I al-dalil wa zhanni al-dalalah, zhanni al-dalil wa qath’i al-dalalah, dan zhanni al-dalil wa zhanni al-dalalah.

Selain istilah di atas, paparannya mengarah pula pada teori takwilMenurutnya, takwil adalah memalingkan makna zhahir pada pendapat lain yang lebih kuat. Teori ini sering ditemukan dalam ilmu tafsir, apabila dihubungkan dengan sisi Ketuhanan dengan artikel kata yang disimbolkan dengan jism pada manusia, seperti yad Allah dan Wajh Allah. Dalam ushul fikih, ditemukan pula istilah takwil.

Klasifikasi takwil terbagi dua, yaitu yang dekat (qarib) juga yang jauh (ba’id).  Dari kedua hal ini, KH Abdullah bin Nuh menawarkan gagasan dengan penjelasan wajh al-qarib dan wajh al-ba’id. Takwil al-ba’id dijelaskan contoh dan bentuk arah teksnya, sehingga pembaca menjadi mudah dalam memahami alur berfikir yang disajikan melalui beberapa istilah di atas.

Selain kaidah pokok ini, KH Abdullah bin Nuh, menguraikan beberapa prinsip lain. Pembaca dapat membaca dan menelaahnya satu persatu setiap muqaddimah (prinsip) yang semuanya memiliki alur narasi yang logis, runtut, dan koheren. Struktur pembahasan yang ringkas pada setiap konten membantu pembaca dalam menangkap maksud setiap istilah yang dijelaskan. Wallahu A’lam.

Dosen di Maleber Karangtengah Cianjur.

1396 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Biografi Assaat, Presiden Republik Indonesia (penjabat)

3 Mins read
Mr. Assaat adalah pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta (27 Desember 1949 – 15 Agustus 1950)….
Jaga Pilar

Tukang Kebun Indonesia

3 Mins read
Ketika para pemuda Indonesia mengucapkan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, dunia sedang menjalani masa kemakmuran. Tekad mereka menyatakan “satu nusa, satu…
Jaga Pilar

Ki Mangunsarkoro, menteri sederhana yang setia pakai sarung

2 Mins read
Kesederhanaan dan kesahajaan sulit sekali ditemukan pada para pejabat sekarang. Bukannya memberi teladan ke bawahan, banyak pejabat doyan korupsi. Lebih parah lagi, segala…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *