Jaga Pilar

Ki Mangunsarkoro, menteri sederhana yang setia pakai sarung

2 Mins read

Kesederhanaan dan kesahajaan sulit sekali ditemukan pada para pejabat sekarang. Bukannya memberi teladan ke bawahan, banyak pejabat doyan korupsi. Lebih parah lagi, segala macam pengadaan barang bisa jadi ajang korupsi.

Baru lalu ditemukan kasus korupsi sapi impor, mesin jahit, hingga sarung. Belakangan ini, muncul tersangka korupsi pengadaan Alquran dan baju dinas.

Ki Mangunsarkoro nama lengkapnya adalah Ki Sarmidi Mangunsarkoro. Dia lahir 23 Mei 1904 di Solo. Dibesarkan di lingkungan keraton, dia memilih karir sebagai guru. Ki Mangunsarkoro pernah menjabat sebagai kepala sekolah HIS Budi Utomo Jakarta.  Atas permintaan penduduk Kemayoran dan restu Ki Hadjar Dewantoro, dia mendirikan Perguruan Tamansiswa di Jakarta. Perjuangannya di bidang pendidikan berpuncak sebagai menteri pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan pada kabinet Hatta II.

Sewaktu menjabat menteri, dia ikut menjadi pelopor lahirnya universitas tertua di Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Dia juga pendiri Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, sekarang Institut Seni Indonesia (ISI). Orang kepercayaan Ki Hajar Dewantoro ini adalah salah satu peletak dasar sistem pendidikan nasional di Indonesia.

Ki Mangunsarkoro juga aktif di politik. Dia tokoh yang tak mau kompromi (non-kooperasi) dengan Belanda. Dia pernah terpilih sebagai Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI). Penjara juga bukan tempat asing bagi pejuang seperti Ki Mangunsarkoro. Pada saat agresi Belanda II di Yogyakarta, Ki Mangunsarkoro pernah ditahan di penjara Wirogunan.

Untuk menghormati jasanya, pada November 2011, dia ditetapkan sebagai pahlawan nasional bersama Buya Hamka, IJ Kasimo, Pakubuwono X, I Ketut Pudja, Idham Chalid, dan Sjafroeddin Prawiranegara. Sebuah jalan di kawasan Menteng, Jakarta diberi nama Jl Ki Mangunsarkoro.

Selain sumbangan gagasan dan pemikiran bagi kemajuan bangsa dan negara, Ki Mangunsarkoro dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Bersama Mohammad Syafei (INS Kautaman, mantan menteri pendidikan), Mohammad Isha Anshary (ulama Masyumi), dan Buya Hamka, dia dikenal sebagai sosok yang setia dengan sarung dan peci.

Busana bagi dia tidak perlu bermewah-mewah. Busana yang penting bisa menguatkan identitas. Meskipun menjadi menteri, kemanapun dia pergi, ke istana maupun gedung parlemen, tetap mengenakan sarung. Oleh karena itu, sering namanya dipelesetkan menjadi Ki Mangun Sarungan. Lebih bersahaja lagi, sewaktu menjabat menteri, dia tidak pernah mau tinggal di rumah dinas menteri!

Kalau dibandingkan dengan pejabat sekarang, sulit menemukan tandingan bagi kesahajaan Ki Mangunsarkoro. Jangankan memakai sarung ke setiap acara kenegaraan, sarung pun dikorupsi. Alamak!

Titis Widyatmoko

Sumber: https://www.merdeka.com/peristiwa/ki-mangunsarkoro-menteri-sederhana-yang-setia-pakai-sarung.html

1577 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Laksamana Muda Maeda Tadashi, Pemilik Rumah yang Menjadi Tempat Penyusunan Naskah Proklamasi

3 Mins read
Laksamana Muda Maeda Tadashi (lahir di Kagoshima, Jepang, 3 Maret 1898 – meninggal 13 Desember 1977 pada umur 79 tahun) adalah seorang…
Jaga Pilar

Biografi dan Peran Soegondo Djojopoespito, Tokoh Kongres Sumpah Pemuda

2 Mins read
Soegondo Djojopoespito adalah salah satu tokoh penting dalam kongres Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober setiap tahunnya. Sebelum tercetusnya sumpah…
Jaga Pilar

Sejarah Hidup Guru Bapak Bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto

3 Mins read
Pada suatu ketika, di zaman pemerintah kolonial, pemerintah Hindia Belanda pernah menyebut seorang pemimpin Indonesia dengan sebutan agung, yakni De Ongekroonde van Java,…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *