Jaga Pilar

Kirab Budaya “Grebeg Besar Gunung Wijil”

3 Mins read

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, sedangkan manusia? Manusia mati meninggalkan nama. Demikianlah ungkapan sebuah peribahasa mengajarkan kita, bahwa jasa dan perilaku seseoranglah yang akan membekas dan akan tetap hidup di hati manusia setelahnya. Kira-kira begitulah ungkapan yang tepat dalam menggambarkan sebuah perayaan budaya Grebeg Besar Gunung Wijil yang digelar di Dusun Kampung, Kelurahan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Kegiatan budaya ini dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Idul Adha yaitu  pada tanggal 11 Juli 2022.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bupati Gunungkidul, Sunaryanta; Disdikpora Provinsi DIY; Disdikpora Kabupaten Gunungkidul, Panewu Ngawen, Sugito; Kanit Samapta Polsen Ngawen, AIptu Sarana; Lurah Kampung, Suparno; Pampanga Kalurahan Kampung, serta warga masyarakat Kalurahan Kampung.

Grebeg Besar Gunung Wijil merupakan kegiatan tahunan untuk memperingati wafatnya R. Ng. (Raden Ngabei) Djoyowikromo Manggolo Yudo pada tanggal 11 bulan Besar (Zul-Hijjah) dalam hitungan bulan hijriah, dimana beliau adalah pejuang nasional yang berperang bersama dengan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyowo) mengusir penjajah Belanda. Grebeg pada tahun ini mengambil tema “Kridaning Warga Reksa Budaya” yang artinya seberapa besar kemampuan masyarakat untuk berkarya. Demikian pula yang disampaikan oleh Kepala Dusun Gudang.

“Kridhaning warga reksa budaya itu warga bekerjasama untuk saling bahu-membahu untuk mengemas suatu budaya, istilahnya membuat event Grebeg Besar Gunung wijil itu kita kerjakan berdasarkan gotong royong masyarakat Gudang” kata Wagino.

Tujuan diadakannya Grebeg Besar Gunung Wijil untuk melestarikan budaya kita, jangan sampai punah ditelan dengan kemajuan zaman. Yang kedua itu, kita untuk menghargai dan menghormati para leluhur kita, pejuang-pejuang kita yang ada paling dekat antara kita.

“Kalau di gudang otomatis kita itu menghargai perjuangan Raden ngabehi Djoyo wikromo. Beliau adalah pejuang yang bergabung dalam bregodo kawandoso Joyo, di mana brogodo kawan doso djoyo itu adalah pasukan untuk mengajarkan Raden Mas Said untuk menjadi Raja Mangkunegaran pertama” tambah Wagino.

Kemeriahan Grebeg Besar Gunung Wijil ini kembali menjadi warna bagi warga setempat di tahun 2022 ini. Masyarakat Desa Kampung dan sekitarnya tumpah ruah bersemangat mengikuti rangkaian prosesi kegiatan budaya ini. Rangkaian kegiatannya yaitu kirab, upacara, dan berbagai penampilan seni seperti musik bambu, gejok lesung, senam, reog, laras madyo dan gedruk. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh UMKM setempat dengan menjual hasil karyanya. Pasalnya, sudah dua tahun kegiatan budaya ini hanya dilaksanakan secara tertutup (tanpa dimeriahkan oleh warga setempat) akibat pandemi COVID-19 yang menghantam nyaris seluruh pelosok dunia.

“Jadi selama covid kemarin itu enggak diadakan diadakan tapi primer hanya sekitar 20 orang dari paguyuban taman kautaman, tidak ada ritual di makam Raden ngabei Joyo wikromo” ujar Wagino.

Antusiasme masyarakat tidak hanya terlihat ketika acara berlangsung. Namun, sejak dari proses persiapan acara yang mana warga Gudang ikut serta berperan dengan menyumbangkan tenaga – kerja bakti membersihkan tempat yang akan digunakan sepanjang acara, membuat gunungan sayur dan gunungan telur, serta membuat berbagai ornamen hiasan – dana dan pikiran demi terlaksananya Grebeg Besar gunung Wijil.

Rangkaian kegiatan yang pertama yaitu prosesi arak-arakan atau yang oleh masyarakat sekitar sebut dengan kirab dilakukan mulai dari depan rumah Dukuh Gudang ke Kompleks pemakaman tempat Pusara R. Ng. Djoyo Wikromo. Prosesi Kirab menjadi pemandangan yang tidak biasa bagi masyarakat sekitar karena diikuti oleh banyak orang dengan beragam corak dan unsur.

Di bagian depan, terdapat komandan pleton yang memandu kirab. Di belakangnya, terdapat barisan orang-orang yang memakai pakaian adat Jawa, batik, hingga seragam sekolah. Sebuah gunungan hasil bumi berupa sayur mayur dan palawija juga turut dipanggul oleh empat orang. Uniknya, gunungan telur yang jumlahnya sebanyak 2022 buah tidak ikut diarak dalam proses kirab, dimana ditahun-tahun sebelumnya ikut diarak. Gunungan telur sudah disusun dan disiapkan di titik akhir pemberhentian kirab, yaitu di Gunung Wijil.

“Sesuai tanggal pelaksanaan kalau sekarang ini Tahun 2022 maka telur yang jumlahnya 2022, tahun 2023 jumlahnya tambah satu lagi dan seterusnya. Telur itu adalah cikal bakal kehidupan”  ungkap Yogi Pradono, Punggowo Baku Mangkunegara.

Sesampainya di makam R. Ng. Djoyo Wikromo (Gunung Wijil), acara dilanjutkan dengan upacara dan pembacaan riwayat singkat Raden Ngabei Djoyo Wikromo oleh perwakilan Mangkunegaran. Begitu riwayat singkat selesai dibacakan, acara langsung dilanjutkan dengan ziarah dan mendoakan mendiang R. Ng. Djoyo Wikromo sebagai bentuk penghormatan dan mengenang atas segala jasa-jasanya. Lantunan doa dan taburan bunga mewarnai prosesi ini. Suasana penuh khidmat pun menyelimuti kegiatan ini.

Begitu doa berakhir, suara masyarakat langsung ramai seakan tak sabar menyambut kegiatan yang selanjutnya. Benar saja, panitia mulai melonggarkan barisan warga agar dapat mendekat ke dua gunungan yang sudah berdiri gagah di tengah lautan manusia itu. Setelah panitia mempersilakan warga untuk merebut isi gunungan, masyarakat yang mengikuti upacara Grebeg ini langsung menyambut dan mengambil isi gunungan tersebut. Satu per satu isi gunungan itu ludes diperebutan oleh warga.

Persembahan gunungan hasil bumi melambangkan wujud syukur masyarakat Desa Kampung kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah diberikan hasil bumi yang mencukupi kehidupan sehari-hari warga. Rasa syukur ini kemudian diwujudkan dalam bentuk gunungan yang terbuat dari sayuran dan palawija. Sedangkan, perebutan gunungan melambangkan ekspresi kegembiraan warga dan wujud ngalap berkah dari gunungan.

Setelah upacara berakhir, kegiatan dilanjutkan di lapangan Volly Gudang dekat rumah Kepala Dukuh Gudang. Kegiatan tersebut yaitu sambutan dari Ketua Panitia, sambutan dari Panewu Ngawen, sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan Gunung Kidul, dan sambutan dari Bupati Gunung Kidul, serta berbagai penampilan kesenian oleh warga setempat. Seluruh tokoh masyarakat menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan tetap lestari hingga anak cucuk generasi berikutnya.

Mey Wulandari

Mahasiswi akhir yang sedang mencari banyak pengalaman.
1401 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Biografi R. Suprapto, Pahlawan Revolusi dari Jakarta

2 Mins read
Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto merupakan salah satu korban dalam G30SPKI, beliau meninggal di Lubangbuaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur…
Jaga Pilar

Biografi Assaat, Presiden Republik Indonesia (penjabat)

3 Mins read
Mr. Assaat adalah pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta (27 Desember 1949 – 15 Agustus 1950)….
Jaga Pilar

Tukang Kebun Indonesia

3 Mins read
Ketika para pemuda Indonesia mengucapkan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, dunia sedang menjalani masa kemakmuran. Tekad mereka menyatakan “satu nusa, satu…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *