Featured

Masjid Cheng Hoo Menginspirasi Wisata Religi Indonesia

2 Mins read

Muslim Tionghoa di Indonesia terus memberikan sumbangan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Terutama bila dilihat dari pengaruh dan kontribusinya dalam ikon baru wisata religi melalui pembangunan masjid Cheng Hoo dengan arsitektur khasnya perpaduan antara budaya Arab, Cina dan local di beberapa kota di Indonesia.

Menurut Doktor  Choirul Mahfud, dosen dan peneliti Muslim Tionghoa dari ITS, menyatakan dalam kuliah umum di Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel bahwa komunitas muslim Tionghoa di Indonesia telah menunjukkan kontribusinya yang menarik hati masyarakat luas dalam aspek wisata religius dari adanya masjid Cheng Hoo. “Wisata religius merupakan satu dari sekian pilihan favorit masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam”, ungkapnya.

Choirul Mahfud yang juga menjadi wakil kepala Pusat Kajian Kebijakan Publik Bisnis dan Industri (PKKPBI ITS) menjelaskan bahwa masjid Cheng Hoo di Indonesia selain menjadi tempat pilihan untuk ibadah sholat, juga cocok untuk destinasi wisata. “Saya melihat banyak pemerintah daerah turut mendukung berdirinya masjid Cheng Hoo di beberapa kota di Indonesia, karena ada nilai tambah dan nilai manfaat dari aspek wisata dan spiritual”, jelasnya.

Dari hasil penelitiannya yang telah diterbitkan di jurnal bereputasi internasional, Choirul merasa optimis terhadap kemajuan kontribusi dan sumbangan komunitas muslim Tionghoa dalam pembangunan masjid Cheng Hoo di Indonesia.

Hal ini, menurutnya, bisa dipahami dengan melihat respon masyarakat yang sering mampir sholat dan menikmati wisata oleh-oleh dan kuliner di sekitar masjid Chenghoo di Surabaya dan Pandaan Pasuruan, Jawa Timur. Juga fenomena yang terjadi di Masjid Cheng Hoo di luar Jawa. “Ini bisa dipahami sebagai relasi positif antara eksistensi masjid terhadap gairah masyarakat dalam wisata religius,” ungkapnya.

“Dalam aspek ini, komunitas Muslim Tionghoa tidak saja dinilai berhasil dalam pembangunan fisik masjid Cheng Hoo yang bernuansa Islam dan etnik Tionghoa tetapi juga menginspirasi perlunya membangun citra positif wisata religius di berbagai kota di Indonesia,” imbuh mantan Humas ITS ini.

Masjid Cheng Hoo Pasuruan

Salah satunya, lanjut Choirul, Masjid Cheng Ho Pasuruan yang berada di ruas jalan utama Malang-Pasuruan juga sebagai salah satu tujuan wisata di daerah tersebut. Sehingga, bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Pasuruan belum lengkap jika tidak mengunjungi masjid yang dominan berwarna merah itu. “Masjid ini merupakan ikonnya kota Pandaan. Jadi kalau berkunjung ke Pandaan tapi belum ke masjid Cheng Ho belum lengkap,” ujarnya.

Sepintas, bangunan masjid itu seperti vihara atau tempat ibadah umat Buddha, apalagi warna dinding masjid yang didominasi warna merah dan dikelilingi lampu lampion. Nama masjid ini diambil dari tokoh Muhammad Cheng Ho, pelaut asal Provinsi Xinjiang, China yang juga adalah seorang Muslim yang taat. Pada 1405, atas perintah kaisar Dinasti Ming yang berkuasa saat itu, Cheng Hoo mengarungi tujuh samudera untuk menyebarkan pesan damai ke seluruh negara yang dilintasinya.

Adalah Usman pengunjung asal Mojokerto, mengaku sangat terpesona setiap kali melihat masjid tersebut. Bahkan ia menyebut masjid yang diresmikan pada 2008 itu sebagai ikon toleransi antaragama yang selama ini dipelihara warga Kabupaten Pasuruan. “Biasanya kalau masjid kan kubah. Ini tidak. Jadi memang ada akulturasi budaya pada masjid ini. Arsitekturnya bagus banget,” katanya. (*)

Nama lengkapnya Christian Heru Cahyo Saputro. Mantan Kontributor indochinatown.com, Penggiat Heritage di Jung Foundation Lampung Heritage dan Pan Sumatera Network (Pansumnet).

1401 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Featured

Masa Depan Terorisme di Era Digital

2 Mins read
Mukhtar Khairi, salah satu mantan teroris yang sudah mengkhidmatkan dirinya untuk bangsa dan negara, bercerita pada sebuah forum yang bertajuk “Narasi Toleransi”…
Featured

Serat Wedhatama, Arab-Oriented, dan Rosing Rasa

2 Mins read
Khilafah, seperti halnya tetek-bengek kebudayaan Islam yang tak mutlak dapat dilepaskan dari wadah ke-“Arab”-annya, merupakan hal yang tak dapat begitu saja terimplementasikan…
Featured

Kelompok Islam Radikal di Minangkabau, Bagaimana Menanganinya?

3 Mins read
Minangkabau tidak ubahnya menjadi arena pertempuran besar. Minangkabau tidak pernah bisa dilepaskan dari pergesekan-pergesekan tajam. Pergesekan-pergesekan itu terkait dengan wacana, ide, kultur….
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *