Featured

Mba Kemis: Pendakwah Islam di Ujung Barat Blambangan

3 Mins read

Pilarkebangsaan.com. Perkembangan Islam di Banyuwangi atau yang dulunya dikenal dengan Blambangan tidak dapat dipungkiri bahwa pada era-era sebelumnya terjadi sebuah dialektika antara Hindu lokal—animisme/dinamisme dan Islam pada masa Kerajaan Blambangan.

Peran pendakwah Islam di bumi Blambangan muncul satu nama Abdurrahim Bauzir atau yang kiat disapa Datuk Malik Ibrahim yang masyhur di kalangan masyarakat sekitar. Dalam hasil riset Arif Subekti yang bertajuk “Ekspansi Kompeni Hingga Sanad Kiai-Santri: Sejarah Islamisasi Ujung Timur Pulau Jawa Abad XVII—XX”, Datuk Ibrahim merupakan seorang Ulama pendakwah Islam dari Yaman yang masih ada hubungan darah dengan bani Hasyim yang singgah ke Nusantara pada 1770 M, take record dakwahnya juga tersebar di Loloan, Jembrana, Pulau Bali. Kini Datuk Malik Ibrahim dimakamkan di Banyuwangi Kota.

Selain datuk Ibrahim, proses Islamisasi di tanah Blambangan sisi Barat tepatnya di Dusun Krajan, Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru dan sekitarnya, terdapat satu sosok pendakwah Islam yang rekam jejaknya tidak umum diketahui banyak kalangan. Yakni Syekh Sayyid Abdullah atau akrab disapa “Mba Kemis”(Buyut/Mbah/Sesepuh), merupakan salah satu pendakwah Islam dan seorang wali Allah di tanah Kalibaru.

Berhubung letak georafis Kecamatan Kalibaru berdekatan dengan Kabupaten Jember, tidak heran dialektika masyarakat setempat didominasi bahasa Madura. Maka dari itu julukan “Mba” kepada Syekh Sayyid Abdullah dalam grammatical bahasa Madura berati “sesepuh”, yang digunakan masyarakat sekitar sebagai bentuk rasa penghormatan dan memuliakannya. Julukan “Kemis/Kamis” konon karena ditemukannya makam Sayyid Abdullah tersebut oleh masyarakat setempat tepat di hari Kamis.

Dakwah Mba Kemis

Sayyid Abdullah konon yang masyhur dari pengakuan masyarakat dan beberapa Ulama setempat merupakan adik dari Abdurrahim Bauzir (Datuk Malik Ibrahim) Banyuwangi. Rekam jejak dakwah Sayyid Abdullah di wilayah Kalibaru bisa dipastikan tidak jauh dari tahun dimana Datuk Ibrahim menanam dakwahnya di tanah Blambangan, yakni berkisar pada tahun 1770 hingga 1800-an.

Seperti ulama pada umumnya, Sayyid Abdullah gigih dalam mendakwahkan Islam di tanah Jawa, tepatnya Banyuwangi sisi Barat. Misi utamanya yaitu menegakkan akidah Islam dengan pendekatan budaya secara perlahan sebagaimana para Walisongo yang kala itu penduduk Kalibaru masih menggenggam erat animisme—dinamisme dan percaya kepada roh-roh.

Dari buah dakwahnya yang bisa kita lihat Islam di Banyuwangi khususnya Kalibaru mengalami perkembangan yang signifikan yang ditandai dengan mulai berdirinya bangunan masjid dan beberapa pesantren. Tidak diketahui secara pasti biografi Sayyid Abdullah secara lengkap mulai dari tanggal lahir hingga peran atau perluasan dakwahnya di Banyuwangi, karena keterbatasan sumber dan minimnya referensi literatur.

Tidak diketahui secara pasti wafat dan mulai ditemukannya makam Sayyid Abdullah, bahkan hingga kini pun informasi warga sekitar dan yang beredar di beberapa media sosial belum menunjukkan data-data yang relevan. Awal kali ditemukan dalam cerita masyhur penduduk setempat masih berupa tumpukan batu yang disusun sebagaimana makam-makam kuno terdahulu.

Makam Mba Kemis

Makam Mba Kemis terletak di lereng Gumitir, yaitu sebuah bukit yang menjadi perbatasan antara Banyuwangi dan Jember. Akses menuju makam Mba Kemis pun terkadang sedikit terkendala karena masih berupa jalan tanah dan sebagian susunan batu. Tidak heran jika musim nembherek (Bahasa Madura lokal)/penghujan aksesnya kerap licin.

Antusias peziarah lokal (masyarakat Banyuwangi) dalam ngalap bearokah ke makam Mba Kemis tidak bisa dipungkiri setiap minggunya ramai dikunjungi. Dari absensi data tamu yang hadir dari beberapa kecamatan di Banyuwangi, diantaranya Srono, Glenmore, Rogojampi, Genteng, dan Kecamatan lainnya. Bahkan peziarah yang datang dari luar kota dan pulau, mulai dari Bondowoso, Situbondo, Jember, Jakarta, Jawa Barat, Pasuruan, Surabaya, Madura, Probolinggo, Lumajang, bahkan pulau Bali.

Hingga saat ini, peziarah ramai berkunjung ke makam Mba Kemis terutama hari Kamis sore-malam Jum’at. Bahkan setiap malam Jum’at legi (dalam kalender Jawa), masyarakat setempat menggelar istighasah bersama yang diyakini akan mendapat keberkahan dunia akhirat dengan perantara Syekh Sayyid Abdullah.

Kini makam Mba Kemis sejak beberapa puluh tahun terakhir sejak ditemukannya direnovasi dan diperlakukan sebagaimana Ulama sesepuh pada umumnya. Namun, seiring berjalannya waktu nampaknya gubuk/penutup makam Sayyid Abdullah membutuhkan perhatian dan pembangunan lebih.

Baca juga:  Sabilul Muhtaj: Syarah Berbahasa Jawa al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah Karangan Kiai Anwar Mertapada Cirebon (1860)

Wallahu a’lam.

ALI MURSYID AZISI, Penulis artikel ringan dan jurnal ilmiah. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Selengkapnya baca di sini I

2121 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Featured

Joki Strava, Fenomena Haus Validasi di Era Digital

2 Mins read
Di era digital saat ini, tren dan fenomena baru terus bermunculan, termasuk jasa yang tidak biasa seperti “Joki Strava”, seseorang dibayar untuk…
Featured

Gen Z dan Milenial: Memilih Pengalaman daripada Kepemilikan

2 Mins read
Generasi Milenial dan Gen Z sering kali dicirikan dengan preferensi mereka yang kuat terhadap pengalaman hidup daripada kepemilikan barang material. Fenomena ini…
Featured

Meneladani Metode Dakwah Moderasi Sunan Bonang

1 Mins read
Sunan Bonang atau yang bernama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim merupakan putra keempat dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, putri Arya…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *