Religius

Meneladani Semangat Pembebasan Nabi ‎(Refleksi Maulid Nabi Muhammad Saw. 1443 H.)‎

3 Mins read

Pilarkebangsaan.com. Pada hakekatnya, peristiwa kelahiran seorang anak manusia ‎merupakan hal yang biasa terjadi di muka bumi ini. Menjadi istimewa, ‎ketika seseorang yang lahir kemudian mampu memberikan kontribusi yang ‎besar bagi sejarah peradaban manusia. Dia berhasil menggoreskan tinta ‎emas dalam catatan kehidupannya, mengubah kondisi masyarakat yang ‎penuh dengan kebiadaban, ketertindasan, ketidakadilan, kebodohan, dan ‎kemiskinan, menjadi sebuah masyarakat yang beradab, merdeka, cerdas, ‎egaliter, toleran, dan hidup dalam suasana penuh keadilan dan ‎kesejahteraan. ‎

Pelbagai catatan positif inilah yang membedakan seorang manusia ‎dengan lainnya dalam menapaki kehidupan. Dan, ini yang terdapat pada ‎diri Rasulullah Muhammad Saw. Sehingga pantas jika peristiwa kelahiran ‎beliau (Maulid Nabi) menjadi momen bersejarah yang selalu lekat dalam ‎ingatan umat Islam dan diperingati setiap tahun.‎

Masyarakat Arab Pra-Islam

Kondisi masyarakat Arab jahili pra-Islam pada waktu Muhammad ‎dilahirkan, bukanlah sebuah tatanan masyarakat yang ideal. Pelbagai ‎kebobrokan melingkupi seluruh sendi kehidupan; agama, sosial-politik, ‎budaya dan sendi-sendi kehidupan lainnya.‎

Dalam ranah agama, paham paganisme (penyembahan terhadap ‎berhala) menjadi keyakinan yang mendarah daging bagi masyarakat Arab ‎ketika itu. Bahkan, menurut catatan sejarah setiap suku memiliki berhala ‎sendiri. Takhayul bagi mereka adalah sebuah agama yang kuat, seluruh ‎sendi kehidupan mereka dikendalikan oleh takhayul.‎

Kehidupan sosial-politik saat itu juga sangat memprihatinkan. ‎Fanatisme kesukuan menjadi harga mati. Setiap orang bangga akan ‎eksistensi sukunya, sehingga tidak ada ruang bagi orang lain di luar ‎sukunya. Mereka selalu menganggap bahwa hanya suku atau kelompoknya ‎yang paling baik dan berkuasa. Maka, ketika sentimen kesukuan ini ‎dinodai, pertumpahan darah pun tak dapat dielakkan lagi.‎

Di sisi lain, masyarakat ketika itu sangat memarginalkan posisi ‎perempuan. Eksistensi perempuan tidak dihargai sama sekali. Mereka ‎dianggap sebagai warga kelas dua yang tidak memiliki harkat dan ‎martabat sebanding dengan kaum laki-laki. Keberadaan mereka, baik ‎secara sosial-politik, budaya maupun ekonomi tidaklah bebas. Bahkan ‎mereka dianggap sebagai beban hidup. ‎

Kondisi yang tidak kalah buruknya terjadi pada aspek budaya. Sejarah ‎menyebut masyarakat Arab ketika itu dengan istilah jahiliyah (masa ‎kebodohan). Ilmu pengetahuan menjadi barang langka. Masyarakat Arab ‎pada waktu itu, menganggap belajar baca-tulis adalah suatu hal yang sia-‎sia dan hanya buang-buang waktu saja. Kondisi seperti ini yang pada ‎gilirannya menyebabkan mereka berpikir sempit, lebih mengedepankan otot ‎daripada otak. Setiap persoalan diselesaikan dengan cara kekerasan, tidak ‎dengan pikiran jernih.‎

Di tengah kondisi masyarakat yang demikian rusak di berbagai sendi ‎kehidupan itulah, lahir seorang anak manusia yang kelak merombak ‎seluruh tatanan kehidupan jahiliyah, membebaskan masyarakat dari ‎kebodohan menuju pencerahan, kebiadaban menjadi keberadaban, serta ‎ketertindasan menuju kemerdekaan dengan pancaran sinar ilahi, dialah ‎Muhammad saw.‎

Semangat Pembebasan

Sejalan dengan bergulirnya waktu, pada usianya yang ke-40, ‎Muhammad Saw mendapat titah berupa wahyu dari Allah Swt. untuk ‎menjadi seorang Rasul (utusan). Mulai saat itu, Muhammad Saw resmi ‎diangkat menjadi seorang Rasul yang mengemban misi profetik, ‎menyebarkan risalah ilahiyah, menegakkan dakwah amar makruf nahi ‎munkar.‎

Sadar akan amanat yang telah diembankan kepadanya, maka ‎kemudian beliau menyusun strategi dakwah untuk membebaskan ‎masyarakat Arab dari belenggu kemusyrikan, kungkungan kebodohan, ‎cengkeraman penderitaan dan penindasan, serta memperjuangkan harkat ‎dan maratabat manusia sesuai dengan kodratnya.‎

Perlahan tapi pasti, beliau mulai mengikis paham paganisme, ‎menghilangkan kemusyrikan menuju masyarakat tauhid, mengubah ‎kepercayaan kepada takhayul menuju rasionalitas di bawah bimbingan ‎wahyu, membebaskan kaum mustadh’afin (lemah) dari ketertindasan ‎menuju masyarakat merdeka, serta mengangkat harkat dan martabat ‎perempuan sesuai dengan kodratnya sebagai manusia.‎

Dalam kurun waktu 23 tahun masa kenabiannya, beliau berhasil ‎membebaskan masyarakat dari beragam bentuk kejahiliyahan; baik dalam ‎bidang akidah, ibadah, ilmu pengetahuan, sosial-politik-ekonomi maupun ‎segala sendi kehidupan lainnya. Selama bentangan waktu tersebut, dalam ‎menjalankan misi dakwahnya, dengan dilandasi semangat pembebasan ‎‎(liberatif), pencerahan (enlightenment) dan perbaikan (reformasi) sesuai ‎dengan petunjuk wahyu, beliau sukses menciptakan sebuah tatanan ‎masyarakat madani (berperadaban) yang penuh dengan semangat religius, ‎mencintai ilmu pengetahuan, berpikir rasional di bawah bimbingan wahyu, ‎serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.‎

Singkatnya, kehadiran seorang Muhammad di tengah kondisi ‎masyarakat yang bobrok baik kehidupan agama maupun sosialnya, mampu ‎memberikan nuansa kehidupan baru yang lebih agamis, membebaskan dan ‎mencerahkan.‎

Akhirnya, melalui refleksi Maulid Nabi Muhammad Saw kali ini, semoga ‎di tengah musibah dan bencana yang tak henti-hentinya mendera bangsa ‎ini, di saat keutuhan sebagai bangsa dinodai oleh perilaku oknum-oknum ‎yang tidak bertanggung jawab, ketika penegakan hukum dalam tanda ‎tanya besar, semoga hadir di hadapan kita sosok manusia-manusia religius ‎yang memiliki semangat pembebasan (liberatif), pencerahan ‎‎(enlightenment) dan perbaikan (reformatif). Sehingga mampu ‎menyinergikan antara komitmen keagamaan (spiritual) dan kemanusiaan ‎‎(sosial), demi terwujudnya masyarakat religius yang menjunjung tinggi ‎nilai-nilai kemanusiaan. ‎

* Ruang Inspirasi, Selasa, 19 Oktober 2021 / 12 Rabi’ul Awwal 1443 H.

Oleh: Didi Junaedi

1401 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Religius

Gempa Cianjur dan Wujud Intoleransi di Tengah Persoalan Sosial

2 Mins read
Sangat disayangkan ketika beredar sebuah video yang menampilkan warga yang sedang mencopot logo bertuliskan gereja reformed di sebuah tenda bantuan korban gempa…
Religius

Belajar dari Peran Kiai dan Pondok Pesantren Yang Adil Gender

4 Mins read
Melihat lembaga pendidikan keagamaan Indonesia yang mulai bertransformasi dengan pernak pernik keilmuan modern, penting kiranya kita juga mengaca dari pola pengasuhan pesantren…
ReligiusTelaah

Titik Balik Peradaban Islam, Dari Era Keemasan Hingga Mundur Perlahan

4 Mins read
Sekarang makin lama makin sedikit kapal-kapal Jawa belayar ke Utara, ke Atas Angin, ke Campa ataupun ke Tiongkok. Arus kapal dari selatan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *