Jaga Pilar

Mengenal Sosok Pahlawan Nasional Brigadir Jenderal TNI Anumerta Ignatius Slamet Riyadi

3 Mins read

Slamet Riyadi, seorang Pahlawan Nasional Indonesia, pada awalnya bernama Sukamto. Slamet Riyadi lahir di Donokusuman, Solo, pada tanggal 28 Mei 1926. Slamet Riyadi adalah putra dari Idris Prawiropralebdo, seorang perwira anggota legiun Kasunanan Surakarta. Karakter yang sangat menonjol dari sosok Slamet Riyadi adalah kecakapan dan keberaniannya, terutama setelah Jepang bertekuk lutut dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Ia merupakan pencetus pasukan khusus TNI yang di kemudian hari dikenal dengan nama Kopassus.

Waktu kecil Slamet Riyadi mengenyam pendidikan di HIS (Hollandsch-Inlandsche School), kemudian MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Afd B, dan pada akhirnya ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT). Ia pun menjadi lulusan terbaik dan berhak menyandang ijazah navigasi. Dengan berbekal kursus navigator tersebut ia akhirnya menjadi navigator kapal kayu yang berlayar antarpulau di Nusantara.

Suatu ketika, saat terjadi peralihan kekuasaan sipil oleh Jepang (Walikota Surakarta T. Watanabe) kepada kedua kerajaan yang berkedudukan di Surakarta, yaitu Kasunanan dan Praja Mangkunagaran, sebagian besar warga merasa tidak puas. Para pemuda bertekad untuk mengadakan perebutan senjata dari tangan Jepang. Mereka mengutus Muljadi Djojomartono dan dikawal oleh Suadi untuk melakukan perundingan di markas Kenpeitai (polisi militer Jepang) yang dijaga ketat. Tetapi sebelum utusan tersebut tiba di markas, Slamet Riyadi berhasil masuk ke dalam markas dengan meloncati tembok dan membongkar atap markas Kenpeitai. Setelah itu, Slamet Riyadi berhasil menggalang para pemuda, menghimpun kekuatan pejuang dari pemuda-pemuda terlatih eks PETA/Heiho/Kaigun dan merekrutnya dalam kekuatan setingkat batalyon, yang dipersiapkan untuk mempelopori perebutan kekuasaan politik dan militer di kota Solo dari tangan Jepang. Pada waktu itu, Slamet Riyadi diangkat sebagai Komandan Batalyon Resimen I Divisi X. Sejak itu, Slamet Riyadi semakin banyak terlibat dalam usaha merebut kemerdekaan. Pendidikan militer tidak didapatkannya melalui teori-teori militer di bangku pendidikan ketentaraan, tetapi dari pengalaman langsung dalam kehidupan nyata di Solo.

Setelah Jepang berhasil diusir dari Indonesia, Belanda ingin menjajah Indonesia kembali. Dalam perkembangannya, Slamet Riyadi diberi kepercayaan untuk mengomando Batalyon XIV. Batalyon XIV merupakan kesatuan militer Indonesia yang patut dibanggakan, karena selama agresi Belanda II, pasukan ini sangat aktif melakukan serangan gerilya terhadap militer Belanda. Karena pasukan ini, Belanda pun sering kewalahan. Selain melawan Belanda, Slamet Riyadi pun pernah diutus Gubernur Militer II, Kolonel Gatot Subroto, untuk melakukan penumpasan perlawanan PKI di daerah Jawa Utara, dan operasi yang ia pimpin pun mengalami keberhasilan.

Setelah palagan perang kemerdekaan II, Slamet Riyadi pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel, dengan jabatan baru Komandan “Wehrkreise I” (Panembahan Senopati) yang meliputi daerah gerilya Karesidenan Surakarta, yang berada di bawah komando Gubernur Militer II pada Divisi II, Kolonel Gatot Subroto. Dalam perang kemerdekaan II inilah Letkol Slamet Riyadi membuktikan kecakapannya sebagai prajurit yang tangguh dan sanggup mengimbangi kepiawaian komandan Belanda yang notabene adalah lulusan Sekolah Tinggi Militer di Breda Nederland. Siang dan malam anak buah Overste (setingkat Letnan Kolonel) Van Ohl digempur habis-habisan, dengan penghadangan, penyergapan malam, dan sabotase. Puncaknya terjadi ketika Letkol Slamet Riyadi mengambil prakarsa mengadakan “Serangan Umum Surakarta” yang dimulai tanggal 7 Agustus 1949, dan berlangsung selama 4 hari 4 malam. Dalam pertempuran tersebut 6 orang militer Indonesia gugur, 109 rumah penduduk porak poranda, dan 205 penduduk meninggal. Namun demikian, pasukan Slamet Riyadi berhasil menewaskan 7 orang dan menawan 3 orang tentara Belanda.

Setelah terjadi gencatan senjata, kota Solo diserahkan oleh Belanda ke pangkuan Republik Indonesia, dan Letkol Slamet Riyadi ditunjuk menjadi wakil RI. Walaupun demikian, kesuksesan Slamet Riyadi dalam bidang militer tidak membuatnya sombong. Ia sadar bahwa keberhasilannya hanyalah karena anugerah Tuhan.

Pada tanggal 10 Juli 1950, Letkol Slamet Riyadi ditugaskan untuk menumpas pemberontakan Kapten Abdul Aziz di Makassar dan Republik Maluku Selatan (RMS) yang dipelopori oleh Dr. Soumokil dan kawan-kawan. Pada tanggal 4 November 1950, ketika ia sedang berusaha menumpas pemberontakan RMS di gerbang benteng Victoria, Ambon, pasukan Slamet Riyadi berjumpa dengan segerombolan pasukan yang bersembunyi di benteng tersebut dengan mengibarkan bendera Merah Putih. Melihat bendera Merah Putih tersebut, Slamet Riyadi memerintahkan pasukannya untuk menghentikan penyerangan karena ia yakin bahwa mereka adalah tentara Siliwangi. Ketika Slamet Riyadi ingin membuktikan sendiri dan keluar dari panser, ternyata gerombolan tersebut bukan tentara Siliwangi melainkan para pemberontak RMS. Mereka menghujani Slamet Riyadi dengan tembakan. Letkol Slamet Riyadi pun menghembus nafas terakhirnya sebelum ia genap berusia 24 tahun.

Tidak diragukan lagi, Slamet Riyadi adalah seorang ahli taktik dan strategi. Ia sangat agresif menyerang musuh, namun selalu menghindari kontak senjata yang merugikan. Ia adalah seorang yang gemar membaca dan menulis juga. Salah satu petunjuk perang gerilya pertama TNI yang pernah ditulis adalah hasil coretan pena Slamet Riyadi. Dalam tulisan itu, ia menyebutkan pentingnya agresivitas, taktik regu kecil, menghormati rakyat, menghemat amunisi, dan cara membiayai gerilya. Dengan melihat pengabdian Slamet Riyadi yang besar bagi bangsa Indonesia, pantaslah kalau pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.

Saat dewasa, Slamet Riyadi menyerahkan dirinya kepada Tuhan dan dibaptis dengan nama Ignatius. Sebagai murid Kristus, ia pun mengabdikan hidup sepenuhnya untuk gereja dan negara Republik Indonesia. Tidak heran, oleh karena kesetiaannya ini, selain mendapat gelar Pahlawan Nasional, namanya juga banyak digunakan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia.

Selengkapnya baca di sini

867 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan.
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Memperkuat Strategi Pemberantasan Korupsi Secara Menyeluruh

1 Mins read
Korupsi telah menjadi penyakit kronis yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Praktik tercela ini tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga…
Jaga Pilar

Resiliensi dan Ketahanan Masyarakat Menghadapi Ekstremisme

3 Mins read
Ekstremisme kekerasan di Indonesia selalu diwarnai dengan dinamika baru. Jika flashback kembali, bisa dikatakan bahwa kemajuan dalam penanganan ekstrimisme kekerasan di Indonesia…
Jaga Pilar

ASN dan Moderasi Beragama yang Harus Diperhatikan Bersama

3 Mins read
Moderasi beragama adalah konsep yang mendorong kerukunan antaragama dan menjaga keseimbangan dalam beragama. Prinsip moderasi ini menjadi penting melihat keberagaman dan kemajemukan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *