Telaah

Menilik Gerakan Teroris dalam Upaya Mendirikan Negara Islam

3 Mins read

Arifuddin Lako, mantan napiter asal Poso, yang juga merupakan mantan anggota polisi, serta pendiri Komunitas Rumah Kayu, sebuah komunitas yang berisi mantan napiter sebagai ruang tumbuh sebagai manusia, pasca bergabung dalam teroris, bercerita pengalaman hidupnya pada sebuah diskusi dengan tajuk, “How do Film as an Art to Prevent Violence Extremism? Personal Reflection from Insider” yang digelar oleh WGWC pada 18 Maret 2023 silam.

Dalam forum tersebut, ia berbagi pengalaman hidupnya ketika bergabung dengan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), salah satu organisasi teroris yang berkembang di Indonesia. Pada pengalaman itu, Arifuddin bercerita bagaimana perasaannya ketika bergabung dalam kelompok teroris tersebut. Ketika menjadi anggota polisi, Arifuddin sudah tertarik untuk bergabung dengan kelompok teroris. Baginya, menjadi teroris adalah panggilan jiwa sebagai seorang Muslim.

Sebagai seorang Muslim, yang merasa tertindas karena saudara sesama umat Muslim di Palestina, yang selalu diserang oleh Israel, Arifuddin mengaku bahwa sangatlah berdosa dirinya sebagai umat Muslim apabila abai terhadap peristiwa itu. Ia kemudian terus mencari tahu upaya yang harus dilakukan.

Bahasa jihad dalam pemahamannya pada waktu itu, adalah upaya untuk melawan negara kafir, karena tidak menggunakan hukum Islam sebagai landasan hukum bernegara. Salah satu kelompok yang harus dimusnahkan adalah melawan aparat hukum. Sebab mereka adalah kelompok paling berdosa dan bertanggung jawab terhadap kekafiran negara Indonesia.

Arifuddin adalah salah satu dari sekian banyak mantan napiter, yang memilih untuk berikrar kepada NKRI setelah melalui proses panjang perjalanan hidupnya. Tentu, tidak semua napiter akan berakhir sama seperti Arifuddin. Sebab buktinya, masih banyak napiter yang tidak mau berikrar setia kepada NKRI dengan beberapa alasan.

Meskipun demikian, ikrar setia kepada NKRI yang dilakukan oleh mantan napiter tidak selalu mulus. Mereka masih mengalami pengasingan, stigma sosial yang diperoleh dari masyarakat. Atas dasar pengalaman itu, Rumah Katu menjadi komunitas yang bisa menjadi ruang aman sebagai manusia kepada mantan napiter. Selain itu, ia juga menerbitkan film yang bercerita tentang kisah perjalanannya ketika menjadi teroris.

Keberadaan Arifuddin sebagai teroris, dan bukti eksistensinya MIT di Poso, bisa dilihat dari aksi terorisme yang terjadi di Desa Lembongtonga Kabupaten Sigi yang menjadikan satu keluarga masyarakat di desa sebagai korban pembunuhan. Aksi terorisme ini dilakukan oleh gerakan Mujahidin Indonesia Timur, pimpunan Ali Kalora.

Kejadian bersejarah di Poso, adalah bukti bahwa gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh kelompok teroris, seperti MIT terus dilakukan. Poso menjadi salah satu daerah yang dikenal sebagai pusat pergerakan teroris, utamanya MIT. Keberadaan mereka juga menjadi sebuah rahasia umum bahwa, teroris adalah permasalahan global yang menjadi ancaman keutuhan NKRI.

Siapa MIT dan Aliran Keagamaan Santoso

Mujahidin Indonesia Timur adalah sebuah kelompok militan Islam yang beroperasi di daerah pegunungan Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah Indonesia. Kelompok ini aktif sejak tahun 2012, di mana sebelumnya dipimpin oleh Santoso, yang mati ditembak pada 18 Juli 2016 silam. MIT menyatakan sumpah setiap kepada ISIS. Tidak heran, MIT menjadi sasaran deradikalisasi yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengajak mereka berikrar kepada NKRI.

Sebagai pendiri MIT, Santoso memiliki latar belakang agama yang taat. Ketaatan tersebut nyatanya tidak berbanding lurus dengan sikap bijaksana sebagai seorang manusia untuk memperlakukan manusia lain. Justru ketaatan tersebut digunakan sebagai alat untuk menghalalkan penembakan yang dilakukan.

Aksi jihad Islam, menjadi landasan penembakan dan perampokan yang dilakukan oleh kelompok MIT. Apalagi, korban dari aksi tersebut adalah para keluarga yang berasal dari agama Kristen. Sehingga menyebabkan stigmatisasi agama Islam sebagai agama teroris, sangat kuat disematkan.

Lebih Senyap dari Bisikan

Cerita yang disampaikan oleh Arifuddin adalah cerita reflektif yang menunjukkan propaganda MIT dalam mengajak umat Islam untuk melakukan jihad atas nama Islam. Jihad yang dilakukan adalah melakukan perampokan, penembakan pada sesuatu yang dianggap kafir. Sehingga dari sinilah kita memahami betapa kejamnya propaganda yang dilakukan oleh teroris untuk menegakkan pemerintahan Islam di Indonesia.

Selain itu, menampilkan kesengsaraan umat Muslim di negara-negara Timur, adalah cara klasik yang dilakukan oleh kelompok teroris untuk memainkan perasaan umat Islam. Sebab upaya itu sangat ciamik untuk menjadi pendorong seseorang agar bergabung dalam suatu kelompok.

Meskipun demikian, cara klasik tersebut masih menjadi cara yang terus dilakukan. Hal ini karena akan ada banyak umat Muslim baru, yang memiliki ketaatan dan sikap ingin tahu tentang Islam lebih jauh. Dengan menampilkan kesengsaraan umat Muslim, maka akan menjadi pendorong kuat bagi seseorang untuk bergabung dalam kelompok teroris. Wallahu a’lam.

2121 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Telaah

Tapera Vs Investasi, Mana yang Urgen untuk Bangsa dan Negara?

2 Mins read
Apa Keuntungan Masing-Masing dan Manakah yang Lebih Fleksibel Terhadap Keuangan? Perencanaan keuangan yang cermat adalah kunci utama dalam mencapai stabilitas finansial di…
Telaah

Cek Khodam Meledak di TikTok: Hiburan Semata atau Krisis Identitas?

3 Mins read
Tren cek khodam kini merajai TikTok, menarik perhatian ribuan pengguna dengan aktivitas sederhana namun menghibur. Fenomena ini, yang awalnya hanya sekadar aktivitas…
Telaah

Benarkah Petani Menjadi Tulang Punggung Sistem Feodalisme?

2 Mins read
Feodalisme di Indonesia biasa diartikan sebagai pembagian kekuasaan untuk menguasai wilayah. Melalui feodalisme penguasa akan semakin berkuasa atas wilayah dan rakyat biasa…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *