Pancasila

Menindak Intoleransi dan Menangkal Radikalisme Melalui Pancasila

3 Mins read

Di tengah keberagaman suku, ras, dan agama, Indonesia cukup dikenal luas hingga mancanegara sebagai negara yang paling toleran. Sungguh predikat yang cukup membanggakan, namun bukan berarti Indonesia luput sama sekali dari intoleransi dan radikalisme yang riskan terhadap Pancasila.

Belakangan, kita seringkali di suguhi dengan ragam berita intoleransi yang tidak jarang mengarah pada aksi-aksi radikalisme, baik di media televisi, maupun media cetak.

Isu radikalisme adalah fenomena yang nyata dan ancaman serius bagi harmonisasi kehidupan berbangsa bernegara. Isu ini sudah banyak menyita perhatian para akadmeisi, dan tidak pernah selesai dibicarakan di tengah rentetan aksi-aksi radikal yang masih saja terjadi.

Namun naasnya masih banyak kalangan yang menganngap isu radikalisme ini, khususunya radikalisme dalam agama tak lain by design, atau hanyalah bagian dari skenario dan konspirasi sekelompok orang atau elite tertentu. Padahal fakta akan ancaman radikalisme sudah nampak terpampang jelas dan nyata di depan mata, yang sekali-kali dapat mengancam kebersamaan kita.

Upaya menangkal radikalisme di Indonesia sudah banyak dilakukan, berbagai kajian digelar, workshop, seminar dan konferensi. Tujuannya adalah untuk mencari akar permasalahan fenomena radikalisme ini.

Di sisi lain, para pemangku kebijakan dan pihak yang terkait sampai saat ini seolah belum menemukan konstruksi formulasi yang ideal dalam upaya menangkal penyebaran faham radikalisme ini, mengingat fenomena ini seolah tidak menunjukkan adanya tanda-tanda berhenti.

Membumikan Nilai-nilai Pancasila

Paham radikalisme bukanlah warisan luhur pendahulu bangsa ini, melainkan ia lahir dari ketidakmampuan memahami sebuah ide dan gagasan secara komprehensif. Warisan para pendiri bangsa kita adalah Pancasila, di samping ia berfungsi sebagai dasar negara Indonesia, Pancasila juga diartikan sebagai pandangan hidup dalam berbangsa dan bernegara.

Dalam Pancasila yang terdiri atas lima sila itu, terkandung nilai-nilai yang luas tak bertepi dan dalam yang sudah seharusnya dipahami, dimengerti dan diamalkan oleh segenap masyarakat Indonesia dalam tidak tanduk keseharian mereka.

Masyarakat yang tidak memahami, atau bahkan masih banyak di antara masyarakat yang tidak hapal dengan butir-butir teks Pancasila yang cukup indah dan begitu pun makna yang terkandung di dalamnya. Sudah barang tentu akan mudah tersusupi oleh paham yang tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa kita yang terkandung dalam Pancasila.

Karena di dalam Pancasila, kita diajarkan tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kebijaksanaan dan keadilan. Paling tidak, dengan adanya pemahaman mendasar mengenai Pancasila dan nilai dasar yang terkandung di dalamnya, masyarakat bisa memahami tentang konsep keberagaman di tengah keberagaman suku, ras, budaya dan agama, sehingga mampu meminimalisir munculnya sikap-sikap intoleraN yang yang berdasar pada doktrin sebuah ajaran, pandangan dan keagamaan yang keliru dengan mengaggap golongannya paling benar.

Sebagaimana kita tahu bahwa kelompok dan individu yang terpapar radikalisme cenderung eksklusif, mengaggap dirinya dan kelompoknya sebagai kelompok yang paling benar dan menganggap kelompok di luar mereka semuanya adalah salah. Tentu pemahaman seperti ini sangat fatal dan berakar pada pemikiran yang bablas. Mereka benar-benar tidak memahami tentang konsep persatuan dan keberagaman sebagai bagian dari pesan utama Pancasila.

Menanti Peran Lembaga Negara

Secara pribadi, saya termasuk di antara banyak anak muda yang mempertanyakan sejauh mana peran-peran yang sudah dijalankan ke depan oleh lembaga Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam rangka menguatkan ideologi bangsa Pancasila.

Di tengah merebaknya radikalisme yang kian mulai merongrong persatuan dan kesatuan bangsa ini, kita dan munkin seluruh rakyat Indonesia mengharapkan hal yang sama, menanti langkah-langkah strategis dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila di tengah masih maraknya aksi-aksi intoleransi di Indonesia belakangan ini.

Munculnya beberapa kalangan yang mencoba mempertanyakan keberadaan dan peran-peran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila selama ini bukanlah sesuatu yang keliru, apalagi menganggap itu salah itu tidak bisa juga. Malah saya melihat kritik yang dialamatkan selama ini kepadanya adalah bentuk kecintaan dan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap bangsa ini agar senantiasa terjaga dan aman dari paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Ke depan, kita sangat menanti gebrakan dan program-program strategis Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan mengedapankan kolaborasi dengan semua pihak agar mampu melahirkan kebijakan-kebijakan yang strategis.

Sehingga program yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran, yaitu menyasar elemen masyarakat yang dianggap paling rentan tersusupi radikalisme. Dengan begitu, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dalam menjalankan program-program penguatan nilai-nilai pancasila tidak terkesan biasa saja. Salah satu contohnya, yaitu dalam dunia pendidikan.

Belakangan ini lembaga pendidikan menjadi tempat tumbuh suburnya radikalisme. Temuan ini sudah banyak dibicarkan dalam komunitas akademik, sehingga kedepan peran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan lembaga pendidikan lebih digalakkan lagi.

Khairul Huda

Mahasiswa Magister Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
1395 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Pancasila

Menagih Keseteraan Gender Kaum Perempuan Indonesia

3 Mins read
Patriarki, nampaknya kata tersebut tidak lagi terdengar asing untuk menggambarkan kondisi sosial di Indonesia sejak dulu. Patriarki memiliki artian secara sederhana yaitu…
Pancasila

Kapitalisme dan Sekularisme; Fitnah Jahat Aktivis Khilafah HTI untuk Memecah-belah NKRI

3 Mins read
Teori benturan peradaban (clash of civilizations) yang digagas Samuel Huntington sangat fenomenal pada akhir abad kedua puluh. Teori yang menyatakan bahwa identitas…
Pancasila

Ada Pancasila di Kutai Kartanegara

3 Mins read
Presiden Joko Widodo secara resmi telah mengumumkan bahwa Ibukota negara akan dipindah ke Kutai Kartanegara dan sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim)….
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *