Bhinneka Tunggal Ika

Menjaga Generasi Bangsa dari Sindikat Jaringan Terorisme

2 Mins read

Nasionalisme generasi muda dalam wacana mutakhir, merupakan nafas hidup sebagai pijakan berdemokrasi, yang harus dilalui dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan demikian, dalam kontestasi “pesan generasi muda”, baik yang mau dan tidak, tetap harus diterjemahkan dalam laku berkehidupan. Karena, hanya dengan melalui “nasionalisme kegenerasimudaan” perbedaan dapat diakomodir secara demokratis dan memberantas radikalisme bisa dicapai.

Ke Mana Arah Generasi Muda?

Benarkah ada kalangan yang menilai angin nasionalisme telah mati berhembus? Atau sebaliknya nasionalisme hanya sekadar “angin mamiri” sebagai pertanda akan datangnya “angin puting beliung,” yang akan mencerabut akar, dan merobohkan batang dari pohon yang sudah tua renta, diganti dengan pohon buatan yang lebih mudah dan berasa segar, namun bukan beringin, tapi pohon kehidupan yang tumbuh (di) seantero kelompok tertentu?

Terhadap pertanyaan itu, masyarakat dan bangsa Indonesia memang harus mencicil perubahan yang revolusioner, melalui koridor kultural dan kebudayaan yang, boleh jadi sebagai revitalisasi atau ungkapan awal dari apa yang disebut “revolusi membudayakan nasionalisme generasi bangsa”. Kendati, jalan menuju ke-koridor itu, tak lain adalah generasi Z dan milenal.

Mengapa? Tak pelak, krisis ideologi nasionalisme terjadi mensanjakala dari kepunahan di dunia generasi Z dan milenal. Memang kejadian itu mempunyai kausalitas dengan sikap dan mental yang oleh Bung Karno dianalogikan sebagai bangsa “bebek”. Dan karenanya, jika ingin maju harus berubah bermental “elang rajawali”, yang berani terbang ke angkasa, mencari cakrawala.

Transisi Generasi Z dan Milenal

Risesi percakapan generasi Z dan milenal perlu didasarkan bahwa ia bukanlah suatu entitas tertentu. Namun hal yang sulit dibantah, generasi Z dan milenal mampunyai kompleksitas masalah, baik yang terjadi di relasi interaksi antar generasi. Misalnya, siswa dan mahasiswa dengan masyarakat luas, dengan buku bacaan, serta dengan masyarakat akademis lainnya. Bahkan kepada sejarah bangsanya.

Kita bisa ajukan buku Literatur Keislaman Generasi Melenial: Transisi, Aproriasi, dan Kontestasi, 2018. Di buku itu, ditemukan bahwa generasi Z dan milenal dalam literatur keilmuan yang diberikan oleh pengajar, buku-buku, kajian dakwah, di bebarapa kampus Indonesia, sangatlah jauh dari nilai-nilai nasionalisme kegenerasimudaan dan pancasila.

Secara mendasar, aturan yang diberikan pemerintah tidak cocok bagi dosen tertentu, dan itu menyebabkan dosen melalukan pencarian buku sendiri dan materi untuk diajarkan kemahasiswa. Di situlah terjadi tarik manarik ideologi nasionalisme dan paham baru (transideologi radikalisme) yang mempupuskan nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme Indonesia.

Tiga Dekade Generasi Bangsa

Kenapa sampai demikian? Karena selama lebih tiga dekade, sebagian kita telah mengabaikan dan menjauh dari kepentingan rakyat. Hukum otoritas terlalu tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Para pemegang otoritas terlalu mengambil alih segala urusan bahkan yang hal sepelepun.

Maka, keinginan berubah ke pancasilais membelok menjadi magma. Ringkasnya, rakyat kebanyakan sudah kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan otoritas yang jauh untuk menyelasaikan persoalan rakyat. Kekesalan yang akhirnya berujung pada main hakim sendiri.

Kini orang-orang Indonesia makin terdidik. Namun kurang peduli dengan moral. Pendidikan tak bisa diterjemahkan dalam lelaku kehidupan. Di negara demokratis, setiap suara berhak bergaung. Juga keinginan orang untuk mempertanggungjawabkan atas dirinya sendiri makin besar. Maka di situlah Indonesia harus berubah. Kalau tidak, akan terisolasi dengan sendirinya.

Dengan apa? dengan membumikan nasionalisme generasi muda dan pancasila, dan menarik kembali simpati rakyat yang kemudian mengajak semua komponen bergalang untuk melangkah bersama menuju Indonesia yang benar-benar pancasilais, yaitu berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Di sini harus ada upaya mereformasi ruang mampet demokrasi atau merombak sistem politik yang lebih bermoral. Bukan sistem oligarki dan balas budi.  Karna yang kita lihat, otoritas masih meraba-raba bagaimana langkah-langkah kongrit menuju kekemanusiaan yang berkeadaban. Tentu, pemerintah harus menjalankan semua sila yang tertanam dalam dada garuda. Pemerintah harus menata untuk dicinta.

867 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan.
Articles
Related posts
Bhinneka Tunggal Ika

Memasifkan Agensi Perempuan dalam Kontra-Ekstremisme Kekerasan

2 Mins read
Agensi perempuan memiliki peran penting dalam reintegrasi sosial dan pemulihan korban. Pengalaman tersebut diambil dari praktik baik dilakukan oleh AMAN Indonesia dan…
Bhinneka Tunggal Ika

Membongkar Wahhabisme: Penyebar Kebencian Berkedok Kesalehan

3 Mins read
Wahhabisme adalah ideologi radikal yang semakin menyebar di Indonesia. Aliran ini menuntut ketakwaan dan kesalehan, tetapi seringkali menjadi sarang kebencian dan intoleransi,…
Bhinneka Tunggal Ika

Rektor IAIN Ponorogo: Salam Lintas Agama Bukan Ubudiyah, Tapi Muamalah

3 Mins read
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait salam lintas agama yang tidak dibenarkan, terus menuai komentar pro dan kontra. Terutama dikaitkan dengan keberagaman…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *