NKRI

Menyoal Hari Kota Sedunia di Tengah Kepungan Sampah Plastik

2 Mins read

Menurut Branch (1996: 2), Kota diartikan sebagai tempat tinggal dari beberapa ribu atau lebih penduduk, sedangkan perkotaan diartikan sebagai area terbangun dengan struktur dan jalan-jalan, sebagai suatu permukiman terpusat pada suatu area dengan kepadatan tertentu (Branch, 1996:2).

Dalam pengertian lain kota adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, yang sebagian besar lahannya terbangun dan perekonomiannya bersifat non pertanian.

Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 2 Tahun 1987 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota, kota adalah permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundangan serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan kekotaan. Sedangkan perkotaan adalah satuan kumpulan pusat-pusat permukiman yang berperan di dalam suatu wilayah pengembangan dan atau Wilayah Nasional sebagai simpul jasa.

Dalam Inmendagri nomor 34 tahun 1986 tentang Pelaksanaan Permendagri nomor 7 tahun 1986 tentang Batas-batas Wilayah Kota Di Seluruh Indonesia, ciri-ciri wilayah kota dapat dilihat dari aspek fisik dan aspek sosial ekonomi. Dilihat dari aspek fisik, maka wilayah kota mempunyai ciri-ciri sebagai berikut ini: tempat permukiman penduduk yang merupakan satu kesatuan dengan luas, jumlah bangunan, kepadatan bangunan yang relatif lebih tinggi daripada wilayah sekitarnya; roporsi bangunan permanen lebih besar di tempat itu daripada di wilayah-wilayah sekitarnya; mempunyai lebih banyak bangunan fasilitas sosial ekonomi (sekolah, poliklinik, pasar, toko, kantor pemerintah dan lain-lain) daripada wilayah sekitarnya.

Dilihat dari aspek sosial ekonomi, maka wilayah kota mempunyai ciri-ciri: mempunyai jumlah pendududuk yang relatif besar daripada wilayah sekitarnya, yang dalam satu kesatuan areal terbangun berjumlah sekurang-kurangnya 20.000 orang di Pulau Jawa, Madura dan Bali atau 10.000 orang di luar pulau-pulau tersebut; mempunyai kepadatan penduduk yang relatif lebih tinggi dari wilayah sekitarnya; mempunyai proporsi jumlah penduduk yang bekerja di sektor non-pertanian lebih tinggi dari wilayah sekitarnya. merupakan pusat kegiatan ekonomi yang menghubungkan kegiatan pertanian wilayah sekitarnya dan tempat pemasaran atau prosessing bahan baku bagi kegiatan industri. (Dinas Tata Ruang, Tata Bangunan Pemerintah Kota Medan)

Apa yang kita pikirkan dengan sebutan tentang kota ideal ditengah kepungan sampah plastik ini, Plastik Sebenarnya adalah benda yang membantu peradaban manusia dan kita berubah menjadi hantu gentayangan yang menghantui anak dan cucu manusia di masa depan.

Plastik menjadi kisah misteri pada kota yang sedang mengalami kesakitan akibat industrialisasi. Ketika industri bertumbuh pesat, sampah plastik juga tentu meroket tajam. Pada 2050 mendatang, diperkirakan akan ada 12 miliar ton sampah plastik di lingkungan. World Economic Forum bahkan memprediksi, adanya potensi hingga 32 persen sampah plastik yang bakal tidak tertangani.

Kota seperti lokasi kerumunan penghuni bumi yang tak bisa berlepas dari kantong plastik, namun tak juga menemukan cara yang benar untuk menanganinya. Sepanjang deru nafas kita, plastik senantiasa menyertai.

Sebagaimana orang-orang dahulu menciptakan beragam teknologi untuk memproduksi kantong plastik secara massal, kini orang-orang pun membuat berbagai mesin dan beragam penelitian untuk mengatasi limbah plastik. Seperti mana orang-orang dahulu mengabaikan moralitas ketika memassalkan plastik, kini orang-orang pembuat mesin pengatas plastik pun telah lupa bagaimana cara mengajar manusia untuk membuang sampah secara benar (Nuun.id).

31 Oktober kita memperingati hari kota sedunia di tengah kepungan sampah plastik yang tak usai dalam persoalan, atau penghuni kota sudah tak lagi mempersoalkannya karena terkabuti persoalan ekonomi dan politik yang dimanfaatkan oleh kerakusan kapitalis-kapitalis.

Kota hidup dalam kebudayaan yang terperangkap di dalam kantong plastik. Kita ingin mengatasi dampak buruknya, namun hingga hari ini tak dapat lepas dari ketergantungan terhadapnya. Kita tahu dampak buruk plastik, namun telah kecanduan menggunakannya. Sebagai manusia, kita harus mulai belajar lagi menata dan melihat kantong plastik dengan seksama.

Ade cahya

Redaktur Forum Akademisi Indonesia (FAI) Field Coordinator and Assesor bedahrumah.org
1401 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
NKRI

Membangun Kejayaan NKRI dengan Merobohkan Politik Provokatif dan Kebencian

3 Mins read
Acara Nusantara Bersatu yang digelar di Gelora Bung Karno pada Sabtu (26/11) lalu menyisakan polemik yang meresahkan. Selain tentang izin GBK yang…
NKRI

Berantas Rasisme Yang Melunturkan Nilai Toleransi

4 Mins read
Pada dasarnya manusia yang ada di muka bumi ini tersebar diberbagai penjuru dunia. Memiliki perbedaan fisik antarsatu sama lainnya secara nyata dapat…
NKRI

Politik Identitas dan Bahayanya untuk NKRI

2 Mins read
Tengah trending di Twitter tagar #BapakPolitikIdentitas. Isinya adalah kilas balik iklim perpolitikan Jakarta 2017 silam, pertarungan sengit antara Ahok dan dan Anies….
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *