Jaga Pilar

Nuruddin ar-Raniri, sufi dari Gujarat penentang paham wujudiyah Hamzah Fansuri

2 Mins read

Syekh Nuruddin Ar-Raniri bernama lengkap Nuruddin Muhammad bin Ali Hasanji bin Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisy Asy-Syafi’i. Nama Raniri dinisbatkan pada daerah kelahirannya yang berada di daerah Ranir (Rander), kota pelabuhan tua yang ada di pantai Gujarat, India.

Syekh Nuruddin Ar-Raniri memiliki garis keturunan hingga sampai kepada sahabat Abdurrahman bin Auf, sahabat nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan salah satu tokoh pelopor Islam di Melayu, ahli dalam bidang tasawuf, fikih, akidah, dan ilmu keagamaan lainnya.

Kealiman Syekh Nuruddin Ar-Raniri dalam berbagai bidang ilmu agama merupakan hasil dari pendidikan yang beliau tempuh dalam perjalanan menimba ilmu di negeri Hijaz, Hadramaut, dan Tarim.

Awal mula Syekh Nuruddin Ar-Raniri mulai dikenal masyarakat adalah sejak kedatangannya di Aceh yang kurang disambut dengan baik. Masyarakat Aceh pada saat itu pengikut paham Wujudiyah yang dipelopori Hamzah Fansuri. Ar-Raniri tidak setuju Wujudiyah, karena beliau menganggap paham tersebut sudah menyimpang dari akidah Islam. Beliau mengajak masyarakat agar meninggalkan paham ini. Namun upayanya tidak diterima, karena masyarakat sudah sangat fanatik pada paham Wujudiyah termasuk sultan yang memerintah pada saat itu. Ar-Raniri lalu memutuskan untuk meninggalkan Aceh dan menetap di Pahang.

Berbeda dari Aceh, kedatangan Nuruddin Ar-Raniri di Pahang mendapat sambutan yang baik. Beliau mengajarkan apa yang dipelajarinya termasuk penentangan paham Wujudiyah Hamzah Fansuri.

Pemikiran Ar-Raniri memiliki empat pokok pembahasan, yaitu tuhan, alam, manusia, dan Wujudiyah (perspektif Ibnu Arabi). Keempat pemikiran tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Tuhan.

Pemikiran Nuruddin Ar-Raniri tentang ketuhanan bersifat kompromis. Beliau menyatukan paham ahli ilmu kalam dengan paham ahli tasawuf yang diwakili oleh Ibnu Arabi. Beliau berpendapat bahwa ungkapan “wujud Allah dan Alam Esa” yaitu bahwa alam merupakan fisik dari hakikat batin, yaitu Allah.

2. Alam.

Ar-Raniri berpendapat bahwa alam diciptakan Allah melalui tajalli. Menurutnya, seorang bernama Raniri merupakan wadah tajalli asma dan sifat Allah dalam bentuk yang konkret.

3. Manusia.

Menurut Nuruddin Ar-Raniri, manusia merupakan makhluk Allah yang paling sempurna di dunia ini. Manusia khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan sifat-Nya, juga karena ia tempat implementasi antara asma dan sifat Allah yang paling lengkap.

4. Wujudiyah.

Inti ajaran wujudiyah menurut Ar-Raniri, berpusat pada wahdat al-wujud, yang disalahartikan oleh kaum Wujudiyah dengan arti kesatuan Allah dengan alam.

Selain empat pokok pikiran di atas, terdapat beberapa pemikiran ar-Raniri yang dituangkan dalam kitab karangannya.

Kitab karangan Syekh Nuruddin ar-Raniri cukup banyak, di antaranya:

1. Al-Shirath al-Mustaqim

Berisi ajaran tentang shalat, puasa, zakat, haji, dan juga tentang hukum kurban, berburu, hukum halal dan haram dalam hal makanan.

2. Durrat al-Farai bi Syarh al-‘Aqa’id

Berisi tentang akidah.

3. Hidayat al-Habib fi al-Targib wal-Tarhib

Berisi tentang 831 hadits dalam bahasa Arab dan Melayu

4. Bustan al-Salathin fi zikr al-Awwalin wal-Akhirin

Merupakan kitab sejarah terbesar dalam bahasa Melayu.

5. Nubzah fi da’wa al-zhil ma’a shahibihi

Berisi tentang kesesatan ajaran paham Wujudiyah, ditulis dalam bahasa Arab.

6. Latha’if al-Asrar

Kitab tasawuf berbahasa Melayu.

7. Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan

Berisi agama sejak Nabi Adam hingga Nabi Isa, dan timbulnya mazhab-mazhab dan perdebatan pendapat di kalangan umat Nabi Muhammad.

8. Akhbar al-Akhirah fiahwal al-Qiyamah

Menguraikan nur Muhammad, kejadian nabi Adam, hal ihwal kiamat, surga, neraka dan sebagainya.

9. Ḥill azh-Zhill

Kitab yang bersifat polemik tentang kebatilan ajaran Wujudiyah.

10. Rahiq al-Muhammadiyyah fi Thariq al-Shufiyyah

Kitab tentang tasawuf namun belum selesai. Ini kitab terakhir yang ditulis oleh Nuruddin ar-Raniri menjelang meninggal dunia.

Syekh Nuruddin Ar-Raniri wafat pada hari Jumat 22 Zulhijah 1068 H, bertepatan dengan 21 September 1658 M.

Referensi

1. Bakhtiar, Amsal. 1997. Filsafat Agama. Jakarta : Logos Wacana Ilmu

2. Daudi, Ahmad. 1978. Syeikh Nuruddin Ar-Raniri. Jakarta : Bulan Bintang

3. Ramli, Fuad. Dkk. 2003. Studi Filsafat Umum. Banda Aceh : Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniri.

4. Majid, A. 2015. Karakteristik Pemikiran Islam Nuruddin Ar-Raniri. Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin17(2), 179-190.

5. Umayah, U. 2018. Peran Nuruddin Ar-Raniri Dalam Menentang Paham Wujudiyyah Di Aceh (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri” Sultan Maulana Hasanuddin” Banten).

Arini Sabila HikmahMahasiswi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

2118 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Membersamai Mantan Teroris Kembali Ke Fitrah

2 Mins read
Dengan 236 juta penduduk Muslim, Indonesia menjadi negara nomor dua setelah Pakistan sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Hal ini sekaligus…
Jaga Pilar

TikTok: Antara Hiburan, Komunitas, dan Tantangan Digital

2 Mins read
Dalam era digital yang terus berkembang, aplikasi media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hal ini terjadi terutama di kalangan…
Jaga Pilar

Menjaga Bangsa: Menggugat Semangat Pungutan Hasil Perikanan

4 Mins read
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah bersemangat menggaungkan perbaikan pengelolaan perikanan tangkap melalui kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) dan penarikan Pungutan Hasil…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *