Telaah

Nuzulul Qur’an Momentum Perkuat Keberagaman

2 Mins read

Sepanjang tahun 2021 hingga 2022, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme mengidentifikasi lebih dari 600 situs berpotensi menyebarkan konten radikal-intoleran. Di antaranya berisi konten propaganda dengan rincian informasi serangan (409), anti-Negara Kesatuan Republik Indonesia (147), anti-Pancasila (85), intoleran (7), dan takfiri (2). Dan juga berisi konten pendanaan dan pelatihan terorisme (Kompas 28/12/2021).

Melihat kondisi demikian, kita seakan berada dalam ancaman yang nyata. Propaganda teror yang berlangsung tiap hari, membuat keadaan makin mencekam. Terbukti pada bulan Ramadan saja, di mana semua umat tahu bulan keberkahan, masih tetap saja ada orang menjalankan aktivitas radikalisme dan terorisme.

Di media sosial misalnya, transmisi penyebaran paham dan ide-ide radikal- intoleransi berbalut agama disebarkan tiap hari. Menurut catatan Kompas, keberadaan konten-konten radikal-intoleran yang sudah mencapai 80 persen (Kompas 28/12/2021). Kondisi itu secara tidak langsung dan langsung telah membuat masyarakat resah. Propaganda dan sikap intoleran-radikalisme mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terbukti, di lapangan, sikap-sikap ini telah berhasil membelah kerukunan masyarakat menjadi berantakan.

Momen Nuzulul Qur’an

Oleh karena itu, di momen nuzulul Qur’an Ramadan ini, sudah saatnya mengembalikan fenomena ekstrem itu menjadi habitus yang moderat. Konten-konten dan sikap-sikap toleran harus lebih diviralkan, daripada konten-konten yang mengumbar kemudaratan. Sehingga tercipta gelombang masyarakat yang mencintai keberagaman.

Di momen nuzulul Qur’an, kita fokus untuk berbuat kebaikan meski dalam tindakan sekecil mungkin. Paling tidak, kita bisa bersikap dan memberi jalan alternatif sembari mengenalkan arti penting pilar-pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia), serta memberi pemahaman arti penting bersikap toleransi dan bagaimana menjadi manusia yang baik dengan menguatkan keberagaman.

Sebagai bangsa yang besar, kita sepertinya patut mengamini pernyataan Presiden Indonesia. Bahwa dalam peringatan Nuzulul Qur’an ini, bisa dijadikan momentum untuk perkuat kebersamaan dalam keberagaman. Menurut Presiden Jokowi, setidaknya ada 7 bagian penting untuk menguatkan kebaragaman ini.

Pertama, dalam Ramadan bulan istimewa ini, kita bisa memperingati nuzulul Qur’an, dalam rangka mengingat turunnya Al-Qur’an. Kedua, Al-Qur’an yang menjadi kitab besar dan petunjuk kita, tidak diragukan lagi kebenarannya dan kemukjizatannya

Ketiga, dalam momentum Nuzulul Qur’an ini, kita dituntut untuk percaya dan beriman kepada Allah yang Maha Esa. Kita wajib menerima dengan lapang dada bahwa keberagaman ini merupakan kehendak Allah SWT yang wajib kita rayakan, seperti yang tertera di dalam Al-Qur’an.

Keempat, pada momen ini, kecintaan pada negara sudah seharusnya ditinggikan. Al-Qur’an menegaskan bahwa keanekaragaman yang terjadi pada berbagai makhluk Tuhan, hakikatnya merupakan sunnatullah, ketetapan Allah, dan dengan demikian patut dihormati.

Kelima, jika keragaman adalah sunnatullah dan anugerah Allah, maka kita harus merawatnya, menjaga, dan kelola dengan sebaik mungkin. Kita harus sama-sama meninggikan toleransi atau tenggang rasa, saling melengkapi, dan memperkaya dialog untuk saling berbuat kebaikan di antara sesama. Keenam, dan kebaikan-kebaikan ini, sejatinya perlu dikedepankan, dirayakan, diimplementasikan untuk kepentingan bersama. Ketujuh, pada Nuzulul Qur’an ini, memang sudah sebaiknya dijadikan momentum untuk memperkuat kebersamaan di dalam keberagaman untuk mewujudkan negeri dan bangsa yang Baldatun Toyyibatun Warabbun Ghofur.

Merayakan dan Bergerak Bersama

Semua pihak, dalam berbagai level, seperti pemerintah, aparat kepolisian, tokoh agama, warga dan kelompok masyarakat, ormas, dan civil society, harus bahu-membahu membangun budaya toleransi agar bisa menjaga keberagaman ini. Jika itu bisa dijalankan, maka kita akan terjauh dari ancaman kelompok ekstrem radikalisme dan terorisme. Tanpa adanya sikap toleransi, maka akan muncul berbagai macam gesekan-gesekan antar umat beragama di tengah keberagaman ini. Dan itu yang sangat dilarang oleh agama.

Anjuran agama puncaknya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan. Dan ciri kebaikan itu adalah sikap toleransi, menghargai perbedaan, saling menghormati, dan saling mencari cara bagaimana kita tetap bisa merayakan kedamaian. Namun kedamaian, perlu tindakan nyata sebagai manifestasi kecintaan terhadap Al-Qur’an. Jika kita mencintai Al-Qur’an, mencitai Nabi dan Tuhan, tapi membenci ketetapan Tuhan, adalah perbuatan yang nihilisme bahkan kontradiktif. Maka dengan merayakan nuzulul Qur’an ini, kita jadikan momen untuk saling menguatkan kebersamaan di tengah keberagaman. Itu.

Agus Wedi

Peminat Kajian Sosial dan Keislaman
2112 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Telaah

Bitung Takkan Pernah Buntung

2 Mins read
Massa aksi bela Palestina terlibat bentrok dengan salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut). Kronologi insiden tersebut berawal…
Telaah

Diantara Perang Agung dan Penyakit Menular

4 Mins read
Perang Dunia I menandai awal pengobatan ilmiah. Bahkan sebelum penemuan antibiotik, para petugas medis menggunakan penemuan Louis Pasteur untuk memahami mikroorganisme sebagai…
Telaah

Keluarga Mubadalah: Pendekatan dalam Pencegahan Ekstremisme pada Anak

2 Mins read
Muhammad Ibnu Dar (20 tahun) adalah sosok anak muda yang bergabung dengan JAD (Jamaah Ansharut Daulah). Bergabungnya dengan JAD karena terpengaruh dengan konten…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *