Jaga Pilar

Pahlawan Itu Merawat Kebhinnekaan

3 Mins read

Pahlawan sebuah predikat yang tak ringan disandang. Tak pernah merasa paling baik, paling pintar, paling benar, paling kaya apalagi paling berjasa. Rela berkorban dan menempatkan kepentingan negeri di atas kepentingan pribadi dan golongan. Ruh dan semangat yang digelorakan sejak peristiwa 10 November 1945 di Surabaya adalah bagian sejarah bagi tegak dan kokohnya republik ini.

Pertempuran heroik tersebut menunjukkan ikatan persatuan dan kesatuan rakyat yang utuh melawan kolonial. Ketika Bung Tomo meneriakkan pekik yang membakar semangat juang, yakni Allahu Akbar, kemudian ada KH Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan negeri ini.

Lantas, dalam konteks kekinian apakah masih perlu pahlawan? Jawabannya secara tegas jelas dibutuhkan. Mungkin perlawanannya bukan secara fisik berperang di medan juang seperti para pahlawan dan rakyat meraih kemerdekaan, tapi lebih pada bertempur melawan hoaks, hate speech, fitnah, adu domba, narkoba, radikalisme, terorisme, intoleransi, kekerasan terhadap anak dan perempuan, selain kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan, dll. Terlebih lagi gempuran kemajuan teknologi informasi dengen media sosialnya cukup membuat bangsa ini mesti ekstra hati-hati mengelola lisan dan jemari, karena bisa-bisa keteledoran itu membawa ke jeruji bui.

Pahlawan bukan saja yang mengusung kemerdekaan RI, keringat para atlet yang menyumbangkan medali di Asian Games maupun Asian Para Games dan level internasional lainnya pun relevan dan layak disebut pahlawan, kemudian warga dan relawan yang membantu penanganan gempa, atau mereka yang mengedukasi melawan radikalisme juga tidak berlebihan jika beroleh predikat pahlawan. Pertiwi berdoa dan republik bercahaya.

Pahlawan itu tak pernah meminta apalagi meminta-minta hanya untuk disebut pahlawan. Tentu, mereka melakukan segalanya untuk kepentingan rakyat dan negara. Ketika negeri ini memanggil, maka seluruh bangsa yang terlibat dan turun tangan. Menjadi generasi anti korupsi, gratifikasi dan pungli itu seksi dan itu pun layak berpredikat pahlawan.

Menghadirkan gotong royong mengatasi berbagai persoalan yang ada di sekitar kita mendesak kita dorong dan gerakkan. Ketika ada tetangga yang sakit dan belum mendapat pertolongan medis yang baik karena ketidaktahuan mereka, maka kewajiban bertetangga adalah membantu atau segera menyampaikannya kepada instansi terkait. Kita pastikan siapapun rakyat yang membutuhkan pelayanan, pemerintah akan selalu hadir memberikan layanan terbaik.

Saat ada warga yang masih pada kategori miskin, ibarat untuk makan sehari-hari saja sulit, maka kewajiban sosial harus saling membantu. Atau sampaikan pula ke komunitas untuk lelang pangan, lelang rumah tidak layak huni, lelang jamban, dll. Kalau mereka pada kondisi yang sudah tidak produktif, maka kita bantu dengan Kartu Jateng Sejahtera. Jika siswa miskin dari keluargaĀ sekengĀ kita bantu dengan Kartu Indonesia Pintar atau Beasiswa. Namun kalau mereka produktif, kita akan berdayakan mereka agar mampu berkarya dan mandiri.

Maupun kawan-kawan kita yang masih buang sampah sembarang atau menggunakan perabot berbahan plastik kita edukasi mereka melakukan bersih-bersih sungai, pantai dan mengelola sampah secara produktif dengan menggunakan kembali (reuse), mendaurulang (recycle), mengurangi (reduse) dan mengganti (replace), termasuk menolak (refuse) penggunaan bahan plastik di forum-forum resmi dan publik. Saat rapat desa atau dinas menggunakan gelas untuk menuang air minum, bukan plastik air mineral. atau membawa tumbler/gembes sewaktu bekerja.

John F Kennedy pernah berujar, apa yang bisa kita berikan buat bangsa dan negara, bukan apa yang dapat bangsa dan negara berikan pada kita. Jangan sampaiĀ mindsetĀ ini terbolak-balik. Ia pun tak pernah minta dicatat atas kebaikan dan kedermawanannya tatkala menyumbang pembangunan tempat ibadah di desa terpencil, misalnya. Karena, semakin banyak yang kita keluarkan semakin banyak yang kita dapatkan.

Mereka yang bekerja dengan penuh etos dan etik atau dalam bahasa KPK adalah berintegritas, maka ketika membangun bersama rakyat, ia tak takut ketika ia tidak popular, juga tak gentar menghadapi penghalang kemajuan desa. Ia juga tak galau saat ia ditinggalkan kawan-kawannya karena memegang prinsip atas kebenaran dan kebaikan.

Kita bisa menjadi pahlawan di manapun kapanpun asal apa yang kita kerjakan itu memberi manfaat dan kesejahteraan sekaligus membuka wawasan baru, menginspirasi dan membuatĀ passionĀ demi, hanya dan untuk kebangsaan kita, Indonesia. Mengabdi di manapun juga terbuka jadi pahlawan, berprofesi apapun juga punya kesempayan menjadi pahlawan, dengan catatanĀ sepi ing pamrih rame ing gawe.

Pahlawan itu tak pernah bermohon diistimewakan. Mereka sadar betul berjuang di jalan ini, serasa melewati jalan sunyi yang tak pernah dilalui orang. Di sinilah, sebagai kaum muda, milenial ketika menaburkan kebaikan tak perlu bertepuk dada, berbangga dengan kehebatannya pun ke-samaritannya.

Goenawan MohamadĀ dalam, “Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali,” menuliskanĀ barangkali kita acap mengharapkan pahlawan. Orang tak selalu baik, benar, berani. Tapi, kita mengagumi tindakan yang baik, benar, biarpun sebentar. Urun angan dan turun tangan mengeroyok menyelesaikan PR bangsa dan itu mesti menjadi intim dan jadi idola saat bangsa kita di tengah ujian demokrasi dan kemajemukan.

Sesungguhnya, negeri ini selalu terbuka bagi warganya untuk memborong predikat pahlawan. Akhirnya, dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita, mari berbuat kebaikan. Karena kebaikan yang dilakukan meski itu kecil tetapi kalau terus dilakukan akan menjadi gunung kebaikan yang akan memberi dampak luar biasa bagi kehidupan kebangsaan kita hari ini. Sudah saatnya kita berbuat kebaikan dan jangan hanya diam saja. Bangsa ini menanti setiap tetes keringat karya kita.

Jadi kepahlawan kita hari ini adalah bagaimana kita dapat mengambil peran untuk membantu mengatasi persoalan yang dihadapi bangsa ini. Bagaimana kita sebagai anak-anak bangsa senantiasa bangga akan produk dan budaya bangsa, dan merawat masa depan ke-bhinneka-an dengan konten toleransi. Bagaimana kita cerdas berjuang untuk memenangkan pertempuran global. Dan pada akhirnya bagaimana negara hadir tidak hanya pada angka tetapi pada kenyamanan dan kemudahan layanan kepada rakyat.

Marjono

Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng

Selengkapnya baca di I

2121 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Kemanan Cyber sebagai Upaya Melindungi NKRI

2 Mins read
Keamanan cyber, juga dikenal sebagai keamanan siber, adalah upaya untuk melindungi sistem komputer dan jaringan dari berbagai ancaman atau akses ilegal. Keamanan…
Jaga Pilar

Menilik Matinya Kritisisme: Tantangan Kebangsaan Terkini

3 Mins read
Kesadaran manusia sebagai makhluk berkesadaran rupanya tidak banyak disadari oleh manusia, dengan kata lain hanya sedikit dari mereka yang sadar sebagai makhluk…
Jaga Pilar

Ironi Kebangsaan: Saudi Menuju Moderasi, NKRI Menuju Wahabisasi

3 Mins read
Kelompok Wahabi tak henti-hentinya menjadi perbincangan publik dan menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat Indonesia. Wahabi merupakan aliran pemikiran Islam yang berpegang teguh…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *