Jaga Pilar

Patoean Na Lobi Ritonga Pahlawan Dari Goenoeng Tinggi

4 Mins read

BANGSA Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa Para Pahlawan”, itu advertorial yang terus ditegaskan oleh Menteri Sosial RI setiap menyongsong Peringatan Kemerdekaan RI dan Peringatan Hari Pahlawan Nasional.

Jadi, memanglah dalam rangka menyambut peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Pahlawan Nasional setiap tahunnya, kita patut atau boleh juga kita sebut wajib mengenang para pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan itu, menghalau dan mengusir penjajah dari bumi persada ini. Apakah pejuang yang sudah ditetapkan atau bukan/belum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Para pejuang itu semua mempunyai kelebihan dan wilayah operasi perjuangannya masing-masing, tidak terkecuali yang ada di Sumatera umumnya dan Sumatera Utara khususnya.

Daerah Asahan, Labuhan Batu, dan Tapanuli Selatan, jauh sebelum Indonesia merdeka sebenarnya bahkan sebelum adanya istilah Kresidenan, yang muncul setelah Belanda datang menjadilah bahagian dari wilayah Kresidenan Sumatera Timur, yang dalam kenyataan sebagai wilayah terluas dari bagian Sumatera Timur. Khusus di wilayah Asahan, Labuhan batu, dan Tapanuli Selatan sejak abad X-XI, sebelum Belanda masuk ke Indonesia, telah banyak berdiri kerajaan-kerajaan, sebut saja misalnya Asahan, Sei Kanan, Bilah dan Panei di Labuhan Batu, Tambak-Dasopang, Portibi, Ujung Padang, Parsorminan, Si Langge, Rokare, Tapus, Lobu Tayas, Purba Sinomba, Sirumatinggi, Gunung Tua, Batang Onang, Huta Godang, dan lain-lain di Padang Lawas. Kemudian dihulu Sungai Bilah terdapat kerajaan Goenoeng Tinggi (EYD = Gunung Tinggi) Sebagian kerajaan tersebut ada yang dibawah Residen Riau/Asisten Residen Siak dan sebagian dibawah pengawasan Padri. Residen Riau dan Siak, disebut-sebut merupakan perpanjangan tangan penjajah Belanda, memerintah sampai ke kerajaan Bilah, Panei, Kota Pinang, dan lain-lain, sedangkan Tambak, Dasopang, Huta Godang, dan lain-lain bekerjasama dengan Padri adalah sebagai penentang Belanda.

Dari sekian banyak kerajaan didaerah itu yang selama itu dapat dikatakan tidak sering terjadi peperangan antar kerajaan, meskipun tidak dipungkiri sewaktu-waktu ada invasi dari satu kerjaan kekerajaan lain dengan maksud memperluas wilayah kekuasaan. Sejak abad ke XVI, setelah Belanda masuk ke Indonesia, Belanda melakukan koloni, menjajah diseluruh wilayah Indonesia (ketika itu mereka sebut Hindia Belakang), kerajaan-kerajaan yang ada di Sumatera Timur, baik yang sebelumnya tunduk kepada kerjaan Siak maupun yang dibawah pengaruh Padri, sebagian menjadi takluk, patuh, dan sangat pro kepada Belanda, seperti Asahan. Bilah, Panei, dan Kota Pinang di wilayah Labuhan Batu. Hal itu terjadi karena iming-iming dari pihak Belanda, antara lain Belanda akan memberikan keringanan kepada Raja setempat, membantu dalam memperluas wilayah kekuasaan, dan janji-janji perlindungan lainnya.

Terbukti juga rupanya, Kerjaan Kota Pinang mampu menguasai Kerajaan Bilah dan Kerajaan Panei, bahkan sebagian sudah mencaplok wilayah kerjaan Asahan.

Setelah Raja Kota Pinang merasa berhasil hingga mendeklarasikan gelarnya menjadi “Yang Dipertuan Besar” dan kerjasama dengan Belanda cukup menguntungkan, Raja Kota Pinang berencana hendak menyerang Kerajaan Tambak, Dasopang, Huta Godang hingga ke Portibi, menyusul kemudian ke daerah kerajaan lainnya.

Radja Goenoeng Tinggi

Sebelum niat dan rencana Raja Kota Pinang terlaksana, kabar tentang hal itu sampai kepada Patoean Na Lobi. Patuan Na Lobi Ritonga (EYD) Raja Gunung Tinggi. Jika dilihat silsilah Marga Ritonga, ternyata Patuan Na Lobi Ritonga satu garis keturunan dengan Mhd. Said (Keluarga Waspada, dapat dilihat pada Silsilah lengkap berikutnya).

Masa kecilnya bernama Hoemala yang berarti “Batu Berharga”, kemudian mendapat gelar tertinggi dalam adat (Angkola) yaitu “Patoean”. Patoean berarti “Yang Dipertuan”. Seseorang yang telah menyandang Gelar Adat/Raja tidak lagi mencantumkan Marga. Istri Patuan Na Lobi Ritonga, Zainab Boru Harahap adalah putri dari keluarga Raja Huta Godang di Padang Lawas, yang juga berhubungan erat dengan Raja Kekuriaan Batunadua Padangsidimpuan. Sebagian kecil wilayahnya membawahi tidak kurang dari 22 desa/perkampungan. Namun sebenarnya mencakup wilayah Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara (dihulu Sungai Bilah), Labuhan Batu, dan sebagian Asahan.

Mendapat informasi rencana penyerangan dari Raja Kota Pinang, sebelum waktunya tiba, Patuan Na Lobi Ritonga mempersiapkan segala sesuatunya, Ulubalang, Serdadu, Persenjataan, dan Perbekalan untuk lebih dulu menyerang Kerajaan Kota Pinang.

Waktu yang ditetapkan oleh Raja Patuan Na Lobi Ritonga tiba, berangkat menuju Kerajaan Kota Pinang, berjalan kaki, berhari-hari, dengan sasaran langsung Istana Raja Kota Pinang.

Singkat kisah nyata, sekitar pertengahan Juli 1871, Patuan Na Lobi Ritonga memerintahkan Ulubalangnya untuk menurunkan Bendera (tiga warna) dengan memotong tiangnya serta menginjak-injak, Kemudian bersama pasukannya langsung memborbardir Istana Raja Kota Pinang, sehingga menjatuhkan korban antara lain beberapa orang pengawal digerbang dan didalam Istana, termasuk Tongku Mustafa, Raja Kota Pinang dan Permaisuri serta anaknya. Tidak itu saja, karena Patuan Na Lobi Ritonga melihat Foto Raja Willem II dan Ratu Emma terpampang didinding Balairung Istana, Patuan Na Lobi juga memerintahkan agar diturunkan, namun karena Ulubalangnya tidak mampu, kemudian Patuan Na Lobi Ritonga langsung menembak gambar tersebut hingga jatuh dan menghanguskannya.

Tentara Belanda yang ada ditempat itu, ketika mengetahui, bahwa pasukan Patuan Na Lobi Ritonga datang menyerang, sudah lebih dulu ada yang kabur menghindar, melarikan diri, takut berhadapan dengan Patuan Na Lobi Ritonga. Namun ada yang menjadi korban, walaupun secara jelas tidak diketahui berapa jumlahnya. Ini sudah menjadi kebiasaan korban kejadian seperti itu dirahasiakan oleh pihak Belanda. Terbukti tidak jelas mereka catat, siapa dan berapa pasukannya yang kembali.

Pada dasarnya penyerbuan yang dilakukan oleh Patuan Na Lobi Ritonga adalah untuk menyerang dan mengusir Belanda dari bumi Sumatera Timur khususnya, namun diketahui karena Raja Kota Pinang sebagai antek-antek Belanda, sehingga serangan dan pengusiran dilakukan melalui Kerajaan Kota Pinang tersebut, bahwa disana telah banyak Belanda berkedudukan untuk menjalankan misinya keseluruh daerah Sumatera Timur, kelak hingga ke Tapanuli.

Suatu hal yang patut dikagumi, bahwa dalam melakukan pengusiran Belanda dari Sumatera Timur ini, bukan dengan serangan tersembunyi, tetapi sang Radja dan para Ulubalangnya langsung menuju pusat kerajaan yang akan diserang.

Serangan dan Muslihat

Governor (Gubernur) General Hindia Belanda di Batavia (Jakarta) mendapat informasi kejadian di Kota Pinang, dari Asisten Residen Siak kepada Residen Riau, karena penyerangan yang dilakukan oleh Patuan Na Lobi Ritonga, Gubernur menyusun persiapan pasukan untuk menyerbu Kerajaan Gunung Tinggi dan Kerajaan-Kerajaan koalisinya. Kekuatan terdiri dari 6 kapal; Kapal Java, Kapal I’M Marnix, Kapal Banka, Kapal den Briel, Kapal Kapoeas I, Kapal Sophia, dan ditambah 3 Boat pengangkut peluru. Total personal dari Jakarta 281 orang ditambah kuli-kuli. Kemudian setelah tiba di Residen Riau dan Siak, ditambah lagi tenaga sebanyak 525 orang.

Akhir serangan balik, Patuan Na Lobi Ritonga, Baginda Na Lobi Ritonga serta para Ulubalangnya tidak ditemukan tim Belanda di Gunung Tinggi. Patuan Na Lobi Ritongaditangkap, dengan tipu muslihat, karena Patuan Na Lobi Ritonga selaku pemangku Adat, menghargai undangan Moranya (keluarga orangtua istrinya) dari Kuria Batunadua (Padangsidimpuan) yang ada hubungannya dengan Raja-Raja Huta Godang. Maksud memenuhi undangan, justru dimanfaatkan oleh Belanda untuk menahannya. Strategi dan muslihat tersebut jualah kiranya yang dialami oleh P. Dipenogoro.

Selanjutnya keputusan Gubernur Jenderal Patuan Na Lobi Ritonga akan dibawa ke Ternate. Sementara Baginda Na Lobi Ritonga tidak diinginkan Belanda ikut Patuan Na Lobi Ritonga, maka Baginda Na Lobi Ritonga diperintahkan untuk turun dari kapal. Karena Baginda Na Lobi Ritonga sedih tidak mau berpisah dengan abangnya, Patuan Na Lobi Ritonga melihat Baginda Na Lobi Ritonga menangis terus di dermaga Pelabuhan Sibolga, maka Patuan Na Lobi Ritonga dengan kekuatan “mana” yang dimiliki menghentakkan kakinya kelantai kapal, sehingga kapal yang akan membawanya tidak bisa bergerak berlayar. Pada saat itu juga Patuan Na Lobi Ritonga turun untuk menemui adiknya Baginda Na Lobi Ritonga, untuk membersarkan hati adiknya, dengan pesan suatu saat mereka akan bertemu kembali di Gunung Tinggi.

Penulis adalah Ketua Bidang Adat dan Tarombo PB-PRDB

Selengkapnya baca di sini I

1390 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Supeni, Pemeluk Teguh Soekarnoisme

7 Mins read
Tak lama setelah pembunuhan para jenderal pada dinihari 1 Oktober 1965, Supeni ditugasi Ketua Umum Partai Nasional Indonesia (PNI), Mr Sartono, untuk…
Jaga Pilar

Biografi Adenan Kapau Gani, Pahlawan Nasional dari Palembang-Sumatera Selatan

2 Mins read
Adnan Kapau Gani atau biasa disingkat A.K. Gani adalah seorang dokter dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada…
Jaga Pilar

Biografi Moehammad Jasin, Polisi Pertama Yang Diangkat Sebagai Pahlawan Nasional

1 Mins read
Komjen Pol (purn) Moehammad Jasin merupakan tokoh dari kalangan polisi, yang membentuk satuan Brigadir Mobil (Brimob) sebagai satuan elite dan tertua di…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *