Jaga Pilar

Pejuang Wanita Minahasa Maria Walanda Maramis (1872-1924)

2 Mins read

Maria Yosephine Catherina Maramis adalah seorang seorang Pahlawan Nasional Indonesia karena usahanya untuk mengembangkan keadaan Wanita Indonesia pada permulaan abad ke-20.

Masa kanak-kanak Maria diasuh oleh paman dan bibinya karena saat usia Maria 6 tahun kedua orangtuanya meninggal dunia. Pada masa itu anak-anak perempuan tidak dizinkan bersekolah di sekolah yang lebih tinggi dari Sekolah Dasar. Maria ternyata seorang yang haus akan pengetahuan. Waktu itu di Minahasa masih terikat kebiasaan, bahwa anak perempuan hanya di benarkan sekolah sampai Sekolah Dasar. Gadis-gadis Minahasa setelah menamatkan Sekolah Dasar, lalu bekerja membantu orangtua mereka, Bertani atau mengurus rumah tangga sampai tiba saatnya menikah.

 

 

Rotinsulu, paman Maria termasuk orang yang terpandang dan mempunyai kenalan yang luas dan banyak. Berkat kedudukan pamannya itu Maria pun banyak mempunyai kenalan. Seringkali ia diundang untuk menghadiri pesta-pesta yang diadakan oleh orang-orang Belanda. Hal itu merupakan kesempatan yang baik bagi Maria. Ia belajar mengurus rumah tangga dan menerima tamu berpangkat tinggi. Ia belajar memasak tidak hanya masakan daerah tetapi masakan Belanda dan membuat kue-kue. Ternyata ia adalah gadis yang cerdas.

Pada tahun 1890, Maria menikah dengan Yoseph Frederik Calusung Walanda. Maria mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak-anaknya sebaik-baiknya. Pada awal abad ke-20 jumlah sekolah di Minahasa masih sangat terbatas. Bila anak-anak ingin melanjutkan pelajaran, mereka harus pergi ke pulau Jawa. Tetapi tidak banyak orangtua yang mampu memikul biaya sekolah ditempat sejauh itu.

Maria meningkatkan Gerakan dengan mengumpulkan beberapa orang temannya untuk mendirikan sebuah organisasi yang akan berusaha memajukan Pendidikan kaum Wanita. Maksudnya terlaksana. Berdirilah sebuah organisasi yang diberi nama “Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya” disingkat PIKAT. Pada tanggal 8 Juli 1917 diselenggarakan rapat terbuka yang dihadiri oleh masyarakat Manado. Dalam rapat itulah PIKAT diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Dengan berdirinya organisasi itu Maria mulai bekerja sekuat tenaga untuk mewujudkan cita-citanya. Maria Walanda yang serba sederhana pengetahuannya mampu pula menggunakan mass media, surat kabar, untuk propaganda cita-cita PIKAT. Sebagai Langkah pertama cita-cita PIKAT, pada tanggal 2 Juli 1918 di Manado didirikan sekolah rumah tangga untuk gadis-gadis yaitu Huishoudschool PIKAT. Di sekolah ini di tamping gadis-gadis yang telah menamatkan pelajaran mereka di Sekolah Dasar. Guru-guru yang memberi pelajaran tidak digaji, kecuali Kepala Sekolah dan ibu pemimpin asrama. Untuk menambah pemasukan uang, maka Maria menjual hasil masakannya, kue-kue dan hasil pekerjaan tangan murid-murid sekolah PIKAT kepada para anggota dan para donator. Disamping hasil-hasil yang dicapai itu banyak tantangan dan celaan yang harus dihadapi, tetapi Maria tidak menghiraukannya. Kegembiraan memuncak Ketika dalam tahun 1920 Gubernur Jendral Van Limburg Sitirum beserta isterinya berkunjung ke sekolah PIKAT. Isteri Guberur Jenderal itu sangat terkesan dengan apa yang di lihat dan didengarnya dari Maria. Sebelum Kembali ia meninggalkan uang sebanyak empat puluh ribu gulden sebagai sumbangan.

Meskipun dapat dikatakan sudah banyak yang berhasil dicapai oleh PIKAT, namun Maria masih selalu berusaha meningkatkan cita-citanya. Sementara itu kesehatannya mulai menurun, sehingga kegiatan-kegiatannya sering terganggu. Ia sudah jarang mengunjungi rapat-rapat PIKAT, tetapi selalu rajin menulis surat kepada cabang-cabang PIKAT permohonan kepada pemerintah agar PIKAT mendapatkan bagian dari undian pemerintah untuk kepentingan sekolahnya. Konsep permohonan itu ditulisnya Ketika ia dirawat di rumah sakit dan diserahkan kepada Nona H. Sumoleng, Kepala Sekolah PIKAT dengan pesan, “ Jangan lupakan PIKAT, anak-anak yang bungsu”.

Kata-kata itu adalah pesannya terakhir untuk kepentingan PIKAT. Setelah menderita sakit beberapa waktu, maka dalam bulan maret 1924 dalam usia 52 tahun, Maria dipanggil menghadap Tuhannya. Pemerintah RI menghargai jasa-jasanya memajukan kaum Wanita Minahasa khusunya Presiden RI No. 012/TK/Tahun 1969 tanggal 20 Mei 1969, Pemerintah RI menganugrahi Ibu Maria Yosephine Catherina Walanda Maramis gelar Pahlawan Pergerakan Nasional.

 

Sumber : Perpustakaan Museum Pergerakan Wanita Indonesia

Dumus Susan

1401 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Biografi R. Suprapto, Pahlawan Revolusi dari Jakarta

2 Mins read
Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto merupakan salah satu korban dalam G30SPKI, beliau meninggal di Lubangbuaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur…
Jaga Pilar

Biografi Assaat, Presiden Republik Indonesia (penjabat)

3 Mins read
Mr. Assaat adalah pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta (27 Desember 1949 – 15 Agustus 1950)….
Jaga Pilar

Tukang Kebun Indonesia

3 Mins read
Ketika para pemuda Indonesia mengucapkan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, dunia sedang menjalani masa kemakmuran. Tekad mereka menyatakan “satu nusa, satu…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *