Religius

Puasa, Mindfullness, dan Kesehatan Mental

3 Mins read

Bulan suci Ramadhan adalah salah satu bulan yang penuh kemuliaan. Umat muslim di seluruh dunia gegap gempita menyambut, hingga melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan sunnah di bulan Ramadhan tersebut. Secara bahasa puasa sendiri bermakna menahan diri dari sesuatu. Sedangkan menurut istilah puasa berarti menahan diri dari makan, minum, berhubungan seksual dan segala yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat karena Allah Swt.

Berbagai ayat Al Qur’an dan juga hadist telah disampaikan kepada manusia betapa agungnya puasa, terutama puasa wajib di bulan suci Ramadhan. Dengan melaksanakan puasa dosa-dosa manusai akan diampuni oleh Allah dan akan kembali terlahir menjadi insan yang fitri. Rasulullah Saw dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Beliau bersabda bersabda:

Siapapun yang menjalankan puasa selama Ramadan karena keyakinan yang ikhlas dan berharap mendapatkan pahala dari Allah, maka semua dosanya di masa lalu akan diampuni,” (HR Bukhari Muslim).

Melalui hadist-hadist yang disampaikan oleh Rasulullah tersebut membuat kita akan selalu bersemangat dalam menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Tidak hanya semangat berpuasa namun juga memahami esensi-esensi yang terkandung dalam salah satu rukun Islam tersebut. Dengan berpuasa kita akan merasakan jiwa yang tenang sehingga kita akan mencapai pada keadaan mindfulness.

Mindfulness, Apa itu?

Masyarakat awam mungkin mendengar istilah mindfulness akan terasa asing, namun bagi insan psikologi istilah tersebut merupakan salah satu kesehatan mental yang dialami oleh manusia. Mindfullness merupakan sebuah istilah yang dipelopori oleh seorang dokter dan akademisi dari Universitas Massachusetts yang bernama John Kabat-Zinn pada awal tahun 1980an.

Mindfulness atau kesadaran penuh merupakan suatu keterampilan dalam memberikan perhatian dengan berfokus pada satu tujuan, saat ini, dan tidak menilai (Kabat-Zinn, 1990). Sedangkan menurut Germer, Siegel, dan Fulton (2005) menyebutkan mindfulness adalah suatu kondisi kesadaran pada saat ini dengan penuh penerimaan. Mindfulness menekankan pada kesadaran, menjadi sadar sepenuhnya pada hal yang terjadi saat ini dengan mengalihkan pengalaman yang lain, diterima sepenuhnya tanpa penilaian (Mace, 2008).

Sederhananya mindfulness merupakan suatu kondisi di mana pikiran, perasaan, dan tubuh kita berada pada saat ini, tidak mengembara ke masa lalu maupun masa depan. Maharani Aulia, 2020 mengemukakan mindfullnes merupakan keadaan mental penuh kesadaran dan penuh perhatian pada kondisi fisik dan lingkungan sekitar kita tanpa disertai penilaian, apalagi prasangka.

Kondisi mindfulness akan membuat diri kita merasa terbebas dengan beban ataupu urusan masa lampau yang belum dapat terseselesaikan. Ketika dalam tahap mindfulness, seseorang mampu mengalokasikan perhatiannya penuh untuk keadaan saat ini. Keadaan dimana kita menerima keadaan saat ini yang diterima langsung oleh indera pada saat terjadi saat itu juga.

Melansir dari Oase.id, Psikolog dan ahli saraf kognitif spesialis kajian ilmuah meditasi Petere Malinowski, dalam salah satu artikelnya menjelaskan 5 faktor yang mampu mengkontruksi mindfulness, yaitu acting with awareness, non judging, observing, describing dan non-reactivity. Keadaan memasrahkan perhatian untuk dipusatkan pada situasi saat ini dapat membantu seseorang untuk mereduksi stress, dan mengantarkannya pada kondisi mental yang baik.

Salah satu tujuan mindfulness yaitu untuk mencapai kesadaran penuh pada diri sendiri, dengan memulai niat dalam hati supaya tersadar, merasakan sensasi yang mengalir secara alami dan diharapkan menjadi fokus dan tenang ketika menghadapi sesuatu yang tidak terduga.

Mindfullnes dan Kesehatan Mental saat Berpuasa

Saat melaksanakan ibadah puasa, kita akan berniat dengan penuh keyakinan menjalankan ibadah tersebut selama waktu yang telah ditentukan. Niat tersebut dilakukan dengan kondisi sadar saat itu juga tanpa adanya paksaan dari diri kita. Niat yang diucapkan dengan penuh kesadaran tersebut mengaktifkan fungsi kontrol yang dilaluinya. Pada kondisi tersebut kita mampu menjalankan puasa dan menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa meskipun kita mampu untuk melakukannya.

Sebagai contoh ketika kita sedang tidak berpuasa saat haus maka otomatis akan mencari air untuk minum. Namun saat sedang berpuasa dengan kesadaran penuh akan mampu mengendalikan diri untuk menerima rasa haus tersebut. Dengan kata lain kita mampu mengambil alih kendali diri dari sifat refleks yang biasanya sangat dominan pada diri kita.

Setelah menahan diri selama terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari kita akan melakukan berbuka puasa, dimana saat berbuka puasa kita akan mengerahkan sepenuhnya perasaan dan keadaan diri kita pada momen tersebut, saat sedang melaksanakan buka puasa kita mampu melepaskan segala persoalan dan beban yang mungkin sedang kita alami, perasaan dan kondisi fisik kita secara penuh akan fokus menikmati masa kini yang penuh perhatain dan penuh kesadaran.

Ketika dalam kondisi minfulness tersebut kita akan terbawa suasana mental yang penuh dengan ketenagan, kenyamanan, merasa cukup dan penuh dengan kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan fungsi dari mindfulness, jika mindfulness diterapkan dengan konsisten maka akan dapat mengurangi rasa cemas, depresi dan meningkatkan perasaan positif dalam otak manusia.

Ibadah puasa khususnya di bulan Ramadhan selain membawa keberkahan juga akan melatih diri kita untuk disiplin dan melatih diri untuk menjalani hidup dengan mindfulness mode, jika mode mindfullnes diterapkan dengan baik tentu akan membawa manfaat besar bagi kesehatan mental manusia. Selain ganjaran pahala yang akan kita dapatkan dari konsekwensi ibadah yang kita jalankan, tetapi juga dapat menjaga kesehatan mental kita agar selalu dalam kondisi yang baik, sehingga kita akan merasakan kebahagiaan dzohiriah dan kebahagiaan bathiniyah.

Ahmad Lailatus Sibyan

Santri tinggal di Yogyakarta, Mahasiswa Konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam Program Studi Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
1390 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Religius

Gempa Cianjur dan Wujud Intoleransi di Tengah Persoalan Sosial

2 Mins read
Sangat disayangkan ketika beredar sebuah video yang menampilkan warga yang sedang mencopot logo bertuliskan gereja reformed di sebuah tenda bantuan korban gempa…
Religius

Belajar dari Peran Kiai dan Pondok Pesantren Yang Adil Gender

4 Mins read
Melihat lembaga pendidikan keagamaan Indonesia yang mulai bertransformasi dengan pernak pernik keilmuan modern, penting kiranya kita juga mengaca dari pola pengasuhan pesantren…
ReligiusTelaah

Titik Balik Peradaban Islam, Dari Era Keemasan Hingga Mundur Perlahan

4 Mins read
Sekarang makin lama makin sedikit kapal-kapal Jawa belayar ke Utara, ke Atas Angin, ke Campa ataupun ke Tiongkok. Arus kapal dari selatan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *