NKRI

Ramadhan, Puasa, dan Fenomena Mendadak Islami

3 Mins read

Ramadhan adalah bulan yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya, terlebih bagi umat Islam di Indonesia. Di dalamnya terdapat banyak kegiatan serta ritual yang dapat meningkatkan ukhwah, ikatan persaudaraan antar sesama. Ada acara buka bersama, sahur keliling,Ā tarawihĀ keliling, sedekah takjil, dan lain-lain. Hal inilah yang menjadikan bulan Ramadhan di Indonesia menjadi menarik.

Puasa sendiri dimaknai bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, namun juga bagaimana umat muslim mengendalikan hawa nafsu. Jika puasa dimaknai sekadar menahan lapar dan haus, orang miskin pun sudah merasakan lapar dan haus di setiap hari-hari yang dijalaninya. Namun pemaknaan puasa lebih dari sekadar hal tersebut. Puasa sejatinya adalah sebagai alat untuk mengendalikan diri dan hawa nafsu manusia.

Oleh sebab itu, puasa adalah ibadah yang sangat revolusioner dilakukan siapa saja, tidak hanya umat Islam (al-baqarah 183). Orang yang berpuasa adalah dia yang mampu menyalurkan hasratnya, dia punya harta untuk membeli makanan, dan dia memiliki air untuk diminum, namun, hal itu tidak dilakukan demi menahan nafsu, hasrat, dan keinginannya.

Namun sayangnya, banyak yang keliru dalam memaknai dan menerjemahkan ibadah puasa yang justru hanya dijadikan sebagai simbol dan ritual sesaat. Banyak yang menjadikan ibadah ini sebagai ajang untuk menduniakan akhirat, sementara akhirat yang seharusnya menjadi tujuan justru terabaikan. Sehingga wajar dan tidak salah jika banyak umat muslim justru saling pamer amal ibadah dalam rangka menampilkan kesucian diri agar menjadi atribut yang melekat.

Banyak kalangan yang ā€œmendadak islamiā€ karena datangnya bulan suci Ramadhan. Hal ini bisa dilihat dari cara berpakaian atau simbol-simbol yang melekat, makanan, dan kegiatan yang bertajuk ā€œIslamiā€. Bahkan penderitaan dijadikan sebagaiĀ iconĀ bisnis yang menarik oleh para saudagar-saudagar kaya. Toko-toko berlabelkan ā€˜martā€™ pun meminta pegawainya memakai atribut seperti peci,Ā jilbab, yang hanya dijadikan pajangan bagi pengunjungnya.

Keuntungan bisa diraih lebih banyak dan melimpah dengan menjual empati dan kemiskinan, dan ajaran agama dengan menawarkan produk peningkatan keimanan. Ditambah lagi acara-acara di televisi lebih banyak menampilkan siaran-siaran ceramah keagamaan oleh ustadz yang ā€œmendadak Islamiā€. Tayangan film yang sudah direkayasa sedemikian rupa untuk menyuguhkan cerita dan narasi ā€œmendadak islamiā€. Bahkan, Iklan-iklan yang tampil dan membawakan produk-produk tertentu yang juga ā€œmendadak Islamiā€.

Demikan pula pada industri makanan dan fashion yang mengambil posisi strategis dalam komoditas dalam ritual bulan suci Ramadhan ini. Bisa dilihat bahwa hadirnya makanan ala ā€œislamiā€ dan pakaian ala ā€œislamiā€ menjadi pasar yang sangat ramai di buru oleh umat Islam. Makanan dan fashion menjadi sesuatu yang ā€œdigegerkanā€, bahkan ā€œdiributkanā€ dalam rangkaian ritual bulan ini, baik dari masalah harga maupun Ā jenis. Sampai-sampai ada yang memiliki anggapan bahwa tak penting tentang ritual puasanya, yang terpenting adalah ritual Ā dalam meramaikan kuliner dan fashion di dalam bulan ramadhan.

Masyarakat muslim Indonesia selalu gagap dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan berbagai macam persiapan. Betapa tidak, anggaran makanan pun melonjak tajam naik dibandingkan hari-hari selain bulan puasa. Padahal seharusnya jatah dan pola makan berkurang. Ditambah lagi Ā selain harga-harga sembako dan pakaian pun ikut melonjak demi mengikuti trend dan gaya ā€œritual bulan suci ramadhanā€.

Seharusnya umat islam bisa menjalankan ibadah ramadhan dengan penuh ketenangan dan dijalankan secara substantif, bukan ibadah yang bersifat atributif, penuh dengan simbol-simbol. Pemaknaan ibadah puasa dalam bulan Ramadhan harus dikembalikan pada esensi yang semestinya, sehingga ibadah puasa dalam bulan Ramadhan bukan hanya memiliki kesan ajang ritual islami.

Namun sesungguhnya momentum Ramadhan ini mampu dijadikan sebagai upaya dalam membagun dan menguatkan karakter dan jiwa bangsa Indonesia Ā yang sedang dilanda penderitaan. Moralitas bangsa yang lemah, orang mudah teriak bunuh dan membenci yang berbeda, dan sulit menerima kebenaran dari orang yang dianggapnya musuh.

Jika pemaknaan dan pemahaman puasa bulan Ramadhan ini mampu diinterpretasikan dan diaplikasikan secara esensial tentunya umat muslim Indonesia tidak akan terjebak pada hal-hal yang bersifat atributif semata, melainkan mampu membawa peradaban bangsa ke arah yang lebih baik dengan optimisme dan dengan berlandaskan pada cita-cita luhur bangsa Indonesia.

Oleh karena itu sesungguhnya momentum puasa ramadhan ini mampu menjadi ritual dalam menggerakkan ā€œRevolusi Spiritualā€ Ā sebagai cara dan latihan dalam menempuh jalan terjal menuju masyarakat Indonesia yangĀ rahmatan lil alamin. Menjadi pengayom untuk semua.

Wallahhu aā€™lam.

Arief AzizyĀ 

Mahasiswa Psikologi UIN Suka serta Pegiat Literasi Pramoedya Ananta Toer Blora, Alumnus Madrasah TBS Kudus.

2112 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
NKRI

Refleksi Hari Guru, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

2 Mins read
Jika matahari adalah cahaya maka bumi adalah tempat jikalau guru memberikan secercah harapan tanpa meminta imbalan maka pendidik adalah pahlawan tanpa tanda…
NKRI

Dualisme Sikap Barat Terhadap Konflik Israel-Palestina: Bagaimana Sikap Indonesia?

3 Mins read
Warga Palestina diĀ GazaĀ memiliki beberapa alternatif untuk hidup di tengah konflik. Jika mereka tinggal di rumah, mereka rentan terkena bom. Mereka bisa mencari…
NKRI

Candi Gedong Songo: Menguak Sejarah dan Bentuk Arsitektur

3 Mins read
Candi merupakan salah satu peninggalan sejarah yang masih ada hingga saat ini di beberapa wilayah di Indonesia. candi tidak hanya sekedar bangunan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *