Pancasila

Refleksi Milad Ke-112 Muhammadiyah: Pancasila dan Islam Versi Muhammadiyah

2 Mins read

Tulisan sederhana ini saya niatkan sebagai kado Milad ke 112 Muhammadiyah. Meskipun saya bukan kader Muhammadiyah, namun tetap saja sebagai warga negara maka tak ada salahnya jika saya menulis khusus tentang Muhammadiyah.

Pada kesempatan ini, saya akan menelisik ‚ÄúPiagam‚ÄĚ keselarasan Pancasila dengan Islam versi Muhammadiyah. Pilihan ini tidaklah berangkat dari ruang kosong melainkan saya sandarkan pada hasil Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar tahun 2015 yang menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara Pancasila sebagai¬†Darul Ahdi Wa Syahadah¬†(negara perjanjian dan kesaksian). Artinya, Muhammadiyah dengan tegas menyatakan Pancasila itu merupakan produk final dan tidak perlu dipertentangkan dengan Islam.

Mengingat ada sebagian ormas Islam atau gerakan Islam yang menolak Pancasila sebagai nafas kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka, hasil Muktamar Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 cukup relevan untuk diulas kembali.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa kita perlu mengetahui isi ‚ÄúPiagam‚ÄĚ Keselarasan Pancasila dengan Islam? Kemudian, apa dan bagaimana kita merefleksikan Milad ke-112 Muhammadiyah?

Sebagaimana disinggung di atas, bahwa munculnya ‚ÄúPiagam‚ÄĚ keselarasan Pancasila dengan Islam ini adalah bentuk kontra radikalisasi Muhammadiyah atau lebih tepatnya, upaya Muhammadiyah meredam laju gerakan Islamisme (termasuk populisme Islamis akibat dari faktor merebaknya Islamisme) di Indonesia, kata Hasnan Bachtiar (2019). Dengan demikian, Muhammadiyah memberikan alternatif yang keluar dari rahim Islam Indonesia yakni, gagasan Indonesia sebagai Negara Pancasila dalam bingkai¬†Darul Ahdi Wa Syahadah (negara perjanjian dan persaksian).¬†

Perlu digaris bawahi, kalimat ‚ÄúDarul Ahdi Wa Syahadah‚ÄĚ itu terdiri dari dua kata, yaitu ‚Äúdarul ahdi‚ÄĚ dan ‚Äúdarul syahadah‚ÄĚ. Keduanya memiliki makna dan tujuan yang berbeda. Dikatakan ‚Äúdarul ahdi‚ÄĚ karena Indonesia lahir dari sebuah konsensus nasional. Sedang, disebut ‚Äúdarul syahadah‚ÄĚ karena Indonesia sebagai tempat pembuktian atau kesaksian.

Menurut dokumen hasil Muktamar Muhammadiyah ke-47 (2015), kaitannya dengan darul ahdi, sejarah mencatat, sejak awal didirikan Persyarikatan Islam ini tak jarang dari tokoh-tokohnya aktif dalam prakarsa persiapan kemerdekaan Indonesia misalnya, Kiai Agus Mas Mansur. Selain itu, ada tiga tokoh penting Muhammadiyah lainnya seperti Ki Bagus Hadikusumo, Prof. Kahar Mudzakir, dan Mr. Kasman Singodimedjo bersama tokoh bangsa lainnya yang mengambil peran aktif dalam merumuskan prinsip dan bangunan dasar negara Indonesia sebagaimana keterlibatannya di Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan (BPUK) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Sementara itu, kaitannya dengan darul syahadah, Muhammadiyah menghendaki seluruh jamaahnya dan seluruh umat Islam di Indonesia harus menjadi para aktor utama yang menyaksikan (syahadah). Akan tetapi, yang dimaksud persaksian di sini mengharuskan umat muslim memiliki komitmen berkontribusi dalam pembangunan Indonesia di segala bidang kehidupan. Lebih jauh lagi, “dalam Negara Pancasila sebagai darul syahadah, umat Islam harus siap bersaing (fastabiqul khairat) untuk mengisi dan memajukan kehidupan bangsa dengan segenap kreasi dan inovasi terbaik.

Dengan demikian, gagasan Indonesia sebagai negara Pancasila darul ahdi wa syahadah pada gilirannya, menjadi konsepsi gerakan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang menyadari sepenuhnya bahwa negara Indonesia merupakan tempat menjalankan misi dakwah dan tajdid untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Sehingga, narasi-narasi yang menjatuhkan martabat kebangsaan misal, Indonesia bukan negara Islam atau lebih spesifik lagi, Negara Kesatuan Republik Indonesia disebut bentuk negara yang tidak ideal, begitu juga dengan Pancasila, sistem demokrasi Pancasila dan sistem hukum Indonesia, dianggap bertolak belakang dengan syariat Islam ini bagi Muhammadiyah adalah bentuk nyata melawan negara. Maka, sikap Muhammadiyah harus meredam narasi-narasi tersebut.

Pada tahap ini, guna merefleksikan milad ke-112 Muhammadiyah, maka kita harus mendukung dan bersamanya menyaksikan Indonesia menjadi negeri yang aman dan damai (darul salam) menuju kehidupan yang maju, adil, dan makmur, bermartabat, dan berdaulat dalam naungan ridla Allah SWT.

Akhirnya, sampai dengan abad ke-21, Muhammadiyah masih eksis dan menjadi garda terdepan dalam melayani umat dan bersinergi dengan pemerintah. Dalam konteks pandemi, mengampanyekan pentingnya menerapkan protokol kesehatan. Wallahhu a’lam.

Saiful Bari

Penulis adalah alumnus Program Studi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Juga, pernah nyantri di ponpes Al-Falah Silo, Jember. Kini, aktif sebagai peneliti The Al-Falah Institute Yogyakarta.

selengkapnya baca di I

2121 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Pancasila

Menelaah Sikap Ideal Kiai dalam Gelanggang Politik

4 Mins read
Kyai sebagai pengasuh Pesantren menjadi tokoh sentral, tidak saja sebagai pengelola Pesantren, tetapi Kyai juga sebagai tokoh dan panutan masyarakat Pesantren. Bahkan…
Pancasila

Memasuki Era Perguruan Tinggi Kapitalistik yang Menjijikkan

3 Mins read
Tak bisa dimungkiri, pendidikan hingga kini masih dipandang sebagai kunci utama untuk mencapai mobilitas sosial dan memperbaiki taraf hidup manusia. Banyak orang…
Pancasila

Keutuhan Bangsa Indonesia Tak Boleh Direduksi Kelompok Keagamaan

1 Mins read
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menilai, secara sosiologis, hasil ijtima ulama tentang pelarangan ucapan salam lintas agama dan selamat hari raya keagamaan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *