Telaah

Selamat Datang Mahasiswa Baru! Jangan Sampai Masuk dalam Pusaran Radikalisme

2 Mins read

Pergerakan aktifis khilafah di kalangan mahasiswa, masih menjadi misteri yang cukup gamblang. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa, Lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) pada tahun 2017, mencatat sekitar 39% mahasiswa terpapar radikalisme. Tidak hanya itu, adanya peningkatakan paham konservatif dalam keagamaan sebanyak 23% mahasiswa serta setuju dengan tegaknya negara Islam.  Selain dari sisi mahasiswa, Menristekdikti menyatakan bahwa ada sekitar 4-5 orang dosen yang terdeteksi telah terpapar radikalisme.

Melihat kondisi demikian, perguruan tinggi menjadi salah satu basis utama dalam pergerakan radikalisme di Indonesia. Artinya, warning kepada kita semua bahwa, kampus sedang tidak baik-baik saja. Meskipun adanya budaya dan pola pikir yang kritis dan akademis, justru belum sejalan dengan pemahaman nasionalis seseorang. Orang yang menjunjung cinta tanah air, Pancasila, bukan berarti berasal dari kalangan akademisi. Justru datang dari kesadaran bahwa, menjunjung tinggi kecintaan pada tanah air Indonesia adalah kewajiban bagi setiap bangsa Indonesia.

Selain itu, perlu dipahami bahwa ada beberapa faktor penyebab radikalisme pada diri seseorang, diantaranya: pertama, faktor domestik seperti kondisi dalam negeri yang terus menerus berjuang dalam kemiskinan, ketidakadilan ataupun merasa kecewa dengan pemerintah. Kedua, faktor ekstrenal dimana pengetahuan tentang keagamaan dalam ranah global yang disebabkan oleh sentiment keagamaan, isu internasional. Ketiga, faktor kultural yang disebabkan oleh paham keagamaan tradisional dan sempit. Faktor ini yang juga melatar belakangi para mahasiswa dan civitas akademik terpapar radikalisme dan ikut andil dalam mendukung gerakan khilafah.

GEMA secara jelas memiliki visi menegakkan khilafah

Salah satu arus pergerakan radikalisme di kampus yakni terdapat pada sebuah organisasi mahasiswa di UIN Jakarta, yakni GEMA (Gerakan Mahasiswa) Pembebasan UIN Jakarta. Dilansir dari akun instagramnya, @gema_uinjakarta, setidaknya kita melihat beberapa informasi melalui beberapa postingan. Kita melihat secara jelas bahwa, organisasi kampus GEMA secara jelas mempromosikan khilafah sebagai motor gerakan serta sebagai tujuan akhir dalam pergerakannya.

Pada hari Jumat (22/07/22) lalu, GEMA melakukan aksi damai di Senayan, Jakarta, yang diakhiri foto bersama dengan membentangkan spanduk berisi kalimat, “Saatnya umat terapkan Syariah dan Khilafah”. Mengacu pada kalimat tersebut, ini berarti organisasi GEMA adalah gerakan baru di kampus yang secara terbuka memproklamirkan khilafah dalam gerakannya.

Bagaimana menanggapi ini? Civitas akademik UIN Jakarta perlu meninjau ulang dengan memberikan ketegasan bagaimana eksistensi organisasi tersebut di lingkungan PTKIN. Sebab kehadirannya, tidak bergerak di bawah tanah untuk melakukan kaderisasi. Justru sebaliknya. Padahal seharusnya, para aktifis khilafah dari kalangan mahasiswa ini, akan melakukan strategi main belakang untuk tetao mempertahankan eksistensinya sebagai organisasi yang ditentang oleh pemerintah.

Apalagi, kehadiran Permenristekdikti No. 55 Tahun 2018 tentang Pe,binaan Ideologi Bngasa dalam Kegiatan Kemahasiswa di Lingkungan Kampus, kiranya menjadi salah satu pedoman bagi perguruan tinggi untuk meninjau keberadaan organisasi GEMA.

Pertanyaan yang muncul justru, bagaimana organisasi ini bersikap secara terang-terangan bahwa dirinya akan mendirikan negara khilafah? Siapa saja mahasiswa yang terlibat dalam gerakan ini? Bagaimana pola kaderisasi untuk mengembangkan organisasinya? Jawaban dari pertanyaan ini membutuhkan informasi yang cukup luas. Namun, yang paling penting untuk dipertanyakan, bagaimana kebijakan yang diterapkan oleh pihak kampus, khususnya UIN Jakarta melihat fenomena ini? Apakah sudah secara jelas diketahui oleh civitas akademik, khususnya tenaga pendidik dan tenaga kependidikan? Bagaimana langkah selanjutnya?

Kontra radikalisme memiliki andil dalam penyebaran arus informasi

Dalam melihat fenomena ini, setiap elemen memiliki peran untuk memberantas radikalisme dan terorisme. Namun, pada konteks penyebaran arus informasi, kontra radikalisme, kontra terorisme, merupakan salah satu kekuatan untuk memahami pergerakan kelompok radikalisme di semua sektor. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa kehadiran GEMA, apabila menyasar mahasiswa baru, menjadi tantangan yang cukup serius.

Sebab mereka akan hadir sebagai sebuah wadah untuk menampung kegelisahan para anak muda yang sedang mencari jati diri, gelisah, galau ataupun mengalami keresahan lainnya. Sehingga yang terjadi justru, proses kaderisasi keberlanjutan dalam rangka memperluas arus pergerakan radikalisme semakin tidak terbendung. Dari sinilah, perlunya kehadiran organisasi intra dan ekstra kampus yang juga memiliki andil untuk juga fokus terhadap isu-isu radikalisme. Wallahu a’lam..

Muallifah

Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
1396 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Telaah

Generasi Muda dan Langkah Strategis Melawan Radikalisme

3 Mins read
Pemimpin Gereja Khatolik Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke benua Eropa pernah menyampaikan “Kekerasan dan kebencian dengan mengatasnamakan Tuhan adalah suatu tindakan yang…
Telaah

Perempuan Indonesia Rentan Menjadi Teroris, Ini Faktornya

2 Mins read
Indonesia kini masuk dalam kotak dunia baru terorisme. Secara politik, dunia baru terorisme ini, berjalan pada hal-hal yang tidak dipikirkan. Misalnya, dunia…
Telaah

Sejarah Keterlibatan Perempuan dalam Aksi Terorisme

3 Mins read
Banyak yang tidak menyangka bahwa perempuan juga akan terlibat dalam aksi terorisme. Terutama para perempuan Indonesia, yang secara kultur sosial dan nilai-nilai…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *