Jaga Pilar

Seniman itu Negarawan, ‘Gitu Aja Kok Repot’!

3 Mins read

Seniman berperan besar dalam perjalanan sebuah bangsa. Ia adalah tokoh negara, pelaku sejarah sekaligus sebenar-benarnya manusia karena telah ikut melahirkan dan meneruskan sebuah kebudayaan.

Persinggungan antara seniman dengan kehidupannya telah banyak dicontohkan oleh seniman-seniman Indonesia.

Melalui berbagai cerita sejarah, mereka telah berhasil “mencari” dan “merumuskan” bentuk dan ekspresi dari diri dalam memandang kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka hidup dan berkarya di dalam masyarakat. Sosoknya penting seperti halnya negarawan, salah satunya ialah Soenarto Pr.

Soenarto Pr dan Dunia Lukisnya

Sejak di lingkungan keluarga, tepatnya umur empat tahun, Soenarto Pr. sudah mulai mengenal dunia seni lukis. Soenarto Pr. yang lahir di Desa Bobotsari, kaki Gunung Slamet Purwokerto pada tanggal 20 November 1931, sering kali mencoret-coret lantai di rumah.

Berbekal kapur tulis yang dibawa oleh bapaknya, Moe’id Prawirohardjono, seorang guru sekaligus kepala sekolah Sekolah Rakyat. Kakaknya, Soegito Pr. waktu itu bekerja di RRI Purwokerto, juga gemar melukis. Soenarto Pr. kecil sering disuruh untuk mengambilkan alat-alat lukis oleh kakaknya ketika sedang melukis.

Sikap terbuka dan mencintai seni dari dalam keluarga, mendorong Soenarto Pr. bersemangat belajar seni lukis. Di rumah bapaknya, terdapat perpustakaan kecil berisi buku-buku bacaan yang juga memuat informasi seni lukis.

Ketika di Sekolah Rakyat Sempurna Sukanegara, Soenarto Pr mulai mengenal gambar-gambar dari buku, salah satunya reproduksi Borobudur karya Basuki Abdullah. Bahkan ketika masih duduk di kelas VI Gakuming Gakko (masa kedudukan Jepang), ia pernah memenangkan juara II lomba lukis se-Kota Purwokerto.

Beranjak dewasa, tepatnya tahun 1951, Soenarto Pr. masuk Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) dengan mengambil jurusan lukis dan patung.

Pada masa perploncoan (masa perkenalan) sebagai mahasiswa baru, ia beserta beberapa orang temannya dalam satu regu mendapat tugas mengunjungi Ki Mangoensarkoro. Saat ditanya tentang alasan masuk ASRI, ia menjawab “Selain menjadi pelukis dan pematung, juga ingin menjembatani antara seni dan masyarakat”.

Keseriusannya terhadap dunia lukis dibuktikan dengan pameran tunggal ketika masih menjadi mahasiswa. Pada tahun 1957, ia melakukan pameran tunggal dengan dukungan Ikatan Alumni ASRI (IKASRI) di ruang pameran milik PTPI (Pusat Tenaga Pelukis Indonesia).

Mengutip Soedarmadji di Majalah Minggu Pagi 8 Juni 1957, karya-karya Soenarto Pr. yang dipamerkan terdiri dari tiga belas lukisan pastel, enam belas cat minyak dan sebuah cat air. Selainnya tiga buah cukilan kayu, empat buah patung tanah liat dan empat buah sketsa.

Jawaban tentang “menjembatani antara seni dan masyarakat” dibuktikan dengan mendirikan Sanggarbambu di Yogyakarta pada tanggal 1 April 1959. Meskipun berawal dari celetukan Kirdjomuljo, namun Sanggarbambu telah membawa angin segar dalam dunia seni rupa Indonesia.

Di masa pergolakan “politik masuk sanggar” dan negara yang sedang merumuskan identitas nasional, Sanggarbambu sebagai kelompok seni yang memilih jalan “non politik” dan tetap berpegang ideologi Pancasila.

Sanggarbambu dan senimannya mengatakan bahwa seni dapat mengangkat derajat manusia kepada tingkat kemanusiaan yang luhur dan menjadi benteng kemanusiaan.

Hal itu dibuktikan dengan pameran keiling ke 35 kota di pelosok Jawa dan Madura dalam rentang waktu enam tahun (1959-1965). Tidak mengherankan jika seniman Affandi di tahun 1967 mengatakan, “Sanggarbambu adalah sanggar yang benar-benar sanggar di Indonesia”.

Lukisan “Gitu Aja Kok Repot-Repot

Di usia menginjak kepala tujuh, Soenarto Pr. masih terus berkarya dan melukis. Sebagai seorang seniman yang piawai dalam melukis wajah dan menggunakan pastel, ia melukis negarawan sekaligus presiden ke-4 Indonesia, Abdurrahman Wahid.

Lukisan tersebut dibuat pada tahun 2007 dan diberi judul “Gus Dur”. Lukisan tersebut berukuran 75 cm x 54 cm dengan media pastel di atas kertas. Pose khas Gus Dur sedang menggengam kedua tangan dengan kalimat “Gitu aja repot-repot” diatasnya.

Bentuk tulisan pada kalimat tersebut sangat khas gaya huruf seniman Sanggarbambu. Terlihat Gus Dur memakai kemeja batik bewarna kuning orange dan background warna hijau gelap.

Lukisan Gus Dur tersebut sekarang berada di Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta. Lukisan tersebut merupakan kenang-kenangan dari Soenarto Pr. kepada Kyai Jadul Maula selaku pengasuh dari Pondok Pesantren Kaliopak pada Januari 2010.

Awalnya, lukisan tersebut ikut serta dalam pameran seni rupa bersama bertajuk “Inventory” yang berlangsung selama 12 hari di Pondok Pesantren Kaliopak. Selanjutnya, pada tanggal 3-12 Agustus 2010 lukisan tersebut menjadi bagian dalam Pameran Tunggal Soenarto Pr. yang bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta.

Lukisan tentang Gus Dur tersebut menjadi salah satu dari 38 karya lukis pastel.Total karya yang dipamerkan berjumlah 45 karya terdiri dari 38 karya lukis pastel dan 7 karya sketsa.

Kesederhanaan dan kegigihan untuk terus berkarya melekat di sosok Soenarto Pr. Sejarah sudah mengungkap, tentang perjalanan hidup seorang maestro seni rupa Indonesia melalui karya dan sikanya.

Lukisan tentang Gus Dur karya Soenarto Pr memberikan sebuah jawaban bahwa seni rupa erat kaitannya dengan sejarah sebuah bangsa. Soenarto Pr dan Gus Dur adalah tokoh negara yang berjuang dengan jalan mereka masing-masing.

Mereka berdua bertemu dan mencapai di titik yang sama sebagai negarawan. Mereka telah menyumbangkan banyak hal kepada masyarakat Indonesia dalam membentuk kesadaran sejarah bangsanya.

Sekiranya memang benar ucapan Soekarno yang saya kutip di awal, selama 87 tahun Soenarto Pr. telah memberikan teladan sebagai tokoh dalam sejarah seni rupa Indonesia. Kita hanya perlu belajar untuk mengumpulkan, menyusun ulang, dan menafsirkan kembali pengalaman-pengalaman dan karya-karya dari seniman Indonesia.

Tentu, berbagai sudut pandang perlu dibuka dan diatas kepentingan politik di setiap zamannya sehingga seni rupa dapat memberikan pandangan dan berperan dalam mencapai kesadaran sejarah dari sebuah bangsa.

Athif Thitah Amithuhu

843 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan.
Articles
Related posts
Jaga Pilar

All Eyes On Papua, Surya Pradana Melakukan Penelitian Lanjutan

4 Mins read
Permasalahan Papua telah lama menjadi perhatian dan perhatian internasional, dengan sejarah konflik, pelanggaran hak asasi manusia, dan perjuangan kemerdekaan di wilayah tersebut…
Jaga Pilar

Makna Spiritual dan Sosial Salam dalam Konteks Keindonesiaan

3 Mins read
Islam, sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, mengajarkan nilai-nilai luhur yang mencakup salam, perdamaian, dan keselamatan. Konsep salam ini tidak…
Jaga Pilar

Manifesto Kebangsaan: Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital

2 Mins read
Di era digital ini, di mana teknologi dan internet bagaikan nadi kehidupan, menjaga kesehatan mental menjadi kian penting. Kemudahan akses informasi dan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *