Religius

Siapa Orang Indonesia yang Pertama Kali Naik Haji?

2 Mins read

Ada masa-masa tertentu ketika ibadah haji susah dilaksanakan. Hal ini karena pada masa itu moda transportasi tidak semudah sekarang. Oleh karena itu, hanya orang-orang tertentu yang bisa naik haji. Apalagi di Indonesia, jarak dari tanah air menuju tanah haram yang cukup jauh membuat beberapa orang pada masa lampau harus berpikir ulang jika ingin naik haji. Tentu jadi pertanyaan kita semua, siapa orang Indonesia yang pertama kali naik haji?

Sebuah naskahĀ Carita ParahiyanganĀ (naskah kuno berbahasa Sunda) menuliskan bahwa orang pertama yang menunaikan ibadah haji adalah Bratalegawa, putra kedua Prabu Pangandiparamata Jayadewabrata (berkuasa tahun 1357-1371), penguasa Kerajaan Galuh, salah satu kerajaan Sunda. (Moh Rosyid, 2017) Pendapat ini berbeda dengan versi M. Shaleh Putuhena yang menyatakan bahwa ibadah haji dilaksanakan sejak abad ke-16, juga dengan Martin van Bruinessen yang menyatakan ibadah haji telah dilaksanakan pada abad ke-17.

MenurutĀ Martin van Bruinessen, model transportasi yang pertama kali digunakan adalah kapal layar, sebelum akhirnya berganti menjadi kapal api hingga akhirnya pesawat terbang seiring dengan perkembangan teknologi. Pada masa ketika kapal layar menjadi moda transportasi utama untuk pergi ke tanah suci, umat Islam tidak hanya harus menempuh perjalanan panjang hingga berbulan-bulan, melainkan juga dihantui bahaya yang mengancam keselamatan. Mereka harus bertaruh nyawa demi berangkat haji. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Van Bruinessen menjelaskan bahwa perjalanan menggunakan kapal layar sangat bergantung pada cuaca. Kapal layar yang digunakan pun bukan kapal layar khusus penumpang, tetapi kapal para pedagang yang berlabuh di Indonesia. Sehingga para calon jamaah haji seringkali berpindah-pindah dari satu kapal ke kapal yang lainnya. Mereka yang berasal dari berbagai daerah akan berlayar menuju Aceh sebagai pelabuhan paling ujung di Indonesia. Di Aceh, mereka menantikan kapal yang menuju ke India sebelum akhirnya berpindah ke kapal yang menuju ke Yaman atau langsung ke Jeddah.

Selama pelayaran yang panjang itu, seringkali kapal layar yang ditumpangi harus berhadapan dengan cuaca buruk, tidak sedikit kapal yang pada akhirnya tenggelam bersama para penumpangnya, mereka yang selamat biasanya terdampar di pulau yang asing. Bahaya lainnya yang dapat mengancam adalah para bajak laut yang berada di perairan sepanjang rute pelayaran, mereka akan merampas harta para calon jamaah haji, bahkan tak jarang awak kapal juga melakukan hal yang sama.

Masih menurut penjelasan van Bruinessen, dalam rentang tahun 1853 hingga 1858, pemerintah kolonial Belanda mencatat bahwa jumlah orang yang kembali ke tanah air tidak sampai separuh dari jumlah orang yang berangkat. Selisih yang cukup banyak tersebut juga disebabkan adanya jamaah haji yang memilih menetap di Mekkah, namun jumlah korban yang meninggal di perjalanan juga tidak sedikit.

Sejak dibukanya terusan Suez pada tahun 1869, jumlah kapal yang berlayar ke Indonesia meningkat, hal ini membuat perjalanan haji lebih cepat, karena para calon jamaah haji tidak perlu menunggu kapal yang akan ditumpangi terlalu lama. Setelah itu, mulai ada kapal layar khusus pengangkut jamaah haji, ini tentu sangat membantu. Hanya saja, perusahaan yang mengoperasikan kapal seringkali tidak memerhatikan kesejahteraan penumpangnya.

Dari kisah perjalanan haji yang dipaparkan oleh van Bruinessen, terlihat bahwa tantangan yang harus dihadapi umat Islam Indonesia yang ingin berangkat haji pada saat itu sangat kompleks. Namun, hal tersebut tidak menghalangi tekad mereka. Mereka siap bertaruh harta dan nyawa demi berangkat haji.

Van Bruinessen melihat ada hikmah di balik sulitnya melakukan perjalanan haji di masa silam, terdapat nilai sosial tinggi di dalamnya, yakni ketika umat Islam Indonesia mampu menjalin interaksi yang intens antara satu sama lain selama di Mekkah, haji menjadi ajang konsolidasiĀ untuk melawan kolonial Belanda yang sedang menjajah Indonesia kala itu.

Saat ini, umat Islam Indonesia tidak lagi menghadapi tantangan seperti itu, karena moda transportasi pesawat terbang sudah tersedia, tantangan yang dihadapi saat ini adalah para calon jamaah harus menunggu gilirannya selama bertahun-tahun, karena jumlah pendaftar yang tidak sebanding dengan kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi untuk Indonesia. Yang jelas, kita harus terus berdoa dan berusaha agar Allah SWT memberi kesempatan kepada kita untuk memenuhi panggilannya ke tanah suci.

843 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan.
Articles
Related posts
Religius

Santri Lebih Kebal Paparan Radikalisme Daripada Anak SMA, Benarkah?

2 Mins read
Murid-murid dari Sekolah Menengah Atas (SMA) lebih rentan terpapar paham rdaikal terorisme dibandingkan para santri dari pesantren. Hal itu terjadi karena murid-murid…
Religius

Memaafkan Bukan Berarti Kalah, tapi Memaafkan adalah Ibadah

2 Mins read
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali dihadapkan pada situasi yang tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang di sekitar kita. Manusia tidak luput…
Religius

Munculnya Gerakan Hijrah yang Menyimpang dari Tuntunan Rasulullah

3 Mins read
GuruĀ Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Prof Husniyatus Salamah Zainiyati, mengatakan, muncul tafsir tentang makna hijrah yang justru menyimpang dari tuntunan…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *