Presiden Soekarno tidak hanya terkenal sebagai seorang pejuang dan politisi ulung. Bung Besar juga dianggap sebagai sosok pria yang mudah menaklukan seorang wanita. Sederet wanita cantik pernah menjadi istri Bung Karno, salah satunya Kartini Manoppo.
Berdasarkan beberapa sumber, Bung Karno mempunyai sembilan istri, sedangkan Kartini Manoppo adalah istri yang ketujuh. Tetapi pertemuan Bung Karno dengan wanita kelahiran Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara pada 19 Maret 1931 ini tak begitu spesial.
Pertemuan pertama Bung Karno dengan Kartini Manoppo terjadi ketika naik pesawat dalam perjalanan dinas ke Jawa Timur pada 1958. Ketika itu Kartini Manoppo menjadi salah seorang kru pesawat sebagai pramugari.
“Tidak ada kesan istimewa. Kecuali setelah selesai perjalanan itu saya mendapat kenang-kenangan kain tenunan. Hanya itu. Tak ada yang lain,” kenang Kartini yang dimuat Historia.
Jadi model lukisan
Tak lama setelah pertemuan itu, Kartini berhenti sebagai pramugari dan pulang ke kampung halamannya. Namun pada 1959, Basuki Abdullah mengadakan pameran yang dihadiri oleh Bung Karno.
“Ketika itulah Soekarno melihat wajah cantik Kartini terlukis dalam kanvas Basuki Abdullah. Soekarno kesengsem lalu jatuh cinta,” tulis Martin Sitompul.
Bung Karno langsung memerintahkan Sekretaris Negara untuk menyurati pihak maskapai Garuda. Surat tersebut diteruskan kepada Kartini yang berada di Mabogo. Pada surat itu pemimpin Garuda meminta Kartini kembali lagi menjadi pramugari.
Ketika itu Kartini dipersiapkan untuk mengikuti Festival Pramugari Sedunia sebagai delegasi dari Indonesia. Karena mewakili negara, Kartini tidak dapat menolak permintaan tersebut. Apalagi namanya saat itu cukup tersohor.
“Waktu itu saya adalah stewardes Garuda yang paling populer baik di dalam maupun luar negeri. Dan waktu itu saya masih langsing, masih gadis remaja. Kawanku banyak yang bilang saya sangat cantik,” ujar Kartini Manoppo.
Jadi istri tak resmi
Sebelum berangkat, Kartini menghadap Soekarno di Istana. Pada momen itu, Bung Karno mengajaknya ke salah satu living room dan menyatakan cinta. Kartini sempat bimbang namun akhirnya mengiyakan dengan syarat menanti kepulangan dari tugas.
“Sosok Soekarno yang brilian menjadi alasan dirinya membalas cinta Soekarno,” jelas Martin.
Sepulang dari festival, Kartini kemudian dipindahkan ke pesawat kepresidenan agar bisa lebih dekat dengan Bung Karno. Setelah empat tahun bekerja, Bung Karno kemudian meminta Kartini menjadi istrinya.
Walau menerima Bung Karno, Kartini tak bisa menikah secara resmi karena adat keluarganya yang ketat. Saat itu Bung Karno sudah menikah dengan Hartini dan belum menceraikan Fatmawati.
Setelah menikah, Kartini juga lebih banyak tinggal di Jerman hingga melahirkan anak Bung Karno pada 1967, Karena kemelut politik, Kartini dan anaknya Totok Suryawan yang berarti Putra Sang Fajar hanya bisa melihat pusara dari Bung Karno.
“Totok tidak sempat melihat sang ayah. Sewindu berselang, tepatnya 21 Juni 1978, Kartini dan Totok hanya bisa mengunjungi pemugaran makam Bung Karno di Blitar,” ucapnya.