Featured

Spirit Ramadan di Bumi Kinanah

3 Mins read

Bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah ini telah tiba. Umat Islam menyambutnya dengan sukacita. Tradisi tiap negara mulai disemarakkan. Salah satunya di Negara Mesir. Negeri yang terkenal dengan penduduknya yang beragama Islam ini menyambut bulan Ramadan dengan senang hati. Kegembiraannya ditunjukkan dengan fastabiqul khoirot-nya yang selalu beriringan dalam tiap kegiatan. Di Mesir, keagungan dan keberkahan bulan ini bisa dirasakan sepanjang Ramadan. Orang Mesir sendiri sangat mengamalkan hadis berikut ini:

قَالَ لِي جِبْرِيلُ : رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ : آمِينَ

“Jibril ‘Alaihis Salam berkata kepadaku: ‘Sungguh sangat merugi seseorang yang ia masuk kedalam bulan Ramadhan lalu tidak diampuni dosanya.’ Kata Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Aku pun mengucapkan: Aamiin (Ya Allah, kabulkanlah).’”

Tentu aneh jika di bulan penuh ampunan ini, hambanya tidak banyak memohon ampun kepada Sang Maha Pencipta. Maka dari itu, orang Mesir sering berdoa, bertaubat, memohon ampun kepada Allah SWT, dan banyak membantu sesama.

Berbicara tentang tradisi Mesir, ada salah satu tradisi yang terbilang unik disini, yaitu menembakkan Meriam atau Midfa Al-Iftar yang sudah berusia ratusan tahun di benteng Salah El-Din yang bersejarah di Kairo. Meriam tersebut ditembakkan setiap hari selama bulan puasa pada saat matahari terbit dan pada saat matahari terbenam untuk menandai dimulainya dan berakhirnya puasa pada hari itu. Namun, silih tahun berganti, tradisi ini mulai luntur karena mulai berjamurnya televisi dan radio saat itu.

Keunikan Ramadan di Negeri Para Nabi tidak dicukupkan sampai situ. Ada beberapa hal lain yang bisa menjadi faidah dan inspirasi milenial dalam keberkahan Ramadan ini.

Yang pertama, menyambut Ramadan dengan berbagi menu iftar dan sejumlah hartanya kepada orang lain. Suatu hal biasa jika disini terpampang jelas banyak tempat-tempat buka puasa di pinggir jalan yang biasa disebut maidaturrahman. Sudah menjadi rahasia umum jikalau Mesir dihiasi dengan sifat masyarakatnya yang dermawan. Tak peduli dari orang kaya ataupun miskin, orang Mesir berlomba-lomba memberi menu iftar gratis setiap harinya. Lebih mengejutkan lagi, semarak itu bertahan dari awal sampai akhir Ramadan. Bahkan makin bersemangat di 10 hari terakhir Ramadan karena mereka paham betul akan kemuliaan di dalamnya.

Cukup banyak warga Indonesia yang bisa mencicipi manisnya Ramadhan di Mesir. Para diaspora, TKI, TKW, ataupun mahasiswa disini ikut serta merasakan euforia kegembiraan warga Mesir ketika datangnya Ramadhan. Biasanya, warga Mesir juga menambah target spiritualnya di bulan suci ini. Walau begitu, hal ini tidak menjadikan warga Mesir patah semangat dalam bekerja tiap harinya. Dengan banyaknya jumlah orang Indonesia di Mesir terkhusus masisir (mahasiswa Indonesia yang tinggal di Mesir) yaitu sekitar 8000 jiwa, hal ini seharusnya bisa menjadi kekuatan untuk membius kebiasaan baik dari negeri orang untuk selanjutnya dihidupkan kembali di tanah kelahiran.

Mulai membiasakan diri menjadi orang dermawan tidak harus menunggu kaya dan berpenghasilan terlebih dahulu. Kita bisa memulai dengan memberi kurma di pinggir jalan, memberi iuran nasi kotak untuk kemudian dibagikan di jalanan atau mengisi ngabuburit dengan kegiatan religi seperti kultum Ramadan di masjid. Untuk memulai kebiasaan peduli dengan orang lain, mengenyampingkan rasa ego bukanlah hal mudah dan instan. Karakter ini sangat penting dan perlu dilatih sedini mungkin. Terkhusus para masisir, nantinya jikalau menjadi alumnus dari sebuah universitas, setidaknya ia memiliki pengetahuan ilmu agama yang mumpuni, siap akan mental, dan mampu mengontrol emosinya.

Penting untuk diketahui, prinsip berkarier di masa depan tidak hanya ditujukan untuk uang. Lebih dari itu, berkarier bisa bernilai ibadah jika ditujukan untuk khidmat kepada orang lain, peduli kepada mereka, berusaha bermanfaat untuk mereka dan memberdayakannya.

Kebiasaan baik negara Mesir yang kedua adalah menghidupkan hari-hari Ramadan terutama di malam hari. Disini, semua orang dimanapun dan kapanpun itu terlihat sibuk dengan Al-Qur’annya masing-masing. Bahkan, seorang nenek yang bersikeras menghapal ayat demi ayat di pinggir jalan adalah pemandangan yang sudah biasa dilihat. Beberapa masjid disini pun terlihat berlomba-lomba menghidupkan Ramadan. Dalam salat tarawih misalnya. Sudah biasa mereka menargetkan bacaan satu atau dua juz tiap malamnya.

Di penghujung Ramadan, tak heran jika imam salat sudah selesai membacakan hafalan 30 juznya. Begitulah orang Mesir mengagungkan Ramadan. Masisir yang nantinya kembali ke Indonesia tentu seharusnya mampu mengulang kebiasaan ini agar Ramadan di Indonesia lebih diberkahi Allah. Sebagai contoh, dengan membangun komunitas sosial yang memiliki satu misi memakmurkan Ramadan, membentuk forum tilawah atau belajar ilmu agama bersama tentu mampu membangkitkan aura positif untuk rakyat Indonesia terkhusus milenial mencoba produktif di bulan Ramadan.

Yang ketiga, dan menurut saya paling menarik, orang Mesir akan bersedih ketika Ramadan pergi. Mereka memahami betul hakikat Idul Fitri yang sebenarnya. Kembali kepada hati yang suci. Bukan pakaian baru yang menjadi mewah, tetapi suasana hati yang dirajai. Suasana masjid mendekati Idul Fitri alias dalam 10 hari terakhir justru semakin hidup dan ramai. Bukan kebiasaan mereka juga untuk berpusing-pusing pergi ke toko baju, swalayan, atau sejenisnya untuk berbelanja.

Tak ayal jika suasana Idul Fitri disini jauh lebih sepi ketimbang di waktu Idul Adha. Para masisir sudah seharusnya mencontoh kebiasaan baik ini untuk diaplikasikan kembali di Indonesia. Dimulai dari diri sendiri lalu selanjutnya mengajak kerabat, teman terdekat, dan lainnya, tentu hal ini akan berpengaruh baik untuk generasi milenial mendatang. Bukan tidak mungkin, kebiasaan rakyat Indonesia yang kurang baik terhapus sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu.

Mari kita renungkan inspirasi Ramadan dari Bumi Kinanah ini. Keberkahan, kedamaian, dan kebersamaan bersatu padu dalam satu bulan yang mulia. Membentuk kebiasaan baru, mengubah kebiasaan buruk menjadi baik memanglah sulit, tetapi apa yang tidak bisa jikalau sama-sama bergerak dengan satu visi yang sama untuk negara kita tercinta?

Mahasiswi Universitas Al-Azhar, Kairo.

1384 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Featured

Serat Wedhatama, Arab-Oriented, dan Rosing Rasa

2 Mins read
Khilafah, seperti halnya tetek-bengek kebudayaan Islam yang tak mutlak dapat dilepaskan dari wadah ke-“Arab”-annya, merupakan hal yang tak dapat begitu saja terimplementasikan…
Featured

Kelompok Islam Radikal di Minangkabau, Bagaimana Menanganinya?

3 Mins read
Minangkabau tidak ubahnya menjadi arena pertempuran besar. Minangkabau tidak pernah bisa dilepaskan dari pergesekan-pergesekan tajam. Pergesekan-pergesekan itu terkait dengan wacana, ide, kultur….
FeaturedTelaah

Laporan The New Muslim Consumer: Bagaimana Meningkatnya Ketaatan Membentuk Ulang Pola Konsumsi Muslim di Asia Tenggara?

2 Mins read
Wunderman Thompson Intelligence, bekerja sama dengan Muslim Intel Lab VMLY&R Malaysia, meluncurkan laporan yang bertajuk “The New Muslim Consumer: How Rising Observance…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *