Jaga Pilar

Syekh Shafiyyuddin Al-Qusyasyi, Maha Guru Ulama Nusantara dan Mujaddid Islam Abad XI H

6 Mins read

Banyak guru kami di Mesir dan masyaikh dari Timur Tengah pada umumnya sepulang kunjungannya dari Indonesia membawa kesan takjub dengan praktek keberagamaan yang mereka saksikan dari kaum muslimin di negeri kita.

Para peneliti dari Barat yang mengadakan riset antropologis dan sosiologis masyarakat Indonesia melihat bagaimana Islam menyatukan fluiditas keragaman tradisi dan budaya dari Sabang sampai Merauke mengatakan, “Islam ini Indonesia is a miracle”.

Maka banyak pengamat melihat, dengan jati diri kuat wasathiahnya, masa depan kegemilangan Islam bisa muncul dari Nusantara.

Tentu itu tidak lepas dari jasa intensifnya Islamisasi para ulama nusantara dahulu mendakwahkan ajaran yang penuh santun, dengan keselarasan antara syariat dan tasawuf. Karena memang banyak kiai kita Nusantara ternyata tidak sembarangan ulama. Jika diamati, mereka memiliki sanad keilmuan matang di berbagai disiplin.

Belum lama ini, saya diminta Syekh kami untuk mencarikan untuk beliau sanad dari ulama Nusantara, sehingga saya dipertemukan oleh Syaikh Mahlayan (pengajar di Madrasah Al-Shaulatiah Makkah, setelah diperkenalkan oleh Kak Tuan Muhammad Atiq) dengan Tsabat milik Syekh Yasin Al-Fadani yang berjudul “Al-‘Iqdu Al-Farîd Min Jawâhir Al-Asânîd” yang berisi kumpulan sanad sang Musnid Dunia itu dari jalur ulama nusantara.

Dari mata rantai sanad itu, berikut beberapa nama para musnidin nusantara yang saya kumpulkan:

• Syekh Yasin berguru kepada banyak kiai di antaranya: Kiai Baqir Nur Al-Jogjawi, Kiai Ahmad Baidhawi Lasem, Syaikh Umar bin Hamdan Mahrus, Kiai Abdul Muhith Panji Sidoarjo, Habib Ali bin Abdirrahman Al-Habsyi Kwitang Jakarta, Syaikh Ali bin Abdullah Banjar, Syaikh Abdul Karim bin Ahmad Khatib Minangkabawi, Kiai Muhammad Ma’sum Lasem, Kiai Tubagus Ahmad Bakri Banten, Kiai Jum’an bin Ma’mun Tangerang dan lain-lain.

• Generasi di atasnya antara lain: Imam Al-Muhaddits Kiai Mahfuzh bin Abdullah Al-Termasi Pacitan, Syekh Al-Musnid Zainuddin bin Badawi Sumbawa, Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi, Kiai Umar bin Shalih Semarang, Syekh Abdul Hamid Zakaria asal China yang menetap di Kwitang, Kiai Muhammad Khalil Bangkalan.

• Generasi di atasnya antara lain: Syekh Nawawi bin Umar Al-Bantani, Kiai Abdullah bin Abdul Manan Al-Termasi dan ayahnya Kiai Abdul Mannan bin Abdullah bin Ahmad Al-Termasi, Kiai Shalih bin Umar Semarang, Ibu Nyai Fathimah binti Abdussamad Al-Palimbaniah, Habib Syekh bin Ahmad bin Abdullah Bafaqih Muhaddis Surabaya, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Muhammad Arsyad Mertapura.

Muara hampir seluruh sanad ulama nusantara di atas terhenti pada Syaikh Abdul Shamad bin Abdurrahman Al-Palimbani. Selain berguru langsung kepada ulama-ulama dunia terbaik pada masanya seperti Al-Hafizh Murtadha Al-Zabidi (mujaddid abad ke-12 H.) dan Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Al-Damanhuri, Syekh Abdul Shamad Al-Palimbani juga berguru dari para kiai satu circle asal Palembang. Di antaranya: pamannya Syaikh Al-Musnid Aqib bin Hasanuddin bin Ja’far Al-Palimbani, Syekh Hasanuddin bin Ja’far Al-Palimbani, Syaikh Thayyib bin Ja’far Al-Palimbani, dan Al-‘Allamah Ja’far bin Muhammad Badruddin Al-Palimbani yang berguru langsung kepada Imam Muhammad bin Alauddin Al-Babili.

Muhammad bin Alauddin Al-Babili Al-Qahiri Al-Azhari (w. 1666) sendiri merupakan seorang alim besar pemegang isnad ali (superior) yang sangat penting dalam menghubungkan ulama, baik di Mekkah maupun Madinah dengan studi hadis di Mesir. Murtadha Al-Zabidi dalam kitabnya Al-Murabbin Al-Kamili Fi Man Rawa ‘An Al-Babili menyebutkan tidak ada hafizh terbesar setelah wafatnya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani selain Al-Babili.

Ulama dari Indonesia yang juga bertemu langsung dengan Al-Bibili adalah Abdul Rauf Al-Sinkili. Menurut kesaksian Al-Sinkili, Al-Babili adalah tipe guru dedikatif yang lebih senang bertemu dengan murid-muridnya secara dedikatif ketimbang melalui tulisan-tulisan.

Beberapa ulama dari wilayah Palembang mencapai kemasyhuran dalam periode abad ke-18, ditengarai tak lepas dari faktor kejayaan Kerajayaan Sriwijaya pada abad ke-10, yang telah membuka hubungan diplomatik dengan pedagang muslim Arab dan Persia. Lalu Islam menyebar dengan cepat menjelang kejatuhan Sriwijaya pada abad ke-14. Dan Palembang menjadi kubu Islam yang kuat dengan bangkitnya Kesultanan Palembang pada awal abad ke-17. Para sultan Palembang mempunyai minat khusus pada agama, dan mendorong tumbuhnya pengetahuan dan keilmuan Islam di bawah petronase mereka.

Yang paling menonjol dan berpengaruh di antara para ulama Palembang ini, tak diragukan lagi, adalah Abdul Shamad Al-Palimbani, sebab karya-karyanya yang beredar luas di Nusantara. Di antara yang paling masyhur adalah Kitab Sayr Al-Sâlikîn. Di pesantren kami, kitab ini dikaji oleh Tuan Guru setiap Senin Pagi. Wajihuddin Abdurrahman bin Sulaiman Al-Ahdal mufti Zabid (murid Al-Palimbani, muhaddits yang di kemudian hari menduduki jabatan sebagai Mufti Zabid), menganggap Al-Palimbani sebagai guru paling penting, dia memasukkan riwayat hidup gurunya itu ke dalam karyanya yang berjudul Al-Nafs Al-Yamani wa Al-Ruh Al-Rayhani.

Sebelum Syekh Abdul Samad Al-Palimbani yang muncul sebagai ulama pembaharu di nusantara abad ke-18, pada abad ke-17 sudah ada setidaknya tiga tokoh yang menjadi pembaharu Islam di Nusantara, yaitu Syekh Nuruddin Al-Raniri, Syekh Yusuf Al-Makassari dan Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili. Ketiga tokoh revivalis itu adalah rekan satu perguruan. Mereka memiliki seorang guru paling berpengaruh bernama Syekh Shafiuddin Ahmad bin Muhammad Yunus Al-Qusyasyi Al-Dajini Al-Madani.

Al-Qusyasyi lahir di Madinah pada 1538 M. dari keluarga Palestina. Syekh Yunus yang merupakan ayah Al-Qusyasyi melacak nasabnya bersambung kepada Sayyidina Tamim Al-Dari Ra., sahabat Nabi di Madinah. Sehingga dia pergi meninggalkan tanah kelahirannya Palestina menuju tanah nenek moyangnya Madinah. Sebagai pendatang di Madinah, ia menghidupi keluarganya dengan menjual qusyasyah (barang-barang rongsokan).

Al-Qusyasyi memiliki dua orang guru terpenting. Pertama, Shibgatullah (w. 1606 M di Madinah) alim pengembara di India yang memutuskan bermukim di Madinah, mengajar di Masjid Nabawi dan mendirikan Ribath. Dikenal sebagai syekh terkemuka Syathariah.

Kedua, Ahmad Al-Syinnawi murid dari Syamsuddin Al-Ramli, cucu dari Muhammad Al-Syinnawi yang tak lain adalah mursyid Abdul Wahab Al-Sya’rani. Dari Al-Syinnawi ia belajar Hadis, Fikih, Kalam dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan syariah dan tauhid. Selain sebagai guru, Al-Syinnawi adalah mertua Al-Qusyasyi, dan Al-Qusyasyi diangkat sebagai khalifah tarekat Syathariah sepeningga Al-Syinnawi.

Atas kegigihannya menuntut ilmu dan tazkiah, Al-Qusyasyi menjelma menjadi seorang ulama dengan reputasi tinggi di Madinah. Ayyub Al-Dimasyqi Al-Khalwati memberi kesaksian, “Aku tidak pernah berjumpa dengan seorang yang kedalaman ilmunya seperti Al-Qusyasyi.”

Al-Qusyasyi merupakan penulis produktif, beberapa sumber menyebutkan karyanya melebihi 50 buah, menyangkut tasawuf, hadis, fikih, ushul fikih dan tafsir. Dari seluruh karyanya itu, hanya Al-Simthu Al-Majîd yang sudah diterbitkan. Ia memapankan kariernya juga dengan mendirikan madrasah di Madinah dengan ratusan murid yang berguru kepadanya dari berbagai penjuru dunia. Melalui transmisi pemikiran dan pergerakan yang serius ingin dia wujudkan, Al-Qusyasyi berhasil menggembleng muridnya menjadi ulama-ulama hebat.

Yang paling tersohor dari murid Al-Qusyasyi adalah Ibrahim Al-Kurani. Abu Thayyib al-‘Azhimabadi (l. 1857) seorang muhaddits terkenal India dalam Kitabnya ‘Aun al-Ma’bûd Fî Syarh Sunan Abî Dâwud, saat mensyarahkan hadits:

إنَّ اللَّهَ يبعَثُ لِهذِه الأمَّةِ على رأسِ كلِّ مائةِ سَنةٍ من يجدِّدُ لَها دينَها

Memilih Al-Kurani sebagai mujaddid (pembaharu) Islam abad ke-11. Tentu tidak sembarangan alasan pemilihan untuk disejajarkan dengan list para mujaddid setiap abad yang diisi oleh tokoh Islam terbaik di masanya.

Sebagai alim dengan keistimewaan intelektualnya, Al-Kurani memberikan sumbangan substansial kepada arus pemikiran intelektual-keagamaan yang dikembangan Al-Syinnawi dan Al-Qusyasyi. Al-Kurani menekankan makna penting dari syariat tanpa perlu mengesampingkan tasawuf. Baginya rekonsiliasi antara syariat dan tasawuf tidak boleh dianggap enteng. Dalam membahas masalah ini, argumennya tajam dan filosofis. Dia paling tanggap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya baik secara lisan ataupun tulisan. Ismail Basya Al-Bagdadi mencatat setidaknya ada 49 karya yang dimaksudkannya sebagai tanggapan terhadap berbagai masalah pelik.

Menariknya, salah satu dari karya terpenting Al-Kurani adalah merupakan tanggapan atas pertanyaan dan permasalahan keislaman di Nusantara yang diajukan kepadanya oleh rekan-rekan dan murid-muridnya. Misalnya Kitabnya “Ithaf Al-Dzaki bi Syarh al-Tuhfat al-Mursalah Ila Ruh al-Nabi” yang terkenal di lingkungan Melayu-Indonesia. Pengaruh buku ini terhadap Islam di Nusantara dicatat Al-Hamawi dalam kitabnya Fawâid Al-Irtihâl.

Pada pendahuluan kitab tersebut ia menulis latar belakang: “Kami mendapatkan informasi yang dapat dipercaya dari sebuah kelompok (jama’ah) Jawiyyin bahwa telah tersebar di kalangan penduduk tanah-tanah Jawah… Inilah alasan bagi penyimpangan dari sebagian di antara mereka (kaum Jawiyin) dari jalan yang benar; bagi timbulnya kepercayaan yang tidak murni; sesungguhnya mereka telah masuk ke dalam golongan ateis yang tidak lurus dan sesat (al-Ilhad).”

Itu artinya, karya tersebut merupakan respon tajam dan pelurusan atas penyimpangan-penyimpangan keagamaan yang terjadi di Nusantara saat itu. Al-Kurani tampaknya belum puas dengan menulis hanya sebuah karya tunggal mengenai Masa’il al-Jawiyyah (masalah tentang orang-orang Jawi). Dia pun menulis karya lain berjudul al-Jawabat al-Gharawiyyah ‘an Masa’il al-Jawiyyah al-Jahriyyah.

G. W. J. Drewes dalam “Malay Sufism” mengemukakan bahwa Al-Kurani menulis karya itu atas perintah Al-Qusyasyi.

Tidak hanya itu, Abdul Syukur Al-Syami selaku murid Al-Kurani juga menulis karya berjudul Ziyadah Min ‘Ibarat al-Mutaqaddimin min Ahl Al-Jawi. Abdul Syukur sendiri merupakan mursyid tarekat dari Al-Sinkili. Kenyataan bahwa setidak-tidaknya ada tiga buah karya yang diabdikan para ulama Haramain terkemuka pada abad ke-17 terhadap Masa’il Al-Jawiyyah, semua ini menunjukkan adanya wacana religio-intelektual yang kuat di antara para murid Melayu-Indonesia dan para ulama di pusat-pusat Haramain. Hal itu juga menunjukkan kepedulian di kalangan para ulama di pusat-pusat Haramain dan tanggung jawab mereka terhadap pembaharuan religio-intelektual di kalangan sesama kaum Muslim Jawi di wilayah Melayu-Indonesia. Mereka tidak membiarkan kaum Muslim Jawi tersesat karena kesalahpahaman mereka atas hubungan yang benar antara syariat dan tasawuf.

Semoga Allah merahmati para ulama atas jasa dan kontribusi mereka menyampaikan ajaran Islam yang lurus sampai kepada kita. Dan semoga kita sebagai generasi saat ini selalu bisa mensyukuri dan merawatnya dengan baik.

Zeyn Ruslan

Bernama lengkap Muhammad Zainuddin Ruslan

1401 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Biografi R. Suprapto, Pahlawan Revolusi dari Jakarta

2 Mins read
Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto merupakan salah satu korban dalam G30SPKI, beliau meninggal di Lubangbuaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur…
Jaga Pilar

Biografi Assaat, Presiden Republik Indonesia (penjabat)

3 Mins read
Mr. Assaat adalah pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta (27 Desember 1949 – 15 Agustus 1950)….
Jaga Pilar

Tukang Kebun Indonesia

3 Mins read
Ketika para pemuda Indonesia mengucapkan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, dunia sedang menjalani masa kemakmuran. Tekad mereka menyatakan “satu nusa, satu…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *