Editorial

Teriakan “Alae”, Tradisi di Maluku untuk Menyemangati Salat Tarawih

1 Mins read

Siri-Sori Islam adalah kampung yang berada di kecamatan Saparua Timur, Maluku Tengah, Maluku. Di Pulau Saparua terdapat 116 desa. Siri-Sori Islam adalah desa yang penduduknya beragama Islam, di samping ada dua desa lainnya yang juga berpenduduk Islam. Jadi, bisa dikatakan bahwa hanya ada tiga desa di pulau Saparua yang penduduknya beragama Islam.

Uniknya, desa Siri-Sori Islam ini memiliki saudara “gandong” (saudara beda agama) dengan Siri-Sori Kristen. Di samping itu, Siri-Sori Islam juga punya tali persaudaraan (“pela”) dengan desa Haria. Hal ini menunjukkan adanya keberagaman lintas agama yang harmonis di pulau Saparua.

Sampai saat ini, masih belum jelas kapan penduduk Siri-Sori memeluk agama Islam. Namun yang pasti, sesuai keyakinan masyarakat setempat bahwa ada satu ulama besar yang berasal dari Baghdad pada masa kekhalifahan Abbasiyah sempat menyiarkan agama Islam di Siri-Sori.

Ulama tersebut bernama Maulana Syaikh Abdurrahman Assagaf. Di samping itu, ada juga ulama dari Tuban Jawa Timur yang sempat singgah di desa Siri-Sori mengajarkan agama Islam. Masyarakat setempat memanggil nama ulama asal Tuban tersebut dengan Abdullah.

Berkat para ulama-ulama tersebut, akhirnya penduduk Siri-Sori memeluk agama Islam. Pengajaran agama Islam terus dilanjutkan oleh para mubalig setempat, seperti Tuan Guru Haji Nawawe Saimima, Tuan Guru Haji Bakari Pelupessy, Tuan Guru Haji Anas Holle, Tuan Guru Haji Said Pelupessy, dan Tuan Guru Haji Hasan Kaplale. Para Tuan-tuan guru inilah yang melanjutkan perjuangan dalam mengajarkan agama Islam di desa Siri-Sori. Alfatihah untuk mereka semua.

Ada satu pengajaran yang dititipkan oleh para tuan guru untuk masyarakat Siri-Sori Islam ialah teriakan “alaee..!” Sampai detik ini, belum ditemukan data yang jelas kapan konsepsi teriakan “alaee..!” mulai dipraktikkan masyarakat setempat. Di samping itu, belum ditemukan juga apa yang mendasari masyarakat setempat meneriakkan kata “alae..!” tersebut.

Teriakan “alae..!” biasanya dilakukan sepanjang salat tarawih oleh para jamaah secara bersama-sama. Teriakan ini dilakukan usai salam dan setelah lantunan-lantunan selawat serta bacaan taradhdhi.

Teriakan “alae..!” biasanya dengan suara yang keras dan menggema sampai ke seantero negeri Siri-Sori Islam.

Uniknya, bagi siapa yang mendengar teriakan “alae..!” ini pasti tersentak dan lebih semangat mengerjakan salat tarawih 20 rakaat (dikerjakan tiap dua rakaat) plus witir 3 rakaat (dua plus satu rakaat. Mungkin inilah yang mendasari teriakan “alae..!” harus dilakukan untuk membangkitkan semangat jamaah salat tarawih. Semoga tradisi teriakan “alae..!” masih tetap terjaga sampai anak-cucu kelak. Aamiin.

Dosen Psikologi IAIN Ambon.

2118 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Editorial

Duri Islamisme dalam Sejarah NKRI

1 Mins read
Sejumlah survey telah menunjukkan bahwa ada yang tidak beres dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Hasil survey LSI-Denny J.A pada tahun 2018…
Editorial

Demokrasi Indonesia, Tantangan dan Peluang di Era Digital

1 Mins read
Indonesia, sebagai negara demokratis menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam menjaga dan memperkuat sistem demokrasi. Di tengah kemajuan Teknologi digital yang pesat,…
Editorial

Tutup Pintu Konten Radikal Melalui Sanksi Hukum

2 Mins read
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan salah satu upaya penanggulangan terorisme di dunia maya yakni dengan menghadirkan konten-konten yang memuat narasi bernuansa…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *