Featured

Toleransi di Pulau Buru Kepri: Islam dan Konghucu Bahu Membahu Bersatu

1 Mins read

Pulau Buru merupakan pulau kecil yang terletak di Kepri (Kepulauan Riau), dekat dengan Batam. Jarak tempuh naik kapal ferri dari Batam ke Pulau Buru sekitar 3 jam. Tidak lantas sampai, perlu transit terlebih dahulu di Tanjung Balai Karimun. Dilanjutkan dengan naik kapal kecil menuju Pulau Buru. dibutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke pulau ini.

Ada sesuatu yang menarik ketika berbicara tentang daerah-daerah di Kepulauan Riau, salah satunya Pulau Buru. Penduduk Pulau Buru menganut dua agama, yaitu Islam dan Konghucu. Masyarakat yang beragama Islam di Pulau Buru menganut kebudayaan Melayu, sedangkan agama Konghucu masih tetap konsisten dengan kebudayaannya.

Dua agama ini bagaikan dua jendela yang saling berdampingan, dan dilestarikan sejak dulu oleh masyarakat terdahulu. Selama ini tidak pernah ada konflik atau bom bunuh diri yang menerpa. Semuanya terlihat aman, nyaman, tentram, dan damai. Mereka saling membutuhkan satu sama lain, masyarakat Islam membutuhkan orang-orang Konghucu karena mereka memiliki warung atau kedai yang menyedikan bahan pokok pangan sehari-hari.

Sedangkan orang-orang Konghucu membutuhkan muslim karena kepandaiannya membuat masakan. Sehingga tidak ada lagi sekat jasmani antar dua agama di Pulau Buru. Walaupun demikian, batin muslim di Pulau Buru tetap pada keyakinnya yaitu Iman dan Takwa kepada Allah Saw. Begitu pula orang-orang Konghucu, dalam beribadah mereka tidak pernah mengusik satu sama lain.

Kedua pemeluk agama tersebut bukan hanya memiliki persamaan dalam dunia perdagangan saja, namun juga berkebun, nelayan, serta berternak. Mereka saling bahu membahu membentuk rotasi kehidupan, tidak ada yang membuat keributan dengan mengatas namakan agama “Jihad Fi Sabilillah”. Guru-guru di sekolah pun tidak perlu bersusah payah memberikan pemahaman atau wawasan toleransi pada siswa siswi, karena mereka sudah menanamkannya.

Secara teori, sikap toleransi diartikan sebagai sikap saling menghargai setiap perbedaan, baik dalam bidang keagamaan, sosial, ekonomi, atau kebudayaan. Sikap toleransi tersebut sudah ditanamkan pada masyarakat Pulau Buru pada jenjang pendidikan. Mereka sudah terbiasa dalam menghargai dan menghormati antar perbedaan agama, ras, dan suku.

Dengan hal ini, sikap toleransi merupakan etika menghormati berbagai perbedaan yang ada di dalam lingkungan sekitar. Dengan sikap toleransi, rasa kasih sayang dan saling membantu akan tumbuh antar sesama manusia. Walaupun adanya perbedaan ras, suku, agama, kulit, dan lain sebagainya. Seperti yang diterapkan di Pulau Buru ini, walaupun kecil tetapi jiwa akan menghargai setiap perbedaan mereka junjung tinggi. Karena mereka tahu, bahwa kenyamanan itu memiliki lingkungan yang damai. (AN)

Shanti Nurani

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Selengkapnya baca di sini I
2121 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Featured

Gen Z dan Milenial: Memilih Pengalaman daripada Kepemilikan

2 Mins read
Generasi Milenial dan Gen Z sering kali dicirikan dengan preferensi mereka yang kuat terhadap pengalaman hidup daripada kepemilikan barang material. Fenomena ini…
Featured

Meneladani Metode Dakwah Moderasi Sunan Bonang

1 Mins read
Sunan Bonang atau yang bernama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim merupakan putra keempat dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, putri Arya…
Featured

Memahami Tradisi Baduy Melalui Analisis Cultural Studies

3 Mins read
Cultural studies merupakan kritik kebudayaan, sesuai yang dikatakan Mark Bracher (12) dalam bukunya membahas tentang kritik kebudayaan psikoanlisis yang bersumber dari pemikiran…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *