Jaga Pilar

Ulama yang Wafat dalam Keadaan Sujud: Abu Hanifah, Pendiri Mazhab Hanafiyah

2 Mins read

Nama sosok ulama ini sudah amat kesohor. Ia adalah pendiri mazhab dan tokoh utama mazhab fikih Hanafiyah yang berdiri di kawasan Baghdad, Irak. Mazhab ini bisa disebut salah satu mazhab besar dalam fikih. Nama lengkapnya adalah Abu Hanifah, al-Nu’man bin Tsabit bin Zurtha al-Taymi al-Kufi.

Lahir pada tahun 80 Hijiriyah di daerah Kufah. Dan ia sempat menemui Sahabat Anas bin Malik beberapa kali. Dengan demikian Abu Hanifah bisa disebut Tabi’in sebab ia bertemu dengan sahabat nabi. Di samping Anas, di masa itu sahabat nabi yang lain adalah Abdullah bin Abi Aufa, Sahl bin Sa’ad, Abu Thufail. Ia belajar fikih kepada Hammad bin Abi Sulaiman, Abu Ja’far al-Baqir, Ibnu Shihab al-Zuhri dan beberapa ulama lainnya.

Muridnya yang paling terkenal adalah Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan al-Syaibani. Hingga keduanya disebut dengan “Sohiba Abu Hanifah”, dua santri kinasih Abu Hanifah. Kepada nama yang terakhir, Hasan al-Syaibani, Imam al-Syafi’i menyambung sanad ilmu.

Fudhail bin Iyadl mendeskripsikan Abu Hanifah dengan amat lengkap. Ia menulis:

كان ابو حنيفة فقيها معروفا بالفقه مشهورا بالورع وسيع المال معروفا بالافضل على من يطيقه صبورا على تعليم العلم باليل والنهار كثير الصمت قليل الكلام حتى ترد مسألة في حلال أو حرام وكان يحسن يدل على الحق هاربا من السلطان

“Abu Hanifah adalah seorang ahli fikih yang masyhur dengan ilmu fikihnya, terkenal amat hati-hati, kaya, dikenal memiliki keutamaan, tekun belajar dan mengajar siang dan malam, lebih banyak diam, sedikit berbicara sehingga ada persoalan halal-haram ia senang memberi tahu kebenaran dan menjauh dari penguasa”.

Soal kisahnya “kabur dari penguasa” adalah dimana ia pernah diminta untuk menjadi hakim agung (qadhi) tetapi ia menolak bahkan ia karena itu pernah dipukul dengan cemeti oleh seseorang bernama Ibnu Hubairah, tetapi ia tetap menolak untuk menjadi hakim.

Meski dikenal seorang pemikir yang mengedapankan rasio (al-Ra’yu), Abu Hanifah adalah tipikal seorang ulama yang ahli ibadah. Misal disebut bahwa dirinya tiap malam bisa mengkhatamkan al-Qur’an dalam satu rakaat salat malam. Dalam kesaksian lain disebut bahwa ia salat Isya’ dan salat subuh dengan satu wudhu yang sama.

Keteladanan lain, yang patut ditiru dari sosok pemikir besar ini adalah: sejak Hammad, gurunya wafat ia selalu mendoakan sang guru dalam tiap salat. Dalam sebuah kesempatan ia berujar:

ما صليت صلاة منذ مات حماد الا استغفرت له مع والدي واني لاستغفر لمن تعلمت منه علما أو علمته علما

“Sejak Hammad, guruku wafat aku tak pernah salat kecuali aku memintakan ampun untuknya dan untuk kedua orang tuaku. Dan aku juga memintakan ampun bagi tiap orang yang aku belajar darinya dan kepada orang yang belajar dariku”.

Pondasi mazhab fikih Abu Hanifah digali dari para sahabat yang tinggal dan menetap di Kufah dan juga ulama di sana seperti Ibrahim al-Nakhai, yang amat popular ketokohannya. Suatu waktu Abu Hanifah ditanya oleh Khalifah Abu Ja’far. Ia ditanya kepada siapa ia mengambil ilmu? Abu Hanifah menjawab: “Aku mengambil ilmu dari Hammad bin Abi Sulaiman, ia dari Ibrahim al-Nakhai, ia dari Umar bin Khattab, Ali Bin Abi Thalib, Abdillah bin Mas’ud, dan Abdillah bin Abbas.

Menurut santri kinasihnya, Abu Yusuf, Abu Hanifah wafat pada separuh bulan Syawal tahun 150 hijriyah bersamaan dengan lahirnya Imam al-Syafi’i. Sementara menurut riwayat lain seperti dikemukakan oleh al-Waqidi ia wafat pada bulan Rajab tahun 150. Namun pendapat pertama yang lebih masyhur.

Ia wafat di Baghdad pada usia 70 tahun. Terkait keadaan wafatnya, ulama memberi kesaksian bahwa ia wafat dalam keadaan bersujud. Misal apa yang ditulis oleh Badruddin al-Aini. Ia menulis:

لما أحس ابو حنيفة بالموت سجد فخرجت نفسه وهو ساجد وكان عمره يوم توفي سبعين سنة

“Ketika sadar akan datangnya sebuah kematian, Abu Hanifah sujud. Lalu ia wafat dalam keadaan bersujud. Adapun umurnya ketika ia wafat adalah 70 tahun”.[]

Nahdliyin, menamatkan pendidikan fikih-usul fikih di Ma’had Aly Situbondo.

1384 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Biografi Moehammad Jasin, Polisi Pertama Yang Diangkat Sebagai Pahlawan Nasional

1 Mins read
Komjen Pol (purn) Moehammad Jasin merupakan tokoh dari kalangan polisi, yang membentuk satuan Brigadir Mobil (Brimob) sebagai satuan elite dan tertua di…
Jaga Pilar

Biografi KH Abdul Halim, Pahlawan Nasional dari Majalengka

4 Mins read
Kiai Haji Abdul Halim adalah Ulama besar dan tokoh pembaharuan di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan dan kemasyarakatan. Beliau lahir di Desa…
Jaga Pilar

Kisah Perjuangan Raden Aria Wangsakara: Ulama, Pejuang, dan Pendiri Tangerang

3 Mins read
Raden Aria Wangsakara adalah seorang ulama, pejuang, dan pendiri Tangerang. Dalam sejumlah literatur yang bercerita tentang Babad Tangerang dan Babad Banten, Wangsakara…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *