NKRI

Upaya dan Strategi Mewujudkan Indonesia Nol Emisi

3 Mins read

Net Zero Emission (NZE) atau nol emisi karbon memiliki arti dimana jumlah emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer seimbang dengan jumlah emisi yang mampu diserap oleh bumi. Untuk mencapainya, diperlukan sebuah transisi dari sistem energi yang digunakan sekarang ke sistem energi bersih, guna mencapai kondisi seimbang antara aktivitas manusia dengan keseimbangan alam.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam melakukannya adalah mengurangi jumlah karbon atau gas emisi yang dihasilkan dari berbagai kegiatan (aktivitas) manusia pada kurun waktu tertentu, atau lebih sering dikenal dengan jejak karbon. Jejak karbon yang kita hasilkan akan memberikan dampak yang negatif bagi kehidupan kita di bumi. NZE diterapkan agar mengurangi dampak dari Climate Change.

Climate Change dapat didefinisikan sebagai perubahan iklim, adalah salah satu isu global yang sedang ramai diperbincangkan. PBB mendefinisikan bahwa perubahan iklim mengacu pada perubahan suhu dan pola cuaca dalam jangka panjang. Pergeseran ini mungkin bersifat alami, tetapi sejak periode 1800-an, aktivitas manusia telah menjadi faktor utama terjadinya perubahan iklim, terutama pada penggunaan bahan bakar fosil (seperti batubara, minyak bumi, dan gas) untuk beraktifitas. Dimana hal itu dapat menghasilkan gas yang memerangkap panas di atmosfer bumi.

Tentunya hal tersebut memiliki dampak serta resiko yang serius dan berbahaya bagi lingkungan seperti kekeringan dan berkurangnya sumber air bersih, timbul cuaca ekstrim dan bencana alam, perubahan produksi rantai makanan, dan berbagai kerusakan alam lainnya.

Pemanasan global menjadi faktor utama dalam perubahan iklim karena bertambahnya gas karbon monoksida (CO2) di udara yang akan menimbulkan efek rumah kaca di atmosfer. Pemanasan global memiliki makna pemanasan permukaan bumi dalam jangka panjang yang diamati sejak periode pra-industri (antara tahun 1850 dan 1900).

Sejak masa itu, aktivitas manusia diperkirakan telah meningkatkan suhu rata-rata dunia sekitar 1 derajat celcius, dan berlangsung pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya selama ribuan tahun.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu udara rata-rata di Indonesia per bulan Oktober 2023 yang mencapai 27,7 derajat celcius merupakan yang tertinggi pertama untuk bulan yang sama sejak tahun 1981.

Berdasarkan basis data dari The Emissions Database for Global Atmospheric Research (EDGAR), Indonesia berada pada tingkat ketujuh dari sebelas negara penghasil emisi Gas Rumah Kaca (GRK) terbesar di dunia pada tahun 2022. Enam teratas lainnya  penghasil emisi GRK terbesar di dunia antara lain Tiongkok, Amerika Serikat, UE 27, Rusia, dan Brasil.

Menurut EDGAR, Indonesia mengeluarkan emisi tersebut bersumber dari penggunaan kendaraan bermotor, penggunaan listrik, limbah industri, deforestasi, limbah peternakan dan pertanian, dan sisa makanan, serta perubahan lahan dan pembakaran bahan bakar fosil

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat luas tutupan hutan Indonesia telah berkurang 956.258 hektare yang berada di Kalimantan, Papua, dan Sumatra dalam kurun 2017-2021 setara 0,5% dari total luas daratan Indonesia. Batu bara, minyak bumi, dan gas alam adalah sumber bahan bakar bagi sektor industri, transportasi, maupun energi yang dimana emisi terbesar bersumber dari barang-barang tersebut.

Upaya & Strategi

Dibutuhkan kesadaran masyarakat dunia khususnya kita semua untuk menanggulangi masalah ini. Semua kalangan dari berbagai bidang dan sektor perlu sadar untuk mulai memperhatikan kondisi tempat yang kita tinggali ini tidak bisa bertahan begitu lama dengan aktivitas destruktif yang kita lakukan. Untuk mencapai target NZE diperlukan kontribusi dari berbagai pihak baik itu individu, organisasi, perusahaan, dan pemerintah, untuk saling bekerja sama. Terdapat beberapa solusi dan strategi untuk dapat berkontribusi bagi tiap pihak, yaitu:

  1. Untuk tiap individu dapat melakukan kegiatan yang sederhana namun dapat memberikan dampak yang sangat signifikan, diantaranya adalah menggunakan peralatan hemat energi, mengoptimalkan penggunaan listrik rumah, beralih ke transportasi umum,menanam pohon atau berkebun, memilih produk berkelanjutan, serta menerapkan kegiatan (3M) Mengurangi, Menggunakan kembali, dan Mendaur ulang.
  2. Urgensi dari sektor organisasi juga dapat membantu kelancaran dalam mewujudkan target NZE ini, yang sebagai contoh dapat berkontribusi dalam mengadvokasi kebijakan ramah lingkungan dan meningkatkan kesadaran publik mengenai Climate Change dan NZE, mengembangkan dan melaksanakan proyek penghijauan, konversi energi, manajemen limbah, dan bekerja sama dengan pemerintah, perusahaan, dan komunitas untuk mengimplementasikan inisiatif lingkungan yang efektif dan berkelanjutan, serta  dapat melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap implementasi kebijakan dan praktik lingkungan untuk memastikan keefektifannya.
  3. Bagi perusahaan dapat menerapkan beberapa kegiatan yang dapat menekan timbulnya emisi, sebagai contoh  adalah pengurangan emisi dengan bekerja sama dengan pemasok untuk mengurangi emisi, menerapkan praktik efisiensi energi dalam kegiatan operasional, mengadopsi energi terbarukan seperti tenaga surya, air, atau angin untuk kegiatan operasional, dan menggunakan transportasi hingga logistik yang ramah lingkungan , serta mengembangkan produk yang efisien dalam penggunaan bahan baku, mudah didaur ulang, dan berkelanjutan
  4. Pada sektor pemerintahan juga tidak kalah penting dalam mewujudkan target NZE ini, pemerintah dapat berperan penting dalam aspek hukum yang ada serta dukungan yang dapat membantu penerapan solusi dan strategi pada semua kalangan, sebagai contoh mengeluarkan regulasi yang mendukung penggunaan energi terbarukan seperti memberikan insentif pajak untuk energi terbarukan, berinvestasi dengan membangun infrastruktur pendukung dalam penggunaan produk ramah lingkungan, mendukung penelitian dan pengembangan teknologi hijau yang dapat mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi energi, serta memberikan edukasi dan kesadaran pada publik tentang pentingnya Net Zero Emissions melalui kampanye dan pelatihan.

Begitulah upaya yang dapat kita lakukan untuk mencapai target Net Zero Emissions. Tujuan dapat tercapai jika kita semua memiliki kesadaran dan mau bekerja sama satu sama lain. dibarengi semangat positif dan dukungan semua pihak, hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin terjadi. Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi?

Zaky Mubarok

Mahasiswa Universitas Airlangga
951 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan.
Articles
Related posts
NKRI

4 ASN Terpapar Terorisme, Pemerintah Jambi Gelar Ikrar Setia NKRI Serentak

1 Mins read
Empat orang ¬†aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten Tebo Jambi, diduga terafiliasi jaringan terorisme Negara Islam Indonesia¬†(NII). Dugaan itu juga sudah…
NKRI

Memberantas Labelisasi Kafir di NKRI yang Jadi Pemicu Perpecahan

5 Mins read
Dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tak ada orang kafir. Pemeluk agama disebut berdasar agama masing-masing: orang Islam, orang Kristen, orang…
NKRI

Grand Syekh Al-Azhar Puji Peran Indonesia dalam Mendukung Gaza Palestina

1 Mins read
Grand Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmad al Thayyeb, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap peran positif dan efektif dari Pemerintah Indonesia dalam mendukung…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *