Bhinneka Tunggal Ika

Zionisme Versus Nasionalisme Palestina

4 Mins read

Zionisme berasal dari bahasa Ibrani, zion, yang merupakan nama sebuah bukit barat daya Yerussalem. Kaum Yahudi percaya bahwa Mesias (al-Masih) akan menuntun kaum Yahudi menuju tanah yang dijanjikan. Tokoh besar Zionis antara lain Yahuda Al-Kalai (1798-1878 M) dari Sarajevo merupakan penggagas pertama berdirinya negara Yahudi di tanah Palestina. Kemudian muncul Nathan Birnbaum (1864-1937 M) dari Austria yang menjadikan gagasan tersebut sebagai gerakan Zionisme. Yaitu suatu gerakan kolektif kaum Yahudi untuk kembali ke Istana King David di bukit Zion sebagai pusat negara kaum Yahudi yang akan didirikan.

Pada 1826, Izvi Hirsch Kalischer (1795-1874 M) menulis buku berjudul Derishat Zion yang berisi studi tentang kemungkinan berdirinya negara Yahudi di Palestina. Buku ini adalah salah satu bentuk dukungan penulisnya terhadap gagasan Al-Kalai. Pada tahun yang sama (1826), Moses Hess (1812-1875 M) dalam bukunya Roma and Jerussalem menyatakan bahwa migrasi kaum Yahudi ke Palestina merupakan solusi bagi problem kaum Yahudi di Eropa yang ketika itu tengah menjadi korban gerakan anti-Semit.

Salah seorang tokoh Zionisme terpopuler adalah Theodore Herzl (1860-1904 M) merupakan tokoh yang membesarkan sekaligus mempopulerkan ide pembentukan negara Israel. Memang betul bahwa gagasan Zionisme sudah ada sebelum Herzl, namun gelar “bapak Zionisme” justru diberikan kepada Herzl. Hal ini karena kemampuannya membakar semangat kaum Yahudi yang membuat mereka yang semula terpecah-pecah bisa bersatu kembali untuk membentuk sebuah gerakan internasional.

Herzl juga dikenal sebagai tokoh zionis yang paling visioner. Ia sangat percaya bahwa suatu saat nanti kaum Yahudi akan memiliki sebuah negara sendiri. Dalam bukunya Der Judenstaat yang berarti Negara Yahudi terbit 1896 tergambar keyakinannya yang sangat idealis akan terbentuknya sebuah negara Yahudi. Melalui sebuah kongres Zionisme yang dilakukan di Brussel, Swiss, pada 1897, Herzl menyampaikan gagasan tersebut kepada lebih dari 200 tokoh peserta kongres yang merupakan representasi kaum Yahudi dari berbagai negara.

Leon Pinsker (1821-1891 M), seorang tokoh Zionis pendahulu dikenal tidak begitu termotivasi oleh asosiasi keagamaan seperti yang tertuang dalam perjanjian lama (Taurat). Yang menjadi perhatian dan motivasinya adalah persoalan kenegaraan untuk orang-orang Yahudi, yang gagasannya tidak begitu berbeda dengan Herzl yang bercita-cita mendirikan sebuah negara bagi kaum Yahudi. Ini agar bangsa terpilih ini tidak menjadi minoritas dan mereka akan bebas mengembangkan dan mengekspresikan peribadatan dan kebudayaannya.

Dalam Der Judenstaat, Herzl menandaskan: “…kami adalah sebuah bangsa… sebuah bangsa…” ungkapan ini menggambarkan bahwa gerakan zionisme merupakan sebuah gerakan yang berlandaskan pada politik identitas bukan sebuah gerakan agama.  Tetapi dinamika politik berjalan mengarah pada penggunaan agama sebagai sarana untuk menguatkan politik identitas itu.

Akhirnya antara pemahaman agama dan tujuan untuk menguatkan identitas terjadi saling mengisi dan saling menguatkan. Hal itu dibuktikan dengan semakin kuatnya dukungan para agamawan Yahudi untuk mendukung Gerakan Zionisme yang di antaranya diekspresikan dalam suatu deklarasi yang kemudian popular dengan Deklarasi Balfour.

Arthur James Balfour (1848-1930 M) yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Inggris (11 Juli 1902 – 5 Desember 1905) merupakan pendukung kuat ideologi Zionisme dari kalangan non Yahudi. Atas desakan kaum Zionis Yahudi, ketika menjabat, ia menulis perjanjian rahasia untuk mendukung kaum Yahudi Kembali ke Palestina dengan syarat jika terjadi perang antara blok Inggris dan blok Turki Usmani, kaum Yahudi harus mendukung dana perang Inggris.

Karena saat itu Palestina di bawah kekuasaan Turki Usmani yang jika negara ini menang, maka mustahil kaum Yahudi bisa Kembali ke Palestina. Ketika Perang Dunia I pecah, sesuai perjanjian, kaum Yahudi mendukung Inggris, yang pada 1917 tanta-tanda kekalahan Turki Usmani sudah bisa diprediksi. Saat itulah surat rahasia Balfour yang akan mendukung kembalinya kaum Yahudi ke Palestina disiarkan ke Publik. Surat itulah yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Balfour.

Surat itu merupakan perjanjian yang merujuk kepada permintaan seorang Yahudi Inggris bernama Chaim Weizmann (1949-1952 M) yang menginginkan sebuah “rumah” untuk seluruh umat Yahudi. Perdana Menteri Inggris, David Lloyd George (1863-1945 M) harus memenuhinya sebagai konsekuensi perjanjian Balfour di atas. Sebelumnya, ia sempat menawarkan wilayah Uganda di Afrika untuk ditempati umat Yahudi.

Tawaran ini ditolak dan justru menyebutkan bahwa dia menginginkan Palestina. Perjanjian Sykes-Picot yang membuat Palestina berpindah tangan dari Turki Usmani ke Inggris membuat Chaim Weizmann berani untuk menolak tawaran itu. Akhirnya Balfour dan David L. George menuruti permintaan Weizmann, meski hal ini perlu dibicarakan kembali dengan para pemimpin Inggris lainnya.

Akhirnya kabinet Inggris menyatakan: bahwa Zionisme adalah salah satu sarana untuk memperkuat imperialisme Inggris di negara-negara Timur Tengah. Jasa Weizmann terbesar bagi Inggris adalah ia menemukan formula baru untuk persenjataan Inggris, yang popular dengan aseton, suatu senyawa untuk menghasilkan cordite, bahan eksplosif yang diperlukan guna mendorong kecepatan gerak peluru. Tanpa cordite ini, kemungkinan Inggris akan kalah dalam Perang Dunia I.

Dengan temuan Weizmann, aseton dapat diperbanyak. Untuk itulah perwira militer Inggris Winston Churcill (1874-1965 M) memanggil Weizmann ke Markas Besar Panglima lalu memintanya untuk menyiapkan 30.000 aseton. Weizmann siap melaksanakan perintah. Hal inilah yang membuat Wiezmann semakin penting bagi kemenangan Inggris. Oleh karena itu, David L. George langsung memikirkan reward yang layak untuk membalas jasa besar Weizmann ini.

April 1917, Amerika mengumumkan perang melawan Jerman. Perang ini dipicu oleh serangan Jerman ke 7 kapal dagang Amerika. Mendengar hal ini, Inggris khawatir bahwa Jerman akan berusaha mengambil simpati banyak pihak termasuk kaum Yahudi Inggris. Inilah alasan lain mengapa Inggris, menuruti permintaan Chaim Weizmann, yaitu demi mencegah Jerman mendapatkan simpati dari orang-orang Yahudi.

Oleh karena itu, Inggris pada 31 Oktober 1917 melakukan rapat kabinet. Awalnya, tidak semua anggota kabinet setuju terhadap rencana Inggris mendukung Zionisme. Lord Curzon (1859-1925 M), mantan Gubernur Jenderal Inggris di India, pada awalnya mempertanyakan hal ini. Begitu pula Edwin Montagu (1879-1924 M), Menteri Negara urusan India yang beretnik Yahudi, meyakini bahwa Zionisme justru akan membangkitkan anti-Semitisme. Penolakan lain juga ditujukan oleh tokoh Yahudi non-Zionis lainnya, seperti Claude Joseph Goldsmid Montefiore (1858-1938 M) yang merupakan keturunan Moses Hess (1812-1875 M), pendiri Zionisme kaum buruh di Prancis.

Imam Ghazali Said, Guru Besar Ilmu Sejarah Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Selengkapnya baca di I
2121 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Bhinneka Tunggal Ika

Insight Pemikiran Habermas dalam Dinamika Politik Indonesia

3 Mins read
Filsuf Jerman paling signifikan pada paruh kedua abad ke-20, Jurgen Hebermas, lahir di Usseldorf, Jerman, pada tanggal 18 Juni 1929. Salah satu…
Bhinneka Tunggal Ika

Menelisik Liberalisme Globalisasi dalam Kacamata Kebhinekaan

5 Mins read
Globalisasi memiliki dampak penting dalam era perkembangan peradaban manusia, karena hampir dari setiap titik geografis dimuka bumi dan hidup jutaan orang mengalami…
Bhinneka Tunggal Ika

Menjaga NKRI Melalui Pelestarian Kemajemukannya

3 Mins read
Apa yang Anda tangkap dengan usaha serius seorang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam menjaga keutuhan Indonesia? Ketika menjabat sebagai Presiden Republik…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *