Jaga Pilar

Omar Mukhtar: Sang Pejuang Bergelar The Lion of the Desert

2 Mins read
Omar Mukhtar lebih memilih mati di medan laga, ketimbang hidup hina di bawah kaki penjajah, sebab hidup adalah perjuangan

Usia tak lagi muda. Ketika banyak orang yang mungkin lebih  memilih pensiun, pergi mengasingkan diri di suatu tempat yang nyaman, jauh dari hiruk pikuk, atau hidup tenang bersama anak-cucu.

Tetapi tidak dengan Omar Mukhtar. Di usia 73 tahun, ia lebih memilih memimpin perlawanan rakyat Libya untuk mengusir penjajah Italia atas tanah kelahiran mereka.

Nama lengkapnya Omar al-Mukhṭār Muḥammad bin Farḥāṭ al-Manifī (20 Agustus 1858 – 16 September 1931),  seorang pemimpin pejuang pribumi di Cyrenaica (saat ini Libya Timur ) di bawah Senussids.

Omar Mukhtar adalah seorang guru, juga merupakan tokoh terkemuka gerakan Senussi. Ia seorang pahlawan nasional Libya dan simbol perlawanan didunia Arab dan Islam.

Sejak tahun 1911, dia mengorganisir dan, selama hampir dua puluh tahun, memimpin gerakan perlawanan Libya melawan kekaisaran kolonial Italia selama Perang Italo-Senussi Pertama dan Kedua.

Lelaki tua itu dijuluki “Lion of the Desert” (Singa Padang Pasir), sosok yang membuat tentara Italia kewalahan.

Benito Mussolini dibuat frustasi. Tentara Mereka di lapangan dibuat ciut nyali.

Rezim Italia kemudian berpikir, mungkin bukan dengan jalan kekerasan, lelaki tua yang bekerja sebagai guru ngaji ini bisa ditaklukan. Strategi membungkam perlawanan pun dilakukan.

Dengan tujuan menghentikan perlawanan, bujuk rayu harta pun ditawarkan. Tapi semua itu tak mempan.

Omar Mukhtar terus melakukan perlawanan tanpa henti selama 20 tahun, dari tahun 1910-1930. Hingga akhirnya para jenderal militer Italia pun silih berganti.

Di rentang usianya yang semakin tua, 73 tahun,  Omar Mukhtar tertangkap. Kemudian petinggi militer Italia yang dikenal berhati bengis, Jenderal Graziani, menghampirinya di ruang interogasi.

“Tuan Omar, apa Anda tidak tahu siapa yang Anda lawan? Kami ini punya pasukan yang terlatih, alat tempur yang modern dan canggih, dan logistik yang melimpah ruah. Kami pasti menang melawan kalian. Lalu mengapa kalian terus melakukan perlawanan?”

Dengan penuh wibawa, Omar Mukhtar menjawab kesombongan Jenderal Graziani, “Ya, kami tahu itu semua. Tetapi yang penting bagi kami adalah melakukan perlawanan, ya perlawanan!”

Omar Mukhtar kemudian dihadapkan ke tiang gantungan. Tangannya terborgol, tetapi kepalanya tegak.

Pandangan matanya tak menunjukan rasa takut sedikit pun, bahkan menghujam ke depan.  Kepada Jenderal Graziani, mujahid berusia 73 tahun itu mengatakan, “namaku akan jauh lebih panjang dari umur para algojomu!”

Setelah itu ia syahid di tiang gantungan.

Hidup adalah perjuangan

Omar Mukhtar adalah cermin dari sikap seorang pejuang yang tidak mau tunduk pada penindasan dan kezaliman. Ia bisa saja memilih sikap tak peduli, toh untuk apa melakukan perlawanan di usia senja?

Ia bisa saja memilih sikap pesimis, melihat kekuatan musuh yang begitu besar.

Tetapi sikap itu bukan pilihan seorang pejuang. Karena sikap pengecut itu bukan saja mereka yang lari tunggang langgang dari medan pertempuran, tetapi mereka yang memiki mental penakut sebelum turun ke gelanggang.

Terkadang bukan karena musuh itu lebih kuat dari kita, lalu kita dapat ditaklukan, tetapi karena mental kita yang lemah dan pesimis dalam berjuang.

Karena itu, Omar Mukhtar lebih memilih mati di medan laga, ketimbang hidup hina di bawah kaki penjajah. Kematiannya memberikan pesan, bahwa hidup adalah perjuangan dan keberanian  tak akan dimiliki oleh mereka yang mencintai kemewahan!

Panjang umur perjuangan!*

Arta Abu Azzampenulis buku-buku sejarah

2121 posts

About author
Pilarkebangsaan.com adalah media yang menfokuskan diri pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan kenegaraan
Articles
Related posts
Jaga Pilar

Kemanan Cyber sebagai Upaya Melindungi NKRI

2 Mins read
Keamanan cyber, juga dikenal sebagai keamanan siber, adalah upaya untuk melindungi sistem komputer dan jaringan dari berbagai ancaman atau akses ilegal. Keamanan…
Jaga Pilar

Menilik Matinya Kritisisme: Tantangan Kebangsaan Terkini

3 Mins read
Kesadaran manusia sebagai makhluk berkesadaran rupanya tidak banyak disadari oleh manusia, dengan kata lain hanya sedikit dari mereka yang sadar sebagai makhluk…
Jaga Pilar

Ironi Kebangsaan: Saudi Menuju Moderasi, NKRI Menuju Wahabisasi

3 Mins read
Kelompok Wahabi tak henti-hentinya menjadi perbincangan publik dan menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat Indonesia. Wahabi merupakan aliran pemikiran Islam yang berpegang teguh…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *